Indonesianto 07

Yoyok Putra Muria

PRA SEJARAH INDONESIA 2

CIRI – CIRI ZAMAN PRASEJARAH INDONESIA

(EDISI REVISI : 1)

ZAMAN BATU zaman ini terbagi menjadi 4 zaman yaitu :

i. Palaeolithikum (Zaman Batu Tua),

Pada zaman ini alat-alat terbuat dari batu yang masih kasar dan belum dihaluskan. Contoh alat-alat tsb adalah :
• Kapak Genggam, banyak ditemukan di daerah Pacitan. Alat ini biasanya disebut “Chopper” (alat penetak/pemotong)
• Alat-alat dari tulang binatang atau tanduk rusa : alat penusuk (belati), ujung tombak bergerigi
• Flakes, yaitu alat-alat kecil yang terbuat dari batu Chalcedon,yang dapat digunakan untuk mengupas makanan.
Alat-alat dari tulang dan Flakes, termasuk hasil kebudayaan Ngandong. Kegunaan alat-alat ini pada umumnya untuk : berburu, menangkap ikan, mengumpulkan ubi dan buah-buahan.
• Berdasarkan daerah penemuannya maka alat-alat kebudayaan Paleolithikum tersebut dapat dikelompokan menjadi :
• Kebudayaan Pacitan dan Ngandong
Manusia pendukung kebudayaan
• Pacitan : Pithecanthropus dan
• Ngandong : Homo Wajakensis dan Homo soloensis.

sej101_05.gif

gb1. jenis alat batu pada jaman Batu Tua

ii. Mesolithikum (Zaman Batu Tengah)

Ciri zaman Mesolithikum :
• Alat-alat pada zaman ini hampir sama dengan zaman Palaeolithikum.
• Ditemukannya bukit-bukit kerang dipinggir pantai yang disebut “kjoken modinger” (sampah dapur) Kjoken =dapur, moding = sampah)
• Alat-alat zaman Mesolithikum :
• Kapak genggam (peble)
• Kapak pendek (hache Courte)
• Pipisan (batu-batu penggiling)
• Kapak-kapak tersebut terbuat dari batu kali yang dibelah
• Alat-alat di atas banyak ditemukan di daerah Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Flores
• Alat-alat Kebudayaan Mesolithikum yang ditemukan di gua-gua yang disebut “Abris Sous Roche ” Adapun alat-alat tersebut adalah :
• Flaces (alat serpih) , yaitu alat-alat kecil yang terbuat dari batu dan berguna untuk mengupas makanan.
• Ujung mata panah,
• batu penggilingan (pipisan),
• kapak,
• alat-alat dari tulang dan tanduk rusa,
• Alat-alat ini ditemukan di gua lawa Sampung Jawa Timur (Istilahnya : Sampung Bone Culture = kebudayaan Sampung terbuat dari Tulang)

Tiga bagian penting Kebudayaan Mesolithikum,yaitu :
• Peble-Culture (alat kebudayaan Kapak genggam) didapatkan di Kjokken Modinger
• Bone-Culture (alat kebudayaan dari Tulang)
• Flakes Culture (kebudayaan alat serpih) didapatkan di Abris sous Roche
• Manusia Pendukung Kebudayaan Mesolithikum adalah bangsa Papua -Melanosoid

sej101_11.gif

gb2. Alat pada jaman Batu Tengah

iii. Neolithikum (Zaman Batu Muda)

Pada zaman ini alat-alat terbuat dari batu yang sudah dihaluskan.
Contoh alat tersebut :
• Kapak Persegi, misalnya : Beliung, Pacul dan Torah untuk mengerjakan kayu. Ditemukan di Sumatera, Jawa, bali, Nusatenggara, Maluku, Sulawesi dan Kalimantan
• Kapak Bahu, sama seperti kapak persegi ,hanya di bagian yang diikatkan pada tangkainya diberi leher. Hanya di temukan di Minahasa
• Kapak Lonjong, banyak ditemukan di Irian, Seram, Gorong, Tanimbar, Leti, Minahasa dan Serawak
• Perhiasan ( gelang dan kalung dari batu indah), ditemukan di jAwa
• Pakaian (dari kulit kayu)
• Tembikar (periuk belanga), ditemukan di daerah Sumatera, Jawa, Melolo(Sumba)
• Manusia pendukung Kebudayaan Neolithikum adalah bangsa Austronesia (Austria) dan Austro-Asia (Khmer –Indochina)

sej101_13.gif

Gb3. Alat jaman Batu Muda

iv. Megalithikum (Zaman Batu Besar )

Hasil kebudayaan zaman Megalithikum adalah sebagai berikut :
• Menhir , adalah tugu batu yang didirikan sebagai tempat pemujaan untuk memperingati arwah nenek moyang
• Dolmen, adalah meja batu, merupakan tempat sesaji dan pemujaan kepada roh nenek moyang, Adapu;a yang digunakan untuk kuburan
• Sarchopagus atau keranda, bentuknya seperti lesung yang mempunyai tutup
• Kubur batu/peti mati yang terbuat dari batu besar yang masing-masing papan batunya lepas satu sama lain
• Punden berundak-undak, bangunan tempat pemujaan yang tersusun bertingkat-tingkat

ZAMAN LOGAM

zaman ini terbagi menjadi 2 zaman yaitu :

1. Zaman Perunggu
Hasil kebudayaan perunggu yang ditemukan di Indonesia adalah :
• Kapak Corong (Kapak Perunggu), banyak ditemukan di Sumatera Selatan, Jawa, Balio, Sulawesi dan Kepulauan Selayar dan Irian.Kegunaannya sebagi alat perkakas.
• Nekara perunggu(Moko), bebrbentuk seperti dandang. Banyak ditemukan di daerah : Sumatera, Jawa Bali, Sumbawa, Roti, Leti, Selayar dan Kep. Kei. Kegunaan untuk acara keagamaan dan maskawin.
• Bejana Perunggu, bentuknya mirip gitar Spanyol tetapi tanpa tangkai. Hanya ditemukan di Madura dan Sumatera
• Arca-arca Perunggu, banyak ditemukan di Bangkinang(Riau), Lumajang (Jatim) dan Bogor (Jabar)
• Perhiasan : gelang, anting-anting, kalung dan cincin.
Kebudayaan Perunggu sering disebut juga sebagi kebudayaan Dongson-Tonkin Cina karena disanalah Pusat Kebudayaan Perunggu.

2. Zaman Besi
Pada masa ini manusia telah dapat melebur besi untuk dituang menjadi alat-alat yang dibutuhkan, pada masa ini di Indonesia tidak banyak ditemukan alat-alat yang terbuat dari besi.
Alat-alat yang ditemukan adalah :
• Mata kapak, yang dikaitkan pada tangkai dari kayu, berfungsi untuk membelah kayu
• Mata Sabit, digunakan untuk menyabit tumbuh-tumbuhan
• Mata pisau
• Mata pedang
• Cangkul, dll
Jenis-jenis benda tersebut banyak ditemukan di Gunung Kidul(Yogyakarta), Bogor, Besuki dan Punung (Jawa Timur)

2. KEHIDUPAN MASYARAKAT PRASEJARAH

FOOD GATHERING
Ciri zaman ini adalah :
• Mata pencaharian berburu dan mengumpulkan makanan
• Nomaden, yaitu Hidup berpindah-pindah dan belum menetap
• Tempat tinggalnya : gua-gua
• Alat-alat yang digunakan terbuat dari batu kali yang masih kasar, tulang dan tanduk rusa
• Zaman ini hampir bersamaan dengan zaman batu tua (Palaeolithikum) dan Zaman batu tengah (Mesolithikum)

FOOD PRODUCING
• Ciri zaman ini adalah :
• Telah mulai menetap
• Pandai membuat rumah sebagi tempat tinggal
• Cara menghasilkan makanan dengan bercocok tanam atau berhuma
• Mulai terbentuk kelompok-kelompok masyarakat
• Alat-alat terbuat dari kayu, tanduk, tulang, bambu ,tanah liat dan batu
• Alat-alatnya sudah diupam/diasah

Zaman bercocok tanam ini bersamaan dengan zaman Neolithikum (zaman batu muda) dan Zaman Megalithikum (zaman batu besar)

ZAMAN PERUNDAGIAN

• Manusia telah pandai membuat alat-alat dari logam dengan keterampilandan keahlian khusus
• Teknik pembuatan benda dari logam disebut a cire perdue yaitu, dibuat model cetakannya dulu dari lilin yang ditutup dengan tanah liat kemudian dipanaskan sehingga lilinya mencair. Setelah itu dituangkan logamnya.
• Tingkat perekonomian masyarakat telah mencapai kemakmuran
• Sudah mengenal bersawah
• Alat-alat yang dihasilkan : kapak corong, nekara,pisau, tajak dan alat pertanian dari logam
• Telah mencapai taraf perkembangan sosial ekonomi yang mantap

MANUSIA PURBA DI INDONESIA

Penelitian manusia purba di Indonesia dilakukan oleh :
1. Eugena Dobois,
Dia adalah yang pertama kali tertarik meneliti manusia purba di Indonesia setelah mendapat kiriman sebuah tengkorak dari B.D Von Reitschoten yang menemukan tengkorak di Wajak, Tulung Agung.
• Fosil itu dinamai Homo Wajakensis, termasuk dalam jenis Homo Sapien (manusia yang sudah berpikir maju)
• Fosil lain yang ditemukan adalah :
Pithecanthropus Erectus (phitecos = kera, Antropus Manusia, Erectus berjalan tegak) ditemukan di daerah Trinil, pinggir Bengawan Solo, dekat Ngawi, tahun 1891. Penemuan ini sangat menggemparkan dunia ilmu pengetahuan.
• Pithecanthropus Majokertensis, ditemukan di daerah Mojokerto
• Pithecanthropus Soloensis, ditemukan di daerah Solo

sej101_20.gif

Peta : Daerah penemuan Fosil di wilayah Jawa Tengah dan jawa Timur

2. G.H.R Von Koeningswald
Hasil penemuan beliau adalah : Fosil tengkorak di Ngandong, Blora. Tahun 1936, ditemukan tengkorak anak di Perning, Mojokerto. Tahun 1937 – 1941 ditemukan tengkorak tulang dan rahang Homo Erectus dan Meganthropus Paleojavanicus di Sangiran, Solo.
3. Penemuan lain tentang manusia Purba :
Ditemukan tengkorak, rahang, tulang pinggul dan tulang paha manusia Meganthropus, Homo Erectus dan Homo Sapien di lokasi Sangiran, Sambung Macan (Sragen),Trinil, Ngandong dan Patiayam (kudus).
4. Penelitian tentang manusia Purba oleh bangsa Indonesia dimulai pada tahun 1952 yang dipimpin oleh Prof. DR. T. Jacob dari UGM, di daerah Sangiran dan sepanjang aliran Bengawan Solo.
Fosil Manusia Purba yang ditemukan di Asia, Eropa, dan Australia adalah :
• Semuanya jenis Homo yang sudah maju : Serawak (Malaysia Timur), Tabon (Filipina), dan Cina.
• Fosil yang ditemukan di Cina oleh Dr. Davidson Black, dinamai Sinanthropus Pekinensis.
• Fosil yang ditemukan di Neanderthal, dekat Duseldorf, Jerman yang dinamai Homo Neaderthalensis.

sej101_04.gif

Gb4. Fosil

• Menurut Dobois, bangsa asli Australia termasuk Homo Wajakensis, sehingga ia berkesimpulan Homo Wajakensis termasuk golongan bangsa Australoid.
Jenis-jenis Manusia Purba yang ditemukan di Indonesia ada tiga jenis :
1. Meganthropus
2. Pithecanthropus
3. Homo

sej101_19.gif

Gb 5. Jenis manusia Purba Pithecanthropus

Ciri-ciri manusia purba yang ditemukan di Indonesia :
1. Ciri Meganthropus :
• Hidup antara 2 s/d 1 juta tahun yang lalu
• Badannya tegak
• Hidup mengumpulkan makanan
• Makanannya tumnuhan
• Rahangnya kuat
2. Ciri Pithecanthropus :
• Hidup antara 2 s/d 1 juta tahun yang lalu
• Hidup berkelompok
• Hidungnya lebar dengan tulang pipi yang kuat dan menonjol
• Mengumpulkan makanan dan berburu
• Makanannya daging dan tumbuhan
3. Ciri jenis Homo :
• Hidup antara 25.000 s/d 40.000 tahun yang lalu
• Muka dan hidung lebar
• Dahi masih menonjol
• Tarap kehidupannya lebih maju dibanding manusia sebelumnya

CORAK KEHIDUPAN PRASEJARAH INDONESIA DAN HASIL BUDAYANYA

Hasil kebudayaan manusia prasejarah untuk mempertahankan dan memperbaiki pola hidupnya menghasilkan dua bentuk budaya yaitu :
• Bentuk budaya yang bersifat Spiritual
• Bentuk budaya yang bersifat Material

i. Masyarakat Prasejarah mempunyai kepercayaan pada kekuatan gaib yaitu :

• Dinamisme, yaitu kepercayaan terhadap benda-benda yang dianggap mempunyai kekuatan gaib. Misalnya : batu, keris
• Animisme, yaitu kepercayaan terhadap roh nenek moyang mereka yang bersemayam dalam batu-batu besar, gunung, pohon besar. Roh tersebut dinamakan Hyang.

ii. Pola kehidupan manusia prasejarah adalah :

• Bersifat Nomaden (hidup berpindah-pindah), yaitu pola kehidupannya belum menetap dan berkelompok di suatu tempat serta, mata pencahariannya berburu dan masih mengumpulkan makanan
• Bersifat Permanen (menetap), yaitu pola kehidupannya sudah terorganisir dan berkelompok serta menetap di suatu tempat, mata pencahariannya bercocok tanam. Muali mengenal norma adat, yang bersumber pada kebiasaan-kebiasaan

iii. Sistem bercocok tanam/pertanian

• Mereka mulai menggunakan pacul dan bajak sebagai alat bercocok tanam
• Menggunakan hewan sapi dan kerbau untuk membajak sawah
• Sistem huma untuk menanam padi
• Belum dikenal sistem pemupukan

iv. Pelayaran
Dalam pelayaran manusia prasejarah sudah mengenal arah mata angin dan mengetahui posisi bintang sebagai penentu arah (kompas)

v. Bahasa

• Menurut hasil penelitian Prof. Dr. H. Kern, bahasa yang digunakan termasuk rumpun bahasa Austronesia yaitu : bahasa Indonesia, Polinesia, Melanesia, dan Mikronesia.
• Terjadinya perbedaan bahasa antar daerah karena pengaruh faktor geografis dan perkembangan bahasa.

sej106_08_2.gif

Jenis Bangsa Prasejarah Indonesia

Dengan adanya migrasi/perpindahan bangsa dari daratan Asia ke Indonesia, maka pada zaman prasejarah di Kepulauan Indonesia ternyata sudah dihuni oleh berbagai bangsa yang terdiri dari:Bangsa Melanisia/Papua Melanosoide yang merupakan Ras Negroid memiliki ciri-ciri antara lain: kulit kehitam-hitaman, badan kekar, rambut keriting, mulut lebar dan hidung mancung. Bangsa ini sampai sekarang masih terdapat sisa-sisa keturunannya seperti Suku Sakai/Siak di Riau, dan suku-suku bangsa Papua Melanosoide yang mendiami Pulau Irian dan pulau-pulau Melanesia.Bangsa Melayu Tua/Proto Melayu yang merupakan ras Malayan Mongoloid memiliki ciri-ciri antara lain: Kulit sawo matang, rambut lurus, badan tinggi ramping, bentuk mulut dan hidung sedang. Yang termasuk keturunan bangsa ini adalah Suku Toraja (Sulawesi Selatan), Suku Sasak (Pulau Lombok), Suku Dayak (Kalimantan Tengah), Suku Nias (Pantai Barat Sumatera) dan Suku Batak (Sumatera Utara) serta Suku Kubu (Sumatera Selatan).Bangsa Melayu Muda/Deutro Melayu yang merupakan rasa Malayan Mongoloid sama dengan bangsa Melayu Tua, sehingga memiliki ciri-ciri yang sama. Bangsa ini berkembang menjadi Suku Aceh, Minangkabau (Sumatera Barat), Suku Jawa, Suku Bali, Suku Bugis dan Makasar di Sulawesi dan sebagainya.

Demikianlah uraian materi tentang jenis bangsa prasejarah Indonesia.

 

30 Januari 2008 Ditulis oleh Yoyok Putra Muria | SEJARAH | | & Komentar

Pra Sejarah

PRASEJARAH INDONESIA

(EDISI REVISI : 1)

Pengertian Tentang Waktu

Waktu tentu bukanlah sesuatu yang asing bagi Anda! Karena dalam kehidupan sehari-hari setiap orang selalu dibatasi oleh waktu. Apakah Anda mengetahui definisi tentang waktu?

Waktu (time) merupakan salah satu konsep dasar sejarah selain ruang (space), kegiatan manusia (human activity). Perubahan (change) dan kesinambungan (continuity). Ia merupakan unsur penting dari sejarah yaitu kejadian masa lalu. Dengan kata lain waktu merupakan konstruksi gagasan yang digunakan untuk memberi makna dalam kehidupan di dunia. Manusia tak dapat dilepaskan dari waktu karena perjalanan hidup manusia sama dengan perjalanan waktu itu sendiri.

Tiap masyarakat memilki pandangan yang relatif berbeda tentang waktu yang mereka jalani. Contoh : masyarakat Barat melihat waktu sebagai sebuah garis lurus (linier). Konsep garis lurus tentang waktu diikuti dengan terbentuknya konsep tentang urutan kejadian. Dengan kata lain sejarah manusia dilihat sebagai sebuah proses perjalanan dalam sebuah garis waktu sejak zaman dulu, zaman sekarang dan zaman yang akan datang.

sej101_021.gif

Berbeda dengan masyarakat Barat, masysrakat Hindu melihat waktu sebagai sebuah siklus yang berulang tanpa akhir.

Dari perjalanan di atas tentang waktu, khususnya konsep waktu yang lurus, masa lalu perkembangan sejarah manusia akan mempengaruhi perkembangan masyarakat masa kini dan masa yang akan datang.

Agar waktu dalam setiap peristiwa atau kejadian dapat dipahami, maka sejarah membuat pembabakan waktu atau periodisasi. Maksud periodisasi ini adalah agar babak waktu itu menjadi jelas ciri-cirinya. Contohnya sejarah Eropa dapat dibagi ke dalam 3 periode yaitu zaman klasik/kuno, zaman pertengahan dan zaman modern.

Sebenarnya ada istilah lain untuk menamakan zaman prasejarah yaitu zaman Nirleka, Nir artinya tidak ada dan leka artinya tulisan, jadi zaman Nirleka zaman tidak adanya tulisan. Batas antara zaman prasejarah dengan zaman sejarah adalah mulai adanya tulisan. Hal ini menimbulkan suatu pengertian bahwa prasejarah adalah zaman sebelum ditemukannya tulisan, sedangkan sejarah adalah zaman setelah adanya tulisan. Berakhirnya zaman prasejarah atau dimulainya zaman sejarah untuk setiap bangsa di dunia tidak sama tergantung dari peradaban bangsa tersebut. Salah satu contoh yaitu bangsa Mesir + tahun 4000 SM masyarakatnya sudah mengenal tulisan, sehingga + tahun 4000 bangsa Mesir sudah memasuki zaman sejarah. Dari penjelasan di atas, apakah Anda sudah paham? Kalau Anda sudah memahami, tentu Anda sudah mempunyai gambaran tentang sejarah Indonesia.

sej101_03.gif

Sumber-sumber Prasejarah

Fosil adalah sisa-sisa makhluk hidup yang telah membatu karena adanya proses kimiawi. Fosil merupakan peninggalan masa lampau yang sudah tertanam ratusan peninggalan masa lampau yang sudah tertanam ratusan bahkan ribuan tahun di dalam tanah.

sej101_041.gif

Contoh : gambar fosil

Sumber-sumber Sejarah Peristiwa masa lalu dapat diketahui secara lengkap dan mendekati kebenaran adanya sumber-sumber yang beranekaragam. Ditinjau dari wujudnya, maka sumber sejarah dapat dibagi lagi menjadi 4, yaitu:

Sumber lisan adalah sumber sejarah yang berupa keterangan dari seseorang atau beberapa orang yang menyaksikan langsung atau mengalami langsung suatu peristiwa.

Sumber tertulis adalah sumber sejarah yang berupa keterangan tertulis mengenai suatu peristiwa/kejadian misalnya data, dokumen, babad prasasti, naskah kuno, buku, dan sebagainya.

Sumber benda adalah sumber sejarah yang berupa benda-benda peninggalan budaya atau la zim dinamakan benda purbakala, misalnya: candi, senjata, gedung, dan sebagainya.

Sumber audio visual adalah sumber sejarah yang merupakan hasil rekaman media elektronika, misalnya: kaset video, film, tape recorder, dan lain-lain.

Ilmu Bantu Prasejarah

Dalam mempelajari zaman prasejarah, belum ditemukan bukti-bukti tertulis, maka untuk mengetahui peristiwa atau kejadian pada masa tersebut, para ahli melakukan hal-hal sebagai berikut:

1. Ekskavasi, melakukan penggalian untuk menemukan peninggalan budaya yang kebanyakan tertanam di dalam tanah.

2. Mempelajari kehidupan suku-suku terasing yang sekarang masih hidup seperti yang tinggal di daerah-daerah pedalaman. Hal ini dilakukan karena, dengan mempelajari alat yang digunakan suku terasing/suku primitif tersebut, sehingga dapat memberikan pengertian tentang kehidupan dan kebudayaan manusia di zaman prasejarah.

Untuk melakukan hal tersebut di atas, harus bekerjasama dengan disiplin ilmu yang lain antara lain:

1. Arkeologi adalah ilmu yang mempelajari kehidupan masa lampau melalui artefak.

2. Geologi adalah ilmu yang mempelajari bumi secara keseluruhan.

3. Paleontologi adalah ilmu yang mempelajari tentang fosil.

PEMBABAKAN ZAMAN PRASEJARAH

Pembabakan Zaman Prasejarah berdasarkan Geologi Geologi adalah ilmu yang mempelajari bumi secara keseluruhan. Berdasarkan geologi, terjadinya bumi sampai sekarang dibagi ke dalam empat zaman. Zaman-zaman tersebut merupakan periodisasi atau pembabakan prasejarah yang terdiri dari:

a. ARKAEKUM / zaman tertua Zaman ini berlangsung kira-kira 2500 juta tahun, pada saat itu kulit bumi masih panas, sehingga tidak ada kehidupan. Dari penjelasan ini tentu Anda ingin bertanya kapan muncul kehidupan? Untuk itu simak uraian berikutnya.

b. PALEOZOIKUM / zaman primer atau zaman hidup tua Zaman ini berlangsung 340 juta tahun. Makhluk hidup yang muncul pada zaman ini seperti mikro organisme, ikan, ampibi, reptil dan binatang yang tidak bertulang punggung.

sej101_07.gif sej101_08.gif

gambaran kehidupan pada jaman Palaezoikum.

c. MESOZOIKUM/zaman sekunder atau zaman hidup pertengahan Zaman ini berlangsung kira-kira 140 juta tahun. Pada zaman pertengahan ijenis reptil mencapai tingkat yang terbesar seperti gambar 5 sehingga pada zaman ini sering disebut juga dengan zaman reptil. Setelah berakhirnya zaman sekunder ini, maka muncul kehidupan yang lain yaitu jenis burung dan binatang menyusui yang masih rendah sekali tingkatannya. Sedangkan jenis reptilnya mengalami kepunahan. Selanjutnya berlangsunglah zaman hidup baru seperti yang diuraikan pada materi berikut ini.

d. NEOZOIKUM / zaman hidup baru Zaman ini dibedakan menjadi 2 zaman, yaitu: 1.Tersier / zaman ketiga Zaman ini berlangsung sekitar 60 juta tahun. Yang terpenting dari zaman ini ditandai dengan berkembangnya jenis binatang menyusui seperti jenis primat, contohnya kera. 2. Kuartier/zaman keempat Zaman ini ditandai dengan adanya kehidupan manusia sehingga merupakan zaman terpenting. Dan zaman ini dibagi lagi menjadi dua zaman yaitu yang disebut dengan zaman Pleistocen dan Holocen.

Untuk memahami zaman tersebut, maka Anda dapat menyimak pada uraian berikut ini: Zaman Pleitocen/Dilluvium berlangsung kira-kira 600.000 tahun yang ditandai dengan adanya manusia purba. Zaman Holocen/Alluvium berlangsung kira-kira 20.000 tahun yang lalu dan terus berkembang sampai dewasa ini. Pada zaman ini ditandai dengan munculnya manusia jenis Homo Sapiens yang memiliki ciri-ciri seperti manusia sekarang.

sej101_09.gif

Pembabakan Zaman Prasejarah berdasarkan Arkeologi Arkeologi adalah ilmu yang mempelajari kehidupan masa lampau melalui benda-benda artefak. Dari hasil penelitian para ahli arkeologi, maka tabir kehidupan masyarakat prasejarah Indonesia dapat diketahui. Berdasarkan penggalian arkeologi maka prasejarah dapat dibagi menjadi 2 zaman, seperti pada uraian materi berikut ini.

a. Zaman Batu. Zaman batu menunjuk pada suatu periode di mana alat-alat kehidupan manusia umumnya/dominan terbuat dari batu, walaupun ada juga alat-alat tertentu yang terbuat dari kayu dan tulang. Dari alat-alat peninggalan zaman batu tersebut, melalui Metode Tipologi (cara menentukan umur berdasarkan bentuk atau tipe benda peninggalan), maka zaman batu dibedakan lagi menjadi 3 periode/masa, yaitu:

1. Batu Tua/Palaeolithikum Merupakan suatu masa di mana alat-alat hidup terbuat dari batu kasar dan belum diasah/diupam, sehingga bentuknya masih sederhana. Contohnya: kapak genggam.

2. Batu Tengah Madya/Mesolithikum Merupakan masa peralihan di mana cara pembuatan alat-alat kehidupannya lebih baik dan lebih halus dari zaman batu tua. Contohnya: Pebble/Kapak Sumatera.

3. Batu Muda/Neolithikum Merupakan suatu masa di mana alat-alat kehidupan manusia dibuat dari batu yang sudah dihaluskan, serta bentuknya lebih sempurna dari zaman sebelumnya. Contohnya: kapak persegi dan kapak lonjong.

b. Zaman Logam Perlu ditegaskan bahwa dengan dimulainya zaman logam bukan berarti berakhirnya zaman batu, karena pada zaman logampun alat-alat dari batu terus berkembang bahkan sampai sekarang. Sesungguhnya nama zaman logam hanyalah untuk menyatakan bahwa pada zaman tersebut alat-alat dari logam telah dikenal dan dipergunakan secara dominan. Zaman logam disebut juga dengan zaman perundagian.

Perkembangan zaman logam di Indonesia berbeda dengan di Eropa, karena zaman logam di Eropa mengalami 3 fase/bagian, yaitu zaman tembaga, zaman perunggu, dan zaman besi. Sedangkan di Indonesia khususnya dan Asia Tenggara umumnya tidak mengalami zaman tembaga tetapi langsung memasuki zaman perunggu dan besi secara bersamaan. Dan hasil temuan yang lebih dominan adalah alat-alat dari perunggu sehingga zaman logam disebut juga dengan zaman perunggu.

sej101_15.gif

Demikianlah uraian materi pembabakan prasejarah berdasarkan arkeologinya.

Selanjutnya apakah Anda pernah mendengar atau membaca istilah Megalithikum? Megalithikum merupakan suatu istilah kebudayaan batu besar (Mega = besar; Lithos = batu). Kebudayaan Megalithikum bukanlah suatu zaman yang berkembang tersendiri, melainkan suatu hasil budaya yang timbul pada zaman Neolithikum dan berkembang pesat pada zaman logam. Setiap bangunan yang diciptakan oleh masyarakat tentu memiliki fungsi. Untuk mengetahui lebih jelas tentang fungsinya, nanti akan Anda pelajari pada modul berikutnya.

Pembabakan Zaman Prasejarah berdasarkan Ciri-ciri Kehidupan masyarakat Makhluk manusia adalah makhluk yang hidup berkelompok dan mempunyai organisme yang secara biologis berbeda dan lebih lemah dari jenis binatang. Namun otak manusia berevolusi paling jauh bila dibandingkan dengan makhluk lainnya. Kemampuan otak manusia yang berupa proses berpikir menyebabkan manusia dapat memilah-milah tindakan yang dapat menguntungkan kelangsungan hidupnya.

Dalam rangka kelangsungan hidupnya maka manusia merupakan makhluk pembentuk kebudayaan dan manusia juga sebagai pembentuk masyarakat. Karena pada hakekatnya manusia tidak dapat hidup sendiri tetapi harus berkelompok.

Berikut ini Anda akan mengikuti paparan perkembangan manusia Indonesia yang hidup pada zaman prasejarah. Kehidupan masyarakat (manusia) pada zaman prasejarah terbagi menjadi 3 periode, yaitu:

a. Masa berburu dan mengumpulkan makanan Pada masa ini secara fisik manusia masih terbatas usahanya dalam menghadapi kondisi alam. Tingkat berpikir manusia yang masih rendah menyebabkan hidupnya berpindah-pindah tempat dan menggantungkan hidupnya kepada alam dengan cara berburu dan mengumpulkan makanan.

b. Masa bercocok tanam Pada masa ini kemampuan berpikir manusia mulai berkembang. Sehingga timbul upaya menyiapkan persediaan bahan makanan yang cukup dalam suatu masa tertentu. Dalam upaya tersebut maka manusia bercocok tanam dan tidak lagi tergantung kepada alam.

c. Masa perundagian Pada masa ini masyarakat sudah mengenal teknik-teknik pengolahan logam. Pengolahan logam memerlukan suatu tempat serta keahlian khusus. Tempat untuk mengolah logam dikenal dengan nama perundagian dan orang yang ahli mengerjakannya dikenal dengan sebutan Undagi.

Demikianlah uraian singkat pembabakan prasejarah berdasarkan ciri-ciri kehidupannya.

 

 

 

 

30 Januari 2008 Ditulis oleh Yoyok Putra Muria | SEJARAH | | & Komentar

Halo dunia!

UNEK-2 KU

Aku membaca berbagai berita entah yang sudah berlalu ato yang baru aja terbit, aku jadi bingung dan semakin mumet. Kenapa orang pinter sekolahnya aja dari Perguruan Tinggi Luar Negeri, kadang ngomong bener kadang menjadi mumet aku (entah karena aku bodo pa ya). Kasus orang yang sudah berpulang kerahmatullah banyak di bicarakan bahkan kadang orang yang menguasai ajaran agama (bisa ku anggap tahu benar masalah akhlaq, akidah, sunnah dll) ngomongnya kok sering tidak terkontrol (menurutku ngalor ngidul g karuan, kadang juga arogan,sering tidak arif).

Apa orang yang pinter (jenius, intelektual, katanya dijuluki negarawan dll) juga pinter jadi provokator ato menghasut orang ato menghujat dan memaksa ato minteri orang ya. (KOK BANGGA SIHHHHH ………………… ). Apa klo ngomong tuh g pake dipikir apa dampaknya ato malah ingin sensasi agar terkenal terus, apa klo mengalami masalah yg mungkin spt orang yang meninggal itu trus diperlakukan seperti itu mau ???? Apa dirinya merasa benar tidak ada salahnya. Apa mau jadi pahlawan yang perang dimedan damai, ato ingin dikenang banyak orang sebelum meninggal. Kadang aku juga ngeri dah, udah deket dengan liang lahat aja masih komentar yg bikin gerah bagi orang2 yang pendek nalarnya (bisa jadi sakit ati, iri dan dengki), akhirnya bikin keributan dan onar. Kalo udah begitu apa mau dikenang orang sebagai pahlawan bikin onar. Klo mungkin bisa bikin onar trus bisa memberi solusi bahkan tindakan riil yang bisa membangun seluruh komponen sih g pa2 (cuman pinter omong nggak tahu realita di masyarakat, adakan sensus atau penelitian dulu dong).

Coba kita ulang hal2 yang sudah terjadi di negara kita tercinta ini :

Sejak merdeka 17 Agustus 1945, tokoh2/pemimpin kita udah berjuang untuk menegakkan kemerdekaan dan membentuk, menjalankan pemerintahan. Saat itu banyak gejolak entah berasal dari luar negeri atau dalam negeri. Luar negeri kita harus menyelesaikan masalah dengan Belanda dalam negeri mendirikan pemerintahan dan menghadapi pemberontakan (maaf karena bertentangan dengan pemerintah maka dikatakan pemberontak). Banyak hal2 yg bikin masalah dalam negara kita, jadi pemimpin kita susah untuk menata negara ini, apalagi dengan banyaknya kepentingan kelompok atau golongan yang jumlahnya banyak dan sama2 ingin berkuasa di negara kita tercinta ini, yang notabene pemimpin/kepala negara itu hanya ada satu kursi. Coba bisa kita renungkan satu kursi diperebutkan banyak kelompok, banyak kepentingan. Ya kalo para pemimpin golongan/kelompok ato disebut apa sajalah, itu bisa mengakui kehebatan lawannya (bangsa kita belum bisa loh mengakui orang lain itu hebat) kemudian bareng2 membangun negara itu bagus, tapi kenyataannya nggak. Mungkin pada saat itu harus memilih orang yang bisa menyatukan pendapat dan kepentingan rakyat untuk membangun dan menyelesaikan semua problem. Kalo kita sadar diri sebenarnya manusia akan lebih bisa berfikir dan tenang bila kebutuhan sehari-hari (dalam standar normal ajalah) bisa terpenuhi. Nah sejak 1967 mulailah ekonomi dibangun memang dengan sedikit mengalahkan bidang lain misalnya politik. Kehidupan mulai menampakkan kemajuan pesat bahkan sampe tahun 2000-an.

Coba kita renungkan :

Kehidupan ekonomi di barengi dengan pendidikan untuk mempercepat kemajuan dan stabilitas nasional mulai di garap. Sekolah dibangun dimana2 bahkan untuk menunjang sekolah gratis, dibangunlah sekolah2 baru di tingkat dasar (aku juga masuk dalam program itu) dan sekolah lanjutan sampe di tingkat kecamatan. Kesempatan sekolah ke luar negeri banyak, palagi yang berprestasi dan ber IQ tinggi banyak beasiswa diberikan. Setelah orang2 berkesempatan bisa mengenyam pendidikan seperti itu bahkan ada yang terkontaminasi budaya barat pulang ke Indonesia dan ingin menyusupkan budaya tersebut ke bangsa Indonesia. Tapi mereka tidak ingat bila bangsa ini bukanlah bangsa barat yang siap dengan budaya barat yang dibawanya. Hayooo siapa yang kemudian merongrong pemerintah setelah pinter, bukannya membantu malah merusak. Mau demokrasi ????? pelajari dulu dong karakter bangsa Indonesia baru bikin program untuk dijalankan, jangan sok maksakan kehendaklah. Klo untuk kaum intelektual sih sudah mapan dan tahu, tapi untuk rakyat yang jauh dengan perguruan tinggi, siapkah mereka. Nich aku punya usul berikan dulu pendidikan politik dan paham demokrasi dulu kepada seluruh rakyat dengan memperbaiki pendidikan di semua jenjang, baru bisa jalankan program baru yang diperoleh dari luar negeri yang notabene rakyatnya sudah jauh lebih maju daripada rakyat Indonesia umumnya. 

Kita kaitkan dengan kehidupan bangsa kita saat ini, banyak tokoh/negarawan/politisi (katanya) dengan kepentingannya mengajarkan dan mengajak rakyat untuk berperilaku “menentang” (karena ingin ada revolusi di negara ini). Kejadiannya misalnya Reformasi yang telah meletus, hasil yang kita peroleh apa coba : antara lainnya adalah perubahan dalam pemerintahan, berganti2 pemimpin yang ingin menonjolkan program2nya yang wah. Membebaskan belenggu (katanya) dari pemerintahan yang telah ada, memberikan kebebasan kepada seluruh bangsa dll. Akibat dari itu semua sekarang kita mengalami keterpurukan yang tidak habis2nya karena pencetus dan pemimpin/tokoh2 kita masih belum bisa bersatu dan masih unjuk diri tanpa mau mengakui kelebihan orang lain apalagi dengan lawan politiknya. Salah satu tokoh kita yang getol menjadi pencetus dan mempelopori gerakan reformis dan pernah juga jadi pemeimpin yang tinggi apa yang dihasilkan ???? Memecah belah kesatuan, memberikan contoh untuk anarkhis, bahkan ada yang menjual aset negara yang strategis bahkan sangat menguntungkan negara di masa yang akan datang dan perusahaan negara itu sangat sehat, yang diuntungkan negara lain yang membayar hutang kita karena ingin tetap berkuasa. Ironisnya kelompok yang berkuasa meraup keuntungan dengan mengkaim proyek2 besar berskala nasional, rekanan yang tidak mampu aja dapet proyek ?????? bahkan ironisnya dengan mencatut penguasa para pendukungnya bersikap arogan. Banyak wakil rakyat yang adu otot, mungkin itu yang dimiliki bukan ilmu dan skill untuk membuat program kesejahteraan rakyat, ujung2nya juga urusan perutnya sendiri, pandai2 dalam mengolah anggaran supaya dapet nutup utang sewaktu berpesta saat mencalonkan diri,  (apakah seperti ini wakil rakyat ???? ironisnya sebagian rakyat menirunya dan anarkhislah yang terjadi, coba lihat peristiwa2 yang terjadi banyak yang liar tanpa kendali). Sekarang rakyat yang belum siap dengan propaganda tokoh2 kita banyak yang melakukan hujatan, anarkhis, mencatut nama/kelompok contohnya atas nama rakyat miskin, atas nama mahasiswa, atas nama apa lagi…….. (inikah hasil semua itu), rakyat miskin mana yang diwakili, mahasiswa mana juga yang diwakili. Apa tidak sadar kok bila menggulirkan hal sperti itu akan berdampak pada kehidupan rakyat. Apakah pernah melakukan jajak pendapat ato survey ato penelitian terhadap seluruh rakyat kita ini, apa sebenarnya yang diinginkan.

Kemarin aku liat dan dengar sendiri kata tokoh di salah satu TV Swasta, terkait dg pak Harto, gembira krn pak Harto turun dari jabatan Presiden, kemudian lupa untuk program selanjutnya ….. , MPR/DPR juga harus bubar …… dst. Apa seperti itu menggulingkan seseorang kemudian tidak siap dengan tindak lanjutnya. Apakah negara ini sebagai barang permainan/dolanan (Masya Allah). Kalo pimpinan kita seperti ini apa jadinya negara ini, palagi sudah meracuni generasi dg berbagai perilaku ajaran yang sudah mereka praktekan dan diwarisi (terutama untuk orang2 yg punya kemempuan/prestasi pas-pasan sebagai ajang pelampiasan tanpa tujuan yang benar dan dengan harapan minta belas kasihan). Inikah warisan yang akan diwariskan ke generasi berikut. Maaf rata2 yang demo untuk saat ini menurut aku adalah orang2 yang sakit hati, kecewa, memanfaatkan kesempatan untuk mencari untung  sendiri, minta belas kasihan, iri dengan orang yang mau kerja keras (karena banyak orang kaya karena hasil kerja keras, walaupun aku juga tidak nutup mata ada emang yg kaya karena korupsi, itupun tidak hanya dilakukan semasa pak Harto tapi sampe sekarang di era jaman reformasi, mau liat silakan tokoh2 kita yang anti korupsi turun tangan sendiri ke seluruh wilayah Indonesia). Tidak hanya bisa komentar tanpa tindakan riil, palagi bisanya menghujat, tapi nggak pernah memberikan jalan, solusi, dan tindakan riil kepada lembaga yang berwenang ato anda hanya ingin cari sensasi biar terkenal. Sekali lagi maaf bila kaum intelektual dan berprestasi Akademik ber IQ tinggi demo kok menghujat,menantang dan yang paling trend sekarang adalah demo jadi pekerjaan dan mendapatkan upah (tolong diamati, mungkin klo aku salah), dsb.,(apakah benar yg suka berbuat begitu itu nggak punya prestasi akademik bagus, alias IQ jongkok) apa nggak malu ama rakyat yang hanya tahu cari rejeki gampang, murah sandang pangan, aman dan nyaman tidak ada teror, tidak ada bentrokan antar warga/rakyat, sekolah bisa terjangkau rakyat, pendidikan maju, pemimpin kita bisa memberikan contoh yang baik, wakil kita bisa benar2 jadi wakil tidak hanya kedok belaka dsb. (salah satunya seperti aku, aku akan bersyukur diberi kenyamanan dalam bekerja, maaf aku tidak ada pamrih jadi pemimpin atau mencari sensasi dan aku jalankan berdasarkan ajaran agamaku). Adakalanya demo kok bisanya hanya ngrusak (palagi fasilitas umum yang dibangun dari uang rakyat, dibangun kembali juga pake uang rakyat bukan uangnya pendemo), menurunkan orang dsb. tapi kalo demo yang bisa memberikan data, fakta yang valid (tidak hanya terprovokasi) dll., solusi dan follow up dan membantu pemerintah menuntaskan masalah itu baru aku acungi jempol.

Para pemimpin atau yang mengaku pemimpin cobalah berfikir kembali dan kembalikan pada diri sendiri terlebih dulu sebelum bertindak, korban anda sudah semakin banyak dan semakin memperparah keadaan, pakelah cara2 yang arif bijak dan bertanggungjawab. Ciptakan suasana yang nyaman untuk membangun bangsa ini dan sadarlah bila bangsa Indonesia belum siap dengan missi anda yang terlalu tinggi dan hanya bisa diikuti oleh orang2 yang sejajar dengan anda. Gunakan dan pilih pendekatan yang kondosif untuk mendidik dan pembelajaran untuk rakyat, bila ingin megusut masalah korupsi, kolusi, nepotisme dll, gunakanlah pepatah mengail tanpa membuat airnya keruh, bila banyak ikan yang dikail maka bendunglah supaya semua kolam/laut/sungai tidak bergejolak. KKN di Indonesia sudah menjadi budaya dan mengakar sampe rakyat kecil. (liat contoh : urusan surat2 di desa sdh menjadi tradisi suap menyuap, ingin jadi pegawai, palagi urusan perinjinan, kondisi seperti ini sudah berlangsung lama dan berjalan sampe sekarang, sebagian masyarakat kita sudah mentradisikan seperti ini, maka jangan minta sekejab bisa jadi selesai urusan ini). Sebaiknya yang mengaku pemimpin/tokoh/negarawan peduli bangsa memberikan contoh terlebih dulu.

Kaum intelektual, anda adalah pioner penerus bangsa ini cobalah bertindak yang bisa menarik simpati rakyat kalo ingin jadi pemimpin tunjukan kearifan, keteladanan (kepiawian) dan prestasi akademik serta mampu manjing ajur ajer dalam kehidupan rakyat (baca : Ajaran Ki Hajar Dewantara) dari sekarang, jangan anarkhis, suka menghujat dan mencatut nama/rakyat, karena tidak semuanya bisa mengikuti anda. Bila anda berperilaku demikian maka andapun jadi pimpinan yang suka mencatut, menghujat dsb. rakyat tidak akan mau anda pimpin termasuk aku.

Bagi temen2 dan bangsa Indonesia umumnya coba kita mulai memilih hal2 yang baik untuk keluar dari belenggu kehidupan yang sekarang susah, dengan tidak mudah terprovokasi, lihat karakter dan latar belakang tokoh2/pemimpin kita, missinya, kepentingannya dengan hal2 yang diucapkan, jangan mudah percaya dech kalo tidak dengan data/fakta dan solusi yang harus dilaksanakan. Kita harus dekatkan diri pada sang pencipta dan menjalankan semua ajaran agama yang kita anut, Insya Allah kita akan menjadi orang yang bijak. Sekarang ini kita udah lihat banyak bukti dari politiknya dan  propaganda2 yang telah disampekan, dari wakil kita di lembaga negara yg awalnya muluk2 tapi setelah jadi apa yg kita dapatkan, pelopor kita yang intelektual bagus idenya tapi nyatanya malah mengacak-acak tatanan negara yang sudah mapan (kita lihat masalah otonomi banyak kasus kan malah membuat perselisihan, terror, anarkis), janjinya muluk2 ujung2nya ingin jadi pimpinan untuk dirinya dan kelompoknya, kita rakyat biasa jadi korban permainan politiknya karena kita termakan politiknya. Yuukkk……….. kita rubah kebiasaan kita jangan terkena/termakan politiknya, tapi gunakan politiknya untuk mempolitiki kepada dia. Masalah HAM, Demokrasi coba kita lihat sepertinya hanya dijadikan kedok untuk menghujat dan mengambil alih pimpinan. Hakekatnya entahhhhhhhhhhhlahhhhhhhhhh. BUKTINYA RIIL dan dampaknya kita rasakan bersama. Kita pilih pemeimpin yang benar2 bisa mensejahterakan dan memikirkan nasib kita dan bisa menjaga keutuhan negara dan rakyat Indonesia tercinta.

Semoga akan muncul tokoh yang arif, bijak, taat menjalankan agama, bertanggungjawab berwawasan, brani mengakui kelebihan orang lain dan menempatkan ditempat yang ia mampu sekalipun itu lawan politiknya,  mampu membawa kita sampe pada tujuan kita bersama, dan salurkan aspirasi dan suaramu kepada orang2 yang benar2 mampu dan mau menjadi wakil kita serta memikirkan nasib kita. Jangan mudah terprovokasi dan iming2 dalam bentuk apapun karena itu adalah tanda ketidakmampuan dalam bersaing secara sehat, bersih dan dapat dipertanggungjawabkan bahkan kalo mungkin dengan kontrak politik yang terlindungi hukum, sehingga kita bisa menuntut bila tidak terpenuhi semua janjinya ato sumpahnya.

COBALAH KITA BERSAMA MENCERAHKAN KEMBALI HAKEKAT KITA SEBAGAI MANUSIA yang ber Tuhan, berbudi luhur dan akhlak mulia, ingat Tuhan sebagai penguasa segalanya. Aminnnnnnn

 

Maaf ini hanyalah luapan isi hatiku yang ingin sekali aku ungkapkan.

——————————————————————————————

Selamat datang di duniaku, Berbagai masalah dan pendapat akan selalu berharga untuk kita cermati dan mengambil kebijaksaan hidup.

29 Januari 2008 Ditulis oleh Yoyok Putra Muria | OPINI | | 1 Komentar

BELA SUNGKAWA

Innalillahi wa’innalillahiroji’un

turut berduka cita atas wafatnya

Bp. H M Suharto

(mantan Presiden RI ke-2)
Semoga arwahnya diterima dan ditempatkan disisi ALLAH SWT atas jasa2nya terhadap bangsa dan negara RI, dan diampuni segala dosa-dosanya, Amin.

RuMaHKu

 

28 Januari 2008 Ditulis oleh Yoyok Putra Muria | Tidak terkategori | | No Comments Yet

ISALAM DI KERAJAAN MATARAM

PENGARUH ISLAM TERHADAP KEHIDUPAN SOSIO KULTURAL DI KERAJAAN MATARAM

 Bangunan-bangunan di Kerajaan Mataram

Kerajaan Mataram selama diperintah oleh empat raja berturut-turut, banyak mendirikan bangunan-bangunan yang berarti bagi kerajaan tersebut. Pembangunan tersebut didirikan dengan seiring gencarnya para raja di kerajaan Mataram melakukan perluasan wilayah yang mencakup hampir seluruh tanah Jawa di bawah kekuatan dan kekuasaan Mataram. Sebagai permulaan adanya pembangunan di tanah Mataram yaitu didirikannya sebuah keraton di suatu wilayah yang bernama Kotagede. Pembangunan tersebut didirikan seiring dengan dijadikannya tanah Mataram sebagai kerajaan kecil atau sebuah kadipaten yang dipimpin oleh seorang petinggi yang bernama Ki Pamanahan. Pada masa pemerintahan raja yang pertama ini selain didirikan sebuah keraton, ia juga mendirikan sebuah masjid yang sederhana yang digunakan untuk beribadah bersama-sama rakyatnya. Karena Ki Pamanahan beserta rakyatnya merupakan pemeluk agama Islam yang taat. Oleh karena Mataram pada masa pemerintahan Ki Pamanahan merupakan kerajaan bawahan Kerajaan Pajang sehingga tidak diketahui dengan pasti bangunan apa saja yang telah didirikan pada masa pemerintahannya. Selain itu sejak masa Ki Pamanahan sudah ada sebuah pemakaman yang terletak di sebelah masjid dan peninggalannya yang masih tampak sampai sekarang ini yaitu hanya masjid dan pemakaman tersebut.

Pengganti Ki Pamanahan yaitu Panembahan Senapati merupakan seorang raja yang gigih dalam menjalankan roda pemerintahan. Pada masa Panembahan Senapati, Mataram resmi disebut sebagai kerajaan merdeka dan berdiri sendiri. Panembahan Senapati merupakan raja merdeka pertama di Kerajaan Mataram. Selain giat melakukan perluasan wilayah, Senopati juga giat mengadakan pembangunan di wilayah kekuasaannya. Pada masa Senapati berkuasa, bangunan yang paling terkenal didirikan yaitu merupakan sebuah benteng pertahanan kerajaam Mataram yang terdiri dari benteng njobo atau benteng kota yang digunakan untuk membentengi kota di Kotagede dan benteng njero atau benteng kraton yaitu benteng pertahanan yang mengelilingi wilayah Kraton Kotagede, dimana bangunan Kraton Mataram dan benteng njero didirikan di dalam kota yang dilelilingi oleh benteng njobo tersebut. Benteng-benteng tersebut terbuat dari batu bata merah dan putih. Pembangunan benteng tersebut merupakan sebuah anjuran dari Sunan Kalijaga dan pembangunan benteng tersebut ditangani oleh seorang Senapati dari Kediri yang merupakan seorang ahli pembangunan. Panembahan Senapati juga merenovasi masjid peninggalan ayahnya yang semula berbentuk sangat sederhana menjadi lebih besar dan sampai sekarang masjid tersebut masih berdiri dengan utuh dan terkenal dengan nama Masjid Mataram Kotagede. Seperti ayahnya, Panembahan Senapati juga kurang banyak mendirikan bangunan di tanah Mataran karena pada masa pemerintahannya ia sangat sibuk melakukan ekspansi dan melepaskan diri dari kekuasaan Pajang.

Raja ketiga yang berkuasa di Mataram yaitu Panembahan Seda Ing Krapyak, ia merupakan putera dari Panembahan Senapati. Berbeda dengan raja-raja sebelumnya dan walaupun masa pemerintahannya termasuk tidak lama tetapi Panembahan Krapyak banyak mendirikan bangunan-bangunan di kerajaan Mataram. Dua tahun setelah menjadi raja yaitu tahun 1603 ia mendirikan sebuah prabayeksa yang dijadikan sebagai tempat tinggalnya. Dua tahun kemudian yaitu pada tahun 1605 ia membangun sebuah taman yang sangat indah di dalam istananya yang dinamakan Danalaya. Taman indah ini menurut cerita dijadikan sebagai tempat tinggal seorang Juru Taman yang berkebangsaan asing yang diceritakan pula penempatan orang asing itu di taman karena ia pernah membuat keonaran di dalam istana dengan cara menyamar sebagai raja. Menurut Serat Kandha, juga adanya pembuatan sebuah kolam di dalam taman yang indah tersebut. Menurut Babad Momana bangunan yang kemudian dibuat lagi yaitu pada tahun 1610 adalah lumbung yang terletak di daerah Gading, tapi diperkirakan lumbung tersebut dibuat tidak hanya satu melainkan beberapa buah lumbung tetapi saat itu Gading merupakan sebuah taman indah yang biasa digunakan raja untuk bercengkerama. Hal tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa dibuatnya lumbung di dalam taman untuk merahasiakan adanya pendirian lumbung tersebut karena lumbung tersebut merupakan tempat penyimpanan bahan makanan untuk berperang.

Di luar benteng kraton dibuat pula sebuah Jagang yaitu semacam parit yang dalam dan lebar yang berguna untuk menjaga keamanan kraton dari serangan musuh. Jagang tersebut dibagi menjadi dua bagian yaitu Jagang Njobo yang terletak di luar benteng njobo atau benteng kota dan Jagang Njero yang terletak di luar benteng njero atau benteng kraton yang mengelilingi Kraton Mataram Kotagede. Selain itu jagang-jagang tersebut juga  berfungsi sebagai penyalur air dari dalam menuju ke luar kraton. Pembangunan yang terakhir didirikan oleh Panembahan Krapyak serta merupakan bangunan yang terkenal di masanya yaitu Krapyak Beringan, bangunan ini didirikan pada tahun 1611. Krapyak Beringan merupakan suatu kawasan untuk berburu raja dan kerabatnya, bahkan diperkirakan kelak raja ini meninggal di tempat itu pula oleh karena itu diberi nama Panembahan Krapyak. Mengenai Krapyak Beringan tidak banyak diketahui kejelasannya.

Setelah masa pemerintahan Panembahan Krapyak berakhir pada tahun 1613, ia digantikan oleh puteranya yaitu Sultan Agung. Seperti yang telah diketahui Sultan Agung merupakan seorang raja yang sangat terkenal bila dibandingkan dengan raja-raja sebelum dan sesudahnya. Pada masa ia berkuasa juga banyak mendirikan bangunan-bangunan baru di Mataram. Adapun sejarah baru bagi Kerajaan Mataram yaitu pada masa Sultan Agung, kraton yang semula terletak di Kotagede dipindahkan di daerah Karta. Babad Momana memuat banyak data tentang tahun 1617 sebagai awal pengukuran tanah untuk pembangunan kraton di Karta, sedangkan pada waktu yang sama juga dilakukan pengukuran tanah di desa Pamutihan untuk kadipaten, tempat kediaman putera mahkota. Diperkirakan pada tahun berikutnya kraton dipindahkan ke Karta. Hal ini dibuktikan pula pada sekitar tahun 1618, ketika orang Pajang atas perintah raja terus-menerus membuat batu. Pada tahun 1620 kraton sama sekali belumlah selesai dibangun tetapi raja telah mendirikan bangunan baru yaitu Prabayeksa. Prabayeksa merupakan rumah pesanggrahan dan merupakan tempat pribadi bagi seorang raja. Prabayeksa ini selalu didirikan berdekatan dengan kraton yang berarti satu wilayah dengan tempat pendiian kraton. Kraton karta menurut cerita mulai ditempati pada tahun 1622 dan Kadipaten putra mahkota baru ditempati pada tahun 1626 M.

Kraton yang terletak di Karta memiliki perbedaan dengan kraton di Kotagede yaitu terletak pada bahan bangunannya. Di Karta kraton tersebut sebagian besar terbuat dari kayu, selain itu Sultan Agung juga memerintahkan pembuatan pagar besar yang terbuat dari kayu jati untuk mengelilingi istananya, hal itu dilakukan pada tahun 1626. Oleh karena itu di Karta sendiri sering kali terjadi kebakaran sehingga bangunan bangunan tersebut sering direnovasi bahkan hingga sekarang ini peningggalan yang masih ada tinggal tiga buah pondasi tiang utama bangunan yang terbuat dari batu yang dinamakan Umpak. Mengenai bahan bangunan di kraton Karta ini dibuktikan dengan kunjungan Jan Vois pada tahun 1624 ke kraton Karta. Ia bercerita sangat teliti tentang kraton Karta. Menurutnya yang menarik perhatian adalah seluruh kompleks bangunan tersebut terbuat dari kayu, dinding-dinding dari batu tidak disebutkan, meski bagian-bagian tertentu ada yang terbuat dari batu seperti lantai dan fondamen di bawah tiang. Bahkan pagar-pagar pemisah dengan alun-alun dibuat dari balok-balok kayu yang berdiri tegak lurus. Hal baru dalam lingkungan kraton Mataram pada tahun 1625, Sultan Agung melengkapi kratonnya dengan pembangunan sebuah tahta raja yang disebut dengan Sitihinggil, yaitu bangunan yang berfungsi sebagai tempat tahta seorang raja. Pembangunan Sitihinggil tersebut banyak mengerahkan tanaga rakyat.

Biasanya kraton mempunyai sebuah kolam yang berada di kawasan istana, oleh karena itu tahun sebelumnya yaitu pada tahun 1620, Sultan Agung memerintahkan membuat kolam di salah satu halaman kraton. Kolam tersebut berfungsi sebagai tempat mandi para wanita raja dan tempat bersenang-senang/bermain-main dengan perahu-perahu kecil. Pada tahun yang sama menurut para tahanan Belanda, raja banyak membangun taman ria di pantai selatan serta taman di sebuah gunung yang digunakan sebagai tempat berburu. Antara tahun 1634-1635 M diberitakan oleh babad Sangkala Sultan Agung membuat sebuah tambak ikan di halaman belakang istananya. Kemudian pada tahun 1643 Babad Sangkala juga memberitakan dibangunnya sebuah bendungan Plered yang kelak nama tersebut dipakai sebagai nama kraton bernama kraton Plered yang merupakan pindahan dari Kraton Karta oleh raja berikutnya.

Selain membuat kraton, Sultan Agung juga membuat bangunan untuk para pejabat terkemuka kerajaan. Bangunan yang pertama didirikan adalah Kepatihan yaitu bangunan untuk patihnya bernama Tumenggung Singaranu. Bangunan Kepatihan ini didirikan di dalam kota kecil yang bernama Jagaraga. Kota kecil bagi Tumenggung Singaranu ini dikelilingi oleh bangunan-bangunan tebal dan berpenduduk sedikit dan didirikan bersebelahan dengan kota tempat didirikannya Krton Karta. Yang menjadi alasan mengapa Kepatihan tersebut dikelilingi oleh tembok-tembok tebal yang terbuat dari batu yaitu menurut De Graaf diperkirakan sebagai benteng yang diperkuat untuk menangkis serangan-serangan musuh terhadap Kraton Karta. Bangunan-bangunan lain yang dibangun adalah rumah-rumah indah baik di kawasan dalam maupun di luar kawasan Mataram yang merupakan tempat tinggal para pejabat istana yang terkemuka diantaranya adalah bangunan Kartasekar dan Kartawinata. Kota kecil yang dibangun dengan menggunakan batu putih berbentuk persegi panjang yang kemudian disebut dengan sebuah dalem yang terletak di tengah sawah milik seorang wanita hulubalang yang merupakan salah satu perumahan yang megah itu. Bangunan lain yang dibangun pada masa Sultan Agung yaitu bangunan masjid kraton, tetapi peninggalan pada abad ke-17 mengenai masjid ini sama sekali tidak ada. Sumber-sumberpun tidak ada yang mengungkapkan atau bercerita tentang masjid ini, bahkan Jan Vos yang sangat teliti juga tidak menyebutkan bangunan masjid ini. Alasan yang tidak diceritakan tentang bangunan masjid karena masjid tidak memiliki sesuatu yang sangat istimewa, bangunan masjid tidak hanya dimiliki oleh kraton saja, melainkan di setiap desa juga ada.

Peninggalan-peninggalan utama baik berupa bangunan atau benda  lainnya yang masih bisa dilihat hingga saat ini kebanyakan peninggalan pada masa Panembahan Senopati seperti misalnya :

1.      Masjid Mataram Kotagede

Yang sampai saat ini masih berdiri dan berfungsi dengan baik yang merupakan peninggalan dari masa Ki Pamanahan sampai Panembahan Krapyak.

2.      Bekas-bekas benteng pertahanan

Benteng pertahanan itu dibagi menjadi dua bagian yaitu benteng njobo yang mengelilingi kota Mataram dan benteng njero yang mengelilingi Kraton Mataram yang didirikan di dalam kota Mataram yang dikelilingi oleh benteng njobo terebut. Benteng tersebut juga dilengkapi dengan sebuah parit.yang disebut Jagang yang dibagi menjadi Jagang Njobo yang mengelilingi benteng njobo dan Jagang Njero yang mengelilingi benteng njero.

3.      Bangsal Duda

Yang dibuat pada masa Sultan Agung yaitu pada tahun 1644 M, yang sekarang ini dapat dilihat di halaman masjid.

4.      Kompleks Pemakaman Kotagede

Yang merupakan lokasi makam dari keluarga dan tiga raja Mataram yaitu Ki Pamanahan, Panembahan Senapati dan Panembahan Krapyak.

5.      Sumber Kemuning

Merupakan sebuah kolam yang dibangun pada masa Panembahan Senapati yang dapat dilihat di sebelah barat tembok makam Kotagede.

6.      Watu Gateng dan Watu Gilang

Merupakan salah satu peninggalan yang dianggap sakral. Watu Gateng adalah tiga buah batu bulat berwarna kuning keemasan yang merupakan alat permainan Raden Rangga, putera dari Panembahan Senapati. Sedangkan Watu Gilang adalah batu persegi empat yang dibidang tepinya terdapat cekungan sebesar dahi orang. Bila dilihat dari sejarah dan cerita rakyat Jawa, cekungan sebesar dahi orang tersebut dibidang tepi batu merupakan bekas kepala Ki Ageng Mangir yang dibenturkan pada saat akan melakukan sembah sujud kepada Panembahan Senapati yang merupakan musuh sekaligus menantunya.

7.      Gapura Paduraksa

Merupakan pintu gerbang masuk halaman Masjid Kotagede yang bercirikan Hindu – Islam, bangunan tersebut masih tetap berdiri walau telah mengalami beberapa kali renovasi.

8.      Tiga buah pondasi atau fondamen yang terbuat dari batu

Tiga buah pondasi ini dinamakan Umpak yang sekarang terletak di desa Karta sekarang ini. Tiga fondasi itu merupakan peninggalan bekas kraton Sultan Agung yang ada di Karta.

9. Kompleks Pemakaman Imogiri

Sebagai tempat peristirahatan terakhir Sultan Agung dan raja-raja sesudahnya serta keluarga-keluarganya.

Demikianlah peninggalan-peninggalan yang masih dapat dilihat hingga sekarang ini, walaupun hanya sedikit saja yang masih tersisa tetapi semua itu tidak dapat menghilangkan sejarah kebesaran Kerajaan Mataram dari mulai berdiri hingga jayanya kerajaan Mataram sehingga masih dapat merasakan dengan nyata akan adanya kerajaan tersebut.

16 Januari 2008 Ditulis oleh Yoyok Putra Muria | SEJARAH | | & Komentar

MATARAM ISLAM (2)

MATARAM ISLAM

A.     Awal Pertumbuhan Mataram

Awal mula berdirinya sebuah kerajaan kecil atau sebuah kadipaten di tanah Mataram tidak lepas dari peranan seseorang yang bernama Ki Pamanahan yang juga merupakan pendiri Dinasti Mataram. Ki Pamanahan merupakan keturunan dari Ki Ageng Sela. Nama Ki Ageng Sela sendiri berasal dari nama suatu tempat yaitu desa Sela di daerah Grobogan, tidak jauh dari Purwadadi. Di sana pulalah letak kompleks pemakamam “Krajang Sela”  yang merupakan makam Ki Ageng Sela dan kedua istrinya. Apabila dilihat dari asal keturunan, Dinasti Mataram tidak berasal dari kelas penguasa. Nenek moyang Raja-raja Mataram yaitu Ki Ageng Sela sendiri adalah seorang pemuka pedukuhan atau desa Sela, ia dikenal sebagai seorang petani yang rajin. Terbukti ia bekerja keras di sawah, barangnya yang dianggap sebagai suatu peninggalan yaitu berupa cangkul dan caping tersimpan di Museum Radyapustaka Surakarta.

            Ki Ageng Sela merupakan anak dari Ki Getas Pendawa yang merupakan cucu dari Raja Majapahit.  Setelah Ki Ageng Sela menikah ia memiliki tujuh orang anak dan anak yang paling bungsu merupakan anak lak-laki yang bernama Ki Ageng Ngenis. Ki Ageng Ngenis inilah yang merupakan ayah dari Ki Pamanahan. Orang-orang dari Sela tersebut mempunyai hubungan yang sangat erat dengan Raja Pajang. Di istana Pajang, menurut penulis Mataram, terdapat orang-orang yang berasal dari Sela. Yang pertama yaitu Ki Pamanahan yang menikah dengan sepupunya sendiri yang merupakan anak dari kakak kandung ayahnya, tokoh yang kedua yaitu Ki Juru Martani yang merupakan saudara kandung Ki Pamanahan, tokoh yang ketiga disebut sebagai putera angkat Ki Ageng Ngenis yang bernama Ki Panjawi. Menurut cerita, Ki Pamanahan dan Ki Panjawi sangat disenangi oleh Sultan Pajang, mereka dijadikan pemimpin para tamtama dan mereka disebut sebagai saudara tua oleh Sultan Pajang. Sementara itu Ki Juru Martani sendiri dijadikan penasehat kedua orang tersebut.

            Ki Pamanahan dan Ki Panjawi merupakan tokoh yang penting dan berjasa dalam perang merebut kekuasaan Jipang oleh Kerajaan Pajang. Sultan Pajang yaitu Hadiwijaya merupakan menantu Raja Demak  yang bernama Trenggana, setelah Trenggana wafat ia digantikan oleh puteranya yang bernama Pangeran Prawata yang bergelar Sunan Prawata. Tetapi Sunan Prawata sendiri dibunuh oleh Aria Panangsang yang merupakan sepupu sunan Prawata. Aria Panangsang sendiru kemudian dibunuh oleh orang-orang suruhan Sultan Pajang.

            Menurut Babad Tanah Jawi, yang mengatakan bahwa Raja Pajang telah menghadiahkan tanah Pati dan tanah Mataram kepada orang-orang yang mampu mengalahkan  Aria Panangsang. Pada tahun 1558 Sultan Pajang berhasil mengalahkan Aria Panangsang dari Jipang. Kemenangan itu tidak lepas dari jasa orang-orang suruhannya yaitu Ki Pamanahan dan Ki Panjawi. Tetapi sesungguhnya orang yang telah membunuh Aria Panangsang adalah seperti yang diceritakan dalam Babad Meinsma adalah Sutawijaya yang merupakan anak kandung Ki Pamanahan. Sutawijaya juga merupakan anak angkat Sultan Pajang. Atas jasa tersebut Sultan Hadiwijaya memberikan tanda ucapan terima kasih berupa tanah Pati dan tanah Mataram. Dalam Babad Tanah Jawi yang mengatakan bahwa Sultan Hadiwijaya meminta kepada Ki Pamanahan agar memilih tanah Pati atau tanah Mataram. Ki Pamanahan berpendapat bahwa haknya sebagai anak sulung membawanya pada kedudukan yang lebih rendah. Oleh sebab itu ia memilih tanah Mataram yang masih berupa hutan belukar dan tanah Pati yang telah berbentuk kota dan mempunyai penduduk 10.000 orang diserahkan kepada Ki Panjawi.

Akan tetapi menurut cerita tutur Jawa Barat menyebutkan, oleh karena asal keturunan orang Mataram yang sangat rendah tersebut menyebabkan tanah Mataram tidak diperoleh dengan cara damai tetapi dengan penaklukan secara kekerasan. Jac Couper juga memberitakan bahwa Ki Pamanahan menjadi kepala perampok di “Negeri Mataram” dan menamakan dirinya menurut nama tempat itu. Dikatakan pula Ki Pamanahan dikirim ke Mataram sebagai panglima oleh Sultan Hadiwijaya untuk mengislamkan wilayah tersebut yang berarti dengan kekerasan. Apabila dilihat dari sumber Jawa maupun berita-berita tua dibandingkan antara berita penyerahan kedua daerah tersebut sebagai tanda jasa kemenangan mereka terhadap Jipang dengan berita-berita tua yang mengatakan bahwa tanah Mataram ditaklukkan dengan kekerasan, maka kiranya berita-berita tua itulah yang lebih meyakinkan dan dapat diterima serta dipandang sebagai berita yang asli.

            Setelah Mataram menjadi miliknya, Ki Pamanahan mulai berangkat ke Mataram yang disertai anak-anak dan isterinya, terutama anaknya yang bernama Sutawijaya dibawa pula, serta para sanak keluarga yang lain dari Pamanahan dibawa juga. Tanah Mataram juga terkenal dengan nama Alas Mentaok karena daerah itu masih berupa hutan belukar. Pada hari yang telah ditentukan oleh Ki Pamanahan penduduk mulai membersihkan hutan dan membangun sebuah Dalem  atau perkampungan. Penanggalan berdirinya Kerajaan Mataram mengalami suatu problem yang sulit. Berbagai daftar tahun diperlihatkan jurang yang menimbulkan pertanyaan. Menurut Raffles jurang itu terdapat antara tahun 1556 dan 1577 Masehi. Hageman mencoba menyisipkan beberapa tahun dari sumber lain. Tahun 1577 merupakan angka tahun yang penting artinya bagi Mataram karena menurut cerita tutur Jawa pada tahun ini Kraton Mataram didirikan dan ketika Kraton Plered jatuh yaitu pada tahun 1677, usia Kerajaan Mataram tepat satu abad. Pendirian kraton juga didahului dengan masa yang penuh pertempuran dan kekacauan yaitu selama kurang lebih 19 tahun.

            Pada kenyataannya tanah Mataram merupakan tanah yang subur, cerita mengenai Kraton Mataram  tidak lepas dari sebuah nama wilayah yaitu Kotagede yang merupakan Ibukota Kerajaan Mataram. Kotagede juga disebut dengan Pasar Gede karena keramaian pasarnya. Di dalam perkembangannya seiring dengan berkembangnya Kerajaan Mataram, Ki Pamanahan juga mendirikan sebuah masjid atau langgar, tetapi bentuk masjid itu masih sangat sederhana sekali. Setelah menjadi penguasa di Mataram ia merubah namanya yang semula bernama Ki Gede Pamanahan atau Ki Ageng Pamanahan menjadi Ki Gede Mataram atau Ki Ageng Mataram. Bersangkutan dengan ramalan Sunan Giri mengenai Kerajaan Mataram kelak dipimpin oleh seorang raja yang akan berkuasa di tanah Jawa, maka Ki Pamanahan mempunyai keinginan agar keturunannya yang akan menjadi raja tersebut. Ramalan itu menjadi kenyataan setelah Ki Pamanahan meminum air kelapa ajaib di rumah sahabatnya Ki Ageng Giring di Gunung Kidul. Kelak puteranya yang bernama Sutawijaya akan menjadi raja besar di Mataram.

            Kota Karajaan Mataram makin lama semakin makmur. Hal itu menyebabkan kegelisahan di hati Sultan Pajang. Ia khawatir ramalan Sunan Giri menjadi kenyataan bahwa kelak di Mataram muncul seorang raja yang akan menyamainya, tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa karena kehendak Tuhan tidak mungkin dapat dicegah oleh manusia. Kerajaan Mataram pada masa pemerintahan Ki Ageng Mataram merupakan kerajaan kecil atau berupa sebuah kadipaten yang sangat patuh dan tunduk di bawah kekuasaan Kerajaan Pajang. Menurut Babad Tanah Jawi sejalan dengan semakin makmurnya Mataram, menyusul berita tentang penyakit Ki Gede Mataram yang telah tua itu, ia menyerahkan pemeliharaan atas keturunannya kepada Ki Juru Martani yang harus dipatuhi oleh anak-anaknya. Ki Ageng Mataram wafat pada tahun 1584 M dan dimakamkan di sebelah masjid Kotagede. Mengenai pesan Ki Ageng Mataram kepada Ki Juru Martani, menandakan bahwa keselamatan Mataram berada di tangannya. Oleh karena itu setelah wafatnya Ki Ageng Mataram, Ki Juru Martani diminta memperoleh persetujuan Sultan Pajang mengenai siapa pengganti Ki Ageng Mataram. Menurut cerita tutur jawa sesuai pesan ayahnya, Ki Ageng Mataram dan restu Sultan Hadiwijaya, Sutawijaya atau Senapati yang masih muda itu pada tahun 1584 menjadi pengganti ayahnya sebagai raja di Mataram yang kelak segera setelah ia mendapat kekuasaan atas Mataram, mulai mengadakan persiapan untuk memerdekakan tanah warisnya

.

B.     Perkembangan Kerajaan Mataram   

Setelah wafatnya Ki Ageng Mataram pada tahun 1584, puteranya yang bernama Sutawijaya menggantikan posisi ayahnya. Setelah Ki Ageng Mataram meninggal. Semua puteranya diajak datang  ke Pajang oleh Ki Juru Martani. Setelah memberi tahu Sultan Pajang tentang kematian Ki Ageng Mataram Ki Juru Martani juga meminta saran kepada Sultan tentang pengganti Ki Ageng Mataram. Sesuai pesan ayahnya dan restu dari Sultan Pajang, Sutawijaya menggantikan ayahnya sebagai pembesar di Mataram.

Sutawijaya merupakan anak angkat Sultan Hadiwijaya. Nama asli Sutawijaya adalah Raden Bagus. Setelah dewasa Raden Bagus diangkat sebagai Ngabehi dengan gelar Raden Ngabehi Sutawijaya, yang mempunyai hubungan dengan nama raja sendiri yaitu Hadiwijaya. Suta berarti putra, dan karena ia mendiami dalem di sebelah utara pasar, ia juga dinamakan Raden Ngabehi Saloring Pasar. Setelah menjadi raja, Sutawijaya bergelar Penembahan Senopati Ingalaga Sayidin Panatagama dan pamannya yang sekaligus panasehatnya, Ki Juru Martani juga mendapat gelar Adipati Mandaraka atau lebih dikenal dengan Ki Mandaraka. Sultan juga mengatakan kepada Penembahan Senapati bahwa pada tahun pertama ia tidak perlu datang menghadap Sultan di Pajang, agar menggunakan waktunya untuk menertibkan daerah kekuasaanya dan menikmati kesenangan di Kraton Mataram.

Selama satu tahun pertama sebagai raja di Mataram, ia tidak diwajibkan datang menghadap Sultan di Pajang. Tetapi ternyata kepercayaan itu disalahgunakannya. Penembahan Senopati menyuruh rakyatnya membuat batu bata sebanyak-banyaknya yang digunakan untuk pembuatan tembok benteng. Pada tahun berikutnya ia pun tidak segera menghadap ke Pajang. Sultan Pajang mendengar hal itu segera mengirim dua orang utusannya ke Mataram untuk menemui Senapati. Perintah Sultan Pajang yang disampaikan kepada Senopati yaitu tentang kebiasaannya yang sering mengadakan jamuan, diharuskan mencukur rambutnya dan segera menghadap ke Pajang. Jawaban Senapati yang diucapkan kepada kedua utusan itu merupakan jawaban yang kasar dan tidak pantas untuk disampaikan kepada raja, sehingga jawaban itu diperhalus ketika dilaporkan kepada Sultan Pajang.

Salah satu perintah Sultan Pajang kepada Senapati adalah jangan terlalu sering mengadakan perjamuan dan berfoya-foya. Adapun penjamuan yang sering dilakukan oleh penambahan Senapati adalah mempunyai unsur politik sebagai contoh, ia dapat mempengaruhi petinggi-petinggi dari negeri Kedu dan Bagelen dengan cara menyuguhi mereka dengan pesta yang meriah dan diberi hadiah berupa pakaian-pakaian bagus, Sehingga petinggi-petinggi itu menjanjikan bantuan dan kesetiaan kepada Senapati dan hal yang terburuk adalah mereka tidak lagi memberikan upeti pada Kerajaan Pajang melainkan ke Mataram, dan itu adalah awal mula Panembahan Senopati mendapatkan pengikut.

Kisah mengenai Senopati yang termasuk terkenal yaitu kisah Lipura, yaitu perjalanan Senapati ke Lipura. Sumber-sumber Jawa banyak yang membahas tentang kisah ini,yaitu kisah Senapati tidur di atas batu hitam dan berbicara dengan sebuah bintang. Bintang itu meramalkan akan terkabulkan do’a Senapati dan anak cicitnya kelak juga masih menjadi raja di Mataram tetapi ketika itu kerajaannya akan menjadi musnah dan disertai banyak gejala alam. Untuk memastikan kebenaran ramalan bintang tersebut dan untuk mengetahui apa yang menjadi kehendak Allah, maka Ki Juru Martani menyuruh Senapati pergi ke Laut Selatan untuk memohon kepada Allah. Diceritakan pula setelah kepulangannya dari Laut Selatan ia bertemu Sunan Kalijaga yang sedang bertapa. Sunan itu memerintahkan agar Senapati segera membangun tembok sebagai benteng di sekeliling istananya, oleh sebab itu setiap musim kemarau Senapati memerintah seluruh rakyatnya untuk membakar batu bata sebanyak-banyaknya. Berita tentang prilaku-prilaku Senapati  sampai juga ke telinga Sultan Pajang, oleh sebab itu ia mengutus puteranya pangeran Benawa, menantunya Adipati Tuban dan Patih Temenggung Mancanagara berangkat ke Mataram untuk meminta penjelasan tentang semua itu. Walaupun telah mengetahui dengan pasti tentang semua permasalahan yang ada, tetapi Sultan Pajang menyatakan tidak berdaya sama sekali terhadap takdir Allah yang mungkin memang menginginkan Raja Mataram akan menjadi penguasa besar di tanah Jawa.

Setelah gagalnya perutusan Pajang yang kedua diceritakan pula alasan timbulnya perang antara Mataram dan Pajang. Panembahan Senapati mempunyai ipar yang tinggal di Pajang yang bernama Temenggung Mayang yang mempunyai seorang putera yang berani menggoda puteri raja Pajang yang bernama Ratu Sekar Kedaton.  Hal itu diketahui oleh Sultan Pajang dan memerintahkan para panglima tamtamanya untuk menangkap dan membunuh puteranya itu. Karena merasa takut Temenggung Mayang beserta keluarga melarikan diri ke Mataram, tetapi menurut sumber lain Temenggung Mayang di buang ke Semarang dan Senapati mengetahui hal itu. Apapun kebenaran dari kedua cerita tersebut, yang jelas sama-sama mempunyai arti bahwa Senapati dengan sikap membantu Temenggung Mayang  itu berarti ia telah melawan dan memberontak terhadap Kerajaan Pajang. Dari permasalahan itulah awal mula pertikaian antara Pajang dan Mataram. Sultan segera memerintahkan untuk mempersiapkan senjata untuk menyerang Mataram. Pajang menyiapkan bala tentara yang jumlahnya sangat besar, dan sebelum sampai ke Mataram, pasukan Pajang berkemah di Prambanan.

Untuk melawan tentara Pajang tersebut, Panembahan Senapati hanya dapat mengumpulkan 800 orang Mataram di Randulawang, tidak lama kemudian pertempuran pun terjadi, karena disebabkan gelapnya malam pertempuran dihentikan. Kedua pihak kembali ke kubu pertahanan masng-masing, tetapi tidak lama kemudian Gunung Merapi meletus di tengah-tengah kegelapan, hujan turun dengan lebat disertai dengan banjir dan gejala alam lainnya. Dalam pertempuran itu orang-orang Mataram memukul Canang Ki Bicak, banjir menggenangi kubu Pajang, yang menyebabkan mereka melarikan diri dalam kebingungan, Sultan pun terseret dalam kekacauan itu. Setelah kekalahan di Prambanan, Raja Pajang yang malang itu pergi ke Tembayat yang keramat, ia ingin berdo’a di makam Tembayat tersebut, tetapi pintu makam tidak mau terbuka. Juru kunci memberikan penjelasan yang buruk tentang kejadian itu, rupanya Allah tidak lagi memberikannya izin menjadi raja. Esok paginya perjalanan dilanjutkan, tetapi di tengah perjalanan raja terjatuh dari gajahnya yang disebabkan galaknya hewan itu, jatuhnya raja membuat ia menjadi sakit sehingga terpaksa raja melanjutkan perjalanan dengan menggunakan tandu. Ternyata dari kejauhan Senapati bersama 40 orang penunggang kuda mengikuti iring-iringan raja dengan perasaan hormat, dan itu merupakan sikap hormatnya terhadap Sultan Pajang.

Setibanya iring-iringan di Pajang, penyakit sultan semakin bertambah parah dan tidak lama kemudian Sultan Hadiwijaya meninggal dunia, ia dimakamkan di daerah Butuh, suatu daerah yang terletak di sebelah barat taman Kerajaan Pajang. Kejadian itu terjadi pada tahun 1587 M. Mengenai wafatnya Sultan Pajang terdapat dua versi cerita yang berbeda, tapi menurut Babad Tanah Jawi. Sultan di bunuh oleh seorang juru taman yang berbentuk mahkluk berupa jin, dikatakan bahwa ia lah yang telah membunuh raja. Tetapi menurut sumber yang lebih pasti mengatakan bahwa juru taman itu adalah seorang manusia berkebangsaan Italia, ia merupakan kaki tangan Senapati yang merupakan seorang ahli taman di Kerajaan Pajang, oleh sebab itu dinamakan Juru Taman.

Mengenai hasil karya pada masa pemerintahannya, selain membangun tembok sebagai benteng untuk mengelilingi kratonnya, Panembahan Senapati juga menyelesaikan bangunan masjid peninggalan ayahnya. Salah satu bukti yaitu pada kelir pintu gerbang masjid di Kotagede terdapat tahun 1587 M, mungkin Senapati ingin merayakan kemenangannya atas Pajang dengan menyelesaikan suatu bangunan yang  dipersembahkan kepada agama.

Setelah Sultan Hadiwijaya meninggal yang menjadi ahli warisnya adalah tiga putera menantunya yaitu raja di Tuban, raja di Demak dan raja di Aros Baya, di samping puteranya sendiri yaitu Pangeran Benawa yang konon masih sangat muda ketika ayahnya meninggal. Pada saat pemilihan itu, semua sanak saudara, keluarga para bupati berkumpul, salah satunya yang hadir yaitu Sunan Kudus. Sunan Kudus merupakan salah satu orang yang berpengaruh di Kerajaan Pajang. Ia memilih Adipati Demak yang menjadi pengganti raja. Sunan Kudus bertindak menurut kemauannya sendiri karena ia merasa berkuasa, dan memberikan pidato di depan rakyat bahwa yang akan menjadi raja adalah Adipati Demak, sedangkan Pangeran Benawa sendiri merupakan putera kandung Sultan Hadiwijaya hanya dijadikan sebagai adipati di Jipang. Adipati Demak yang merupakan menantu Sultan, ia juga merupakan anak kandung Sunan Prawata yang dulunya dibunuh oleh Aria Panangsang. Adipati itu bernama Aria Pangiri. Mungkin yang menjadi maksud ulama dari kudus itu memilih Aria Pangiri menjadi raja ialah untuk mengembalikan kekuasaan di Kesultanan Jawa Tengah kepada seorang keturunan langsung Sultan Trenggana dari Demak, yang sudah meninggal kira-kira 40 tahun sebelumnya.

Setelah menetap di Kraton Pajang, Aria Pangiri dikelilingi oleh pejabat-pejabat yang dibawanya dari Demak. Sementara itu Pangeran Benawa hanya dijadikan penguasa di Jipang. Pangeran muda ini, karena merasa tidak puas dengan nasibnya di tengah-tengah lingkungan yang masih asing baginya, meminta bantuan kepada Senapati penguasa dari Mataram untuk mengusir Raja Pajang yang baru itu. Aria Pangiri setelah memindahkan  banyak orang dari Demak, ia juga mengambil sepertiga dari tanah penduduk untuk daerah pemukiman orang-orang itu. Penduduk-penduduk itu merasa sakit hati sehingga melakukan kejahatan, banyak pula diantara mereka yang pindah ke Mataram. Pangeran Benawa ingin meminta bantuan kepada Senapati, lalu segera mengirim utusan ke Mataram. Tetapi utusan pertama itu ditolak, tetapi setelah utusan kedua diutus lagi ke Mataram dengan membawa pesan Kerajaan pajang akan diserahkan pada Senapati, barulah senapati bersedia membantu.

  Setelah menang, Adipati Demak dengan diikat menggunakan kain  sutera ia dikembalikan ke Demak. Pangeran Benawa menepati janjinya, ia menyerahkan kekuasaan Pajang kepada Senapati. Tapi ternyata Penembahan Senapati menolak, ia hanya ingin diakui sebagai raja di Mataram dan ia hanya meminta benda-benda pusaka Kerajaan Pajang berupa Gong Kiai Sekar Delima, Kendali Kiai Macan Guguh dan Pelana Kiai Jatayu, benda-benda tersebut diperoleh semua dari Pangeran Benawa. Setelah itu, Penembahan Senapati mengangkat  Pangeran Benawa sebagai sultan di Pajang pengganti ayahnya dan Kerajaan Pajang berada di bawah lindungan Mataram, Senapati sendiri kemudian bertindak sebagai raja di Mataram. Dengan dinobatkannya Panembahan Senapati menjadi raja, maka ia merupakan raja merdeka pertama di Mataram.

Setelah pengangkatannya menjadi raja Senapati mulai mengadakan perluasan wilayah ke berbagai daerah, perebutan wilayah yang dikatakan  suatu kesuksesan besar adalah perebutan atas wilayah Madiun. Tapi pada masa pemerintahannya banyak terjadi kegagalan dalam melakukan ekspansi tersebut,  ditambah lagi adanya pemberontakan dari daerah bawahan yaitu Pati. Setelah kurang lebih 17 tahun berkuasa di Mataram, pada tahun 1601 M bertepatan dengan terjadinya gerhana matahari Penambahan Senapati wafat. Ia dimakamkan di sebelah selatan masjid, di ujung kaki makam ayahnya. Sebelum meninggal beliau memberi amanat kepada Jolang puteranya untuk menggantikannya sebagai raja, meskipun pada saat itu ia masih sangat muda. Pelanggaran terhadap amanat ini akan dilanda amarah Allah. Mandaraka dan Mangkubumi harus menobatkannya. Alasan dipilihnya Raden Mas Jolang sebagai pengganti ayahnya menjadi raja yaitu karena ia merupakan putera kesepuluh Panembahan Senapati yang lahir dari seorang permaisuri yang berasal dari Pati. Saudara laki-laki dan perempuan lainnya mempunyai ibu yang berkedudukan rendah, karena ia satu-satunya putera Senapati dari Permaisuri, maka sangat jelaslah mengapa ia dipilih menjadi raja.

Pada tahun 1601 sebagai tahun permulaan Pemerintahan Raden Mas Jolang. Pengukuhan kekuasaannya digambarkan secara tradisional. Setelah menjadi raja ia bergelar sebagai Panembahan Anyakrawati atau Panembahan Seda Ing Krapyak. Serat Kandha juga menyebutkan gelar raja yang baru sebagai Senapati Ingalaga Kerajaan Mataram. Tak seorangpun menentang pengangkatan raja yang muda ini, semua anggota keluarga terdekat, para bupati dan menteri memberikan hormat kepadanya. Dikatakan pula dalam cerita tutur Jawa, bahwa setiap hari senin dan kamis merupakan hari yang disebut sebagai “Hari-hari Kaisar” karena dihari itu raja menampilkan diri di depan para abdi dalemnya untuk menjalankan tugasnya sebagai raja, salah satunya yaitu mengadakan peradilan.

Akibat diangkatnya Panembahan Krapyak sebagai raja, menimbulkan pemberontakan dari dua orang saudaranya yang lebih tua, yaitu Pangeran Puger dan Pangeran Jayaraga. Pangeran Puger merupakan putera kedua dari Senapati, walaupun ia merupakan anak dari seorang selir yang kedudukannya lebih rendah, tetapi ia beranggapan bahwa dirinya lebih berhak atas tahta kerajaan daripada Panembahan Krapyak yang merupakan putera yang kesepuluh. Awal dari tindakan tidak senangnya kepada raja yaitu ketika raja diberi penghormatan oleh semua yang dianggap patut melakukannya, Pangeran Puger tidak turut serta, ia merasa malu duduk di bawah adiknya. Ia ingin memiliki daerah kekuasaan sendiri tetapi hal itu tidak disampaikannya kepada raja. Panembahan Krapyak segera paham akan hal itu, maka ia mengusulkan kepada Ki Mandaraka untuk mengangkat Pangeran Puger menjadi bupati di Demak.

Pengangkatan itu baru terjadi setelah satu tahun ia tidak pernah hadir di istana. Raja kemudian mengangkatnya sebagai bupati agar ia menjadi “Perisai untuk melindungi Kerajaan Mataram”. Esok harinya ia mulai berangkat ke Demak beserta para keluarganya. Keberangkatannya ke Demak disertai pula oleh dua orang pepatih yang bernama Tandanegara dan Ki Adipati Gending, seorang yang berasal dari Demak asli. Setelah menjadi Bupati Demak, lama kelamaan Pangeran Puger hilang rasa hormatnya kepada raja karena disebabkan adanya hasutan dari Adipati Gending, oleh karena itu ia menyiapkan diri untuk menguasai pegunungan Kendang. Ketika semuanya telah siap, maka berangkatlah ia bersama tentaranya menuju Mataram. Ketika mendengar kakaknya Pangeran Puger merampok daerah sekitar pegunungan Ungaran, Panembahan Krapyak bersedia memberikan bagian utara kerajaan kepada kakaknya itu. Tetapi niat baik raja tidak disambut dengan baik oleh Pangeran Puger. Ia tidak pernah menghiraukan undangan raja agar datang ke istana untuk membicarakan masalah itu, bahkan kebaikan itu selalu ditolaknya dengan kasar. Sementara itu Pangeran Puger sudah menaklukan Tambak Uwos, raja terkejut akan hal itu, sehingga ia melakukan persiapan. Ketika semua sudah siap, pasukan diberangkatkan ke Tambak Uwos dan besoknya serangan dimulai. Dalam pertempuran itu tentara Demak segera dikalahkan, tidak terlalu sulit bagi pasukan Mataram untuk menumpas pemberontakan itu. Kedua Adipati Demak gugur di medan perang, dan Pangeran Puger sendiri ditangkap. Setelah penangkapan itu, segera raja memerintahkan agar kakaknya dibawa ke Kudus bersama isteri dan anak-anaknya untuk menetap di sebelah utara candi sebagai seorang santri dan di bawah pengawasan penguasa setempat.

Mengenai angka tahun terjadi pemberontakan terdapat beberapa pendapat yang berbeda. Babad Sangkala memberikan keterangan bahwa pemberontakan terjadi pada tahun 1602 M, ketika orang-orang Mataram dan para pembesar dikepung. Untuk tahun 1605 M diberi pula keterangan bahwa Adipati Puger meninggalkan Demak dengan seluruh keluarganya, tetapi seorang ahli yang bernama Hageman menyebutkan tahun 1604 M merupakan tahun pembuangan Pangeran Demak. Bila dilihat dari angka-angka tahun tersebut dapat disimpulkan bahwa pemberontakan berlangsung selama tiga tahun yaitu dari tahun 1602 sampai 1605 M.

Selang beberapa tahun setelah penumpasan pemberontakan Pangeran Puger dari Demak, Kerajaan Mataram harus menghadapi pemberontakan Pangeran Jayaraga pemangku pemerintahan Ponorogo yang merupakan kakak Panembahan Krapyak sendiri. Pemberontakan kedua ini tidak begitu membahayakan, tetapi hampir mengancam kesatuan kerajaan. Menurut Padmasoesastra, Pangeran Jayaraga merupakan putera kesembilan Panembahan Senapati. Ia lahir dari seorang selir yang berasal dari Kajoran, nama mudanya adalah Raden Mas Betotot.

Pangeran Jayaraga merupakan penguasa dari Ponorogo yang membawahi empat bupati yaitu Pangeran Rangga, Panji Wirabumi, Ngabei Malang Sumirang dan Demang Nayahita. Pangeran Jayaraga sangat menghormati empat orang tersebut dengan bukti menyapa mereka dengan sapaan paman atau si bapak. Lambat laun setelah kehidupannya semakin makmur, membuat Pangeran Jayaraga lupa daratan, ia memutuskan untuk menobatkan dirinya sendiri sebagai raja dan merebut Mataram. Keempat bupati tersebut berusaha untuk mengingatkannya tetapi tidak pernah dipedulikan. Hal itulah yang menyebabkan mereka pergi ke Kerajaan Mataram untuk melaporkan masalah itu kepada raja. Setelah mendengar sendiri dari keempat bupati itu tentang rencana jahat kakaknya, maka Panembahan Krapyak memerintahkan adiknya Pangeran Pringgalaya dan panglima perang Martalaya untuk pergi ke Ponorogo dan membawa Pangeran Jayaraga bersama keluarga ke Mataram. Selanjutnya ia harus dibuang ke Masjid Watu dan segala miliknya disita. Menurut peta Topografi, Masjid Watu merupakan gua di sebelah timur pulau Nusa Kambangan. Adapun angka tahun terjadinya pemberontakan, setelah disimpulkan dari beberapa sumber dapat dipastikan bahwa pada tahun 1608 seorang saudara tua di Ponorogo melakukan pemberontakan terhadap adiknya di Mataram.

Pada masa pemerintahannya, Panembahan Krapyak melakukan ekspansi ke daerah-daerah sekitar Surabaya. Seperti yang telah diketahui, Surabaya merupakan kerajaan yang kuat dan sejak tahun 1589 pada waktu pemerintahan Panembahan Senapati Surabaya merupakan musuh utama Kerajaan Mataram. Raja Surabaya mempunyai beberapa daerah jajahan seperti Gresik, Jortan, Sedayu, Pasuruan dan Blambangan. Kekuasaan Surabaya di pedalaman tidak diketahui dengan pasti. Raja-raja di Surabaya mengangkat bupati-bupati di pedalaman, misalnya di Japan, Wirasaba, dan Kediri, meskipun tidak selalu dengan persetujuan pejabat-pejabat setempat. Selain di pulau Jawa, Surabaya dikatakan juga mempunyai daerah taklukan di Kalimantan yaitu Sukadana, kemudian masa pemerintahan Sultan Agung kelak Sukadana merupakan wilayah taklukan Mataram.

Berita-berita mengenai perang antara Surabaya dan Mataram sebagian besar dari kantor dagang Belanda yang disebut Loji yang didirikan di Gresik. Sejak berabad-abad yang lalu Gresik merupakan pusat lalu lintas perdagangan di pulau Jawa. Menurut berita Belanda pada tanggal 17 April 1602, Laksamana Jakob van Heemskerck berlabuh di Gresik. Di sinilah ia mendirikan kantor dagang pertama di Jawa Timur. Pada tahun 1608 didirikan lagi sebuah kantor dagang Belanda oleh Laksamana Wijbrand van Warwijck. Dikatakan setelah meminta ijin Raja Surabaya dengan memberi banyak hadiah, ia diperbolehkan mendirikan kantor dagang di Gresik. Akan tetapi ketika adanya perluasan wilayah yang dilakukan oleh Kerajaan Mataram, kantor tersebut hanya dapat bertahan sampai tahun 1615 dan hanya sebagian saja surat-surat yang dapat diselamatkan.

Pada tahun 1610 Laksamana Pieter W. Verhoeven mengungkapkan dari Sukadana tentang isi sepucuk surat yang mungkin ditulis pada tanggal 22 Mei 1610 di Loji Gresik. Dalam surat tersebut antara lain tertera “ di sini tersiar kabar bahwa Mataram yang dipanggil sebagai Kaisar Jawa merencanakan menyerang semua tempat ini. Sampai dimana rencana itu dijalankan tidak diketahui dengan jelas. Kepala perdagangan Andries Saory pada akhir tahun 1615 menulis dari Banten bahwa peperangan berlangsung kurang lebih selama empat tahun, maka diduga perang tersebut baru dimulai pada tahun 1611. Tidak dapat diketahui dengan pasti mengenai hasil ekspedisi militer tersebut.

Dari berita-berita Belanda pula dapat diketahui dengan pasti bahwa setiap tahun yaitu dari tahun 1610 sampai 1613 Panembahan Krapyak telah merencanakan dan mengadakan ekspansi ke wilayah-wilayah sekitar Surabaya, sasaran utamanya adalah wilayah Surabaya itu sendiri. Babad Sangkala mengatakan dalam tahun 1609 adalah awal mula perjalan Mataram ke Surabaya, tahun 1613 terjadinya ekspedisi di Gresik. Sedikitnya keterangan yang didapat mengenai perluasan wilayah yang dilakukan oleh Panembahan Krapyak membuat sejarah itu menjadi sedikit kabur. Tapi bila dilihat dari daftar-daftar tahun yang ada dan dibandingkan dengan cerita tutur Jawa dapat dikatakan bahwa Panembahan Krapyak adalah seorang raja yang sangat berani.

Cerita mengenai masa pemerintahan Panembahan Krapyak, ia meletakkan pusat pemerintahan atau kekuasaannya di Kotagede yang merupakan ibukota Kerajaan Mataram. Kraton Mataram sejak masa pemerintahan Ki Ageng Pamanahan dan Panembahan Senapati memang terletak di Kotagede dan Panembahan Krapyak pun mengikuti kedua raja sebelumnya untuk tetap menetap di Kotegede. Pembangunan pada masa pemerintahan Panembahan Krapyak banyak dilakukan bila dibandingkan dengan bangunan pada masa pemerintahan ayahnya. Sejak tahun 1603 pembangunan mulai dilaksanakan yaitu diawali dengan dibangunnya Prabayeksa atau tempat tinggal raja. Dua tahun kemudian yaitu pada tahun 1605 ia membangun sebuah taman indah yang bernama Danalaya, berita pada tahun 1610 dibangun pula sebuah lumbung yang lebih dari satu dan pada tahun 1611 menurut Babad Momana dikatakan bahwa telah dibangunnya Krapyak Beringan yang mana kelak Krapyak Beringan tersebut dikatakan sebagai tempat meninggalnya raja.

Bila dilihat dari segi politik, Panembahan Krapyak juga melakukan hubungan dengan orang-orang Belanda. Ini dibuktikan dari berita Belanda yang mengatakan tentang keinginan besar raja  untuk mengadakan kerjasama dengan Belanda. Dibuktikan juga setelah kedatangan orang-orang Belanda ke Jepara, dikatakan bahwa mereka ditemui oleh raja dari Jepara dan Kudus yang merupakan wilayah jajahan Mataram yang mendapat tugas untuk merayu agar bangsa Belanda mau mendirikan Loji di daerahnya. Setelah melihat adanya keuntungan dari tawaran itu maka Gubernur Jenderal Both memutuskan mendirikan sebuah Loji di Jepara. Dari keterangan tersebut dapat diketahui bahwa Panembahan Krapyak pada tahun pemerintahannya yang terakhir mulai mengembangkan politik luar negeri yaitu dengan jalan mengadakan hubungan kerjasama dengan orang-orang Belanda. Bila ditinjau dari segi budaya, Panembahan Krapyak juga memberi dorongan bagi pengembangan kebudayaan. Hal ini terbukti dengan diperintahkannya penyusunan sejarah negeri Demak. Beberapa Serat Suluk yang diperkirakan disusun pada masa pemerintahan Panembahan Seda Ing Krapyak.

Mengenai wafatnya Panembahan Krapyak, diperkirakan wafat pada tanggal 1 oktober 1613. Mengenai keadaan yang menyertai tentang wafatnya Panembahan Krapyak tidak banyak diketahui. Bila dilihat dari gelar yang diberikan kepadanya setelah meninggal dapat diambil kesimpulan bahwa ia meninggal di lapangan perburuan yaitu Krapyak Beringan dan mungkin pada saat ia sedang berburu. Penembahan Krapyak merupakan raja terakhir yang dimakamkan di dekat masjid Kotagede, ia dimakamkan tepat di sebelah bawah makam ayahnya yaitu Penambahan Senapati. Adapun yang menjadi pengganti Penambahan Krapyak sebagai Raja Mataram yang keempat adalah puteranya yang bernama Sultan Agung.    

Sultan Agung merupakan putera kandung tertua Penambahan krapyak yang lahir dari seorang istri utama atau Garwi Padmi yang bernama Ratu Adi, seorang asal Pajang. Nama semasa kecil Sultan Agung adalah Raden Mas Jetmiko yang berarti sopan dan rendah hati. Tetapi ketika ia telah dewasa, namanya diganti menjadi Pangeran Mas Rangsang. Menjelang wafatnya Penambahan Krapyak, ia menunjuk puteranya Raden Mas Rangsang menjadi pengantinya. Ini berlawanan dengan apa yang dijanjikan dulu, yaitu yang akan menjadi penggantinya adalah Pangeran Martapura yang merupakan putera yang lebih muda. Martapura adalah putera kandung Panembahan Krapyak yang merupakan putera keempat dari ibunya yang seorang Garwa Padmi yaitu Ratu Lung Ngayu yang berasal dari Ponorogo. Sebelum mendapat nama Pangeran Martapura mula-mula ia adalah bernama Raden Mas Wuryah.

Pada awal pengangkatan pengganti raja, Pangeran Martapura memang diangkat sebagai raja oleh Ki Adipati Mandaraka dan Pangeran Purbaya, tetapi tidak lama kemudian ia segera meletakkan jabatannya dan menyerahkannya kepada Raden Mas Rangsang agar bersedia menjadi raja, kemudian berlangsung pengangkatan raja baru tersebut, dan setelah menjadi raja ia bergelar Panembahan  Agung Abdulrakhman. Menurut seseorang berkebangsaan Eropa  yang pernah menghadap raja itu di Mataram, ia bercerita mengenai Sultan Agung. Ia mengatakan bahwa Sultan Agung mempunyai wajah yang kejam, ia juga memerintah dengan keras sebagaimana sebuah negara besar. De Haen yang lebih lama dan mungkin juga lebih teliti mengamat-amati menyatakan Pangeran Ingalaga ini adalah seorang yang mencapai puncak kejayaannya berusia sekitar 20 sampai 30 tahun dan berbadan bagus. Sejauh penglihatannya sedikit lebih hitam daripada orang Jawa umumnya, berhidung kecil tapi tidak pesek, mulut datar dan agak lebar, kasar dalam berbahasa, lamban dalam berbicara, berwajah tenang dan bulat, dan tampaknya cerdas. Sultan Agung merupakan seorang raja yang sangat haus akan pengetahuan. Ia selalu mengutarakan pertanyaan-pertanyaan seputar pengetahuan yang belum diketahuinya kepada orang-orang asing yang datang ke Kerajaan Mataram, ia juga meminta agar hendaknya seseorang berkebangsaan asing itu tinggal di kerajaannya. Ia juga merupakan seorang raja yang keras dalam bertindak.

Masa pemerintahan Sultan Agung bila dibandingkan dengan pemerintahan raja-raja sesudahnya terdapat perbedaan. Pada masa pemerintahan raja-raja sesudahnya Kraton Mataram terletak di Kotagede, tetapi pada masa pemerintahannya ia memindahkan kratonnya ke daerah Karta. Pengunjung Belanda pertama pada kraton ini menyebutkan bahwa Karta merupakan tempat yang sangat luas dan terbuka. Pernyataan itu diulang  kembali pada tahun 1633. Jan Vos bercerita tentang Karta, dengan sendirinya pada tahun-tahun pertama ketika kratonnya yang baru masih harus dibangun, raja harus sementara tinggal dalam kraton di Kotagede. Bila dilihat dari angka tahun raja menempati Kraton Karta yaitu kurang lebih pada tahun 1622, maka dapat diperkirakan Kraton Karta tersebut dibangun sekitar tahun 1613 sampai 1622, atau mungkin pada tahun 1618, ketika pada masa itu orang-orang Pajang atas perintah Sultan Agung diharuskan secara terus menerus untuk membuat batu. Dugaan tahun tersebut diperkuat oleh Babad Momana yang menyatakan bahwa pada tahun 1617 sebagai awal pengukuran tanah untuk pembangunan kraton di Karta, sedangkan pada tahun yang sama pula dilakukan pengukuran tanah di wilayah Pamutihan untuk kadipaten yang merupakan tempat kediaman putera mahkota.

Selain memindahkan kraton di Karta, Sultan Agung juga mendirikan beberapa bangunan lagi, yaitu yang utama Prabayeksa sebagai tempal tinggal raja, pembuatan wayang kulit dan gamelan, melengkapi kratonnya dengan Sitinggil, pembuatan kolam di halaman istananya, bangunan Kepatihan, masjid kraton dan bendungan besar di sungai Opak yang berada di wilayah Plered yang kelak merupakan wilayah sebagai tempat berdirinya Kraton Mataram pada masa pamerintahan Amangkurat I. Kraton di Karta memiliki perbedaan dengan kraton yang dulunya di Kotagede, yaitu Kraton Karta bahan bangunannya sebagian besar adalah terbuat dari kayu. Hal itulah yang menyebabkan bangunan-bangunan di Karta sering mengalami kebakaran, termasuk lumbung di Gading yang dibangun pada masa pemerintahan Panembahan Krapyak. Tetapi kemudian dibangun kembali pada tahun berikutnya. Karena sering mengalami kebakaran tersebut, menyebabkan tidak ada peninggalan-peninggalan pada masa Sultan Agung. Yang tersisa sampai saat ini hanya terdapat tiga buah patokan pondasi yang terbuat dari batu yang terletak di desa Karta sekarang ini.

Semua pembangunan yang terjadi pada masa pemerintahan Sultan Agung,  menurut sumber Belanda banyak menguras tenaga rakyat. Rakyatnya tidak pernah lagi dapat beristirahat karena satu belum selesai sudah ada lagi yang harus dikerjakan. Akibat buruk yang terjadi adalah tiap hari banyak orang yang melarikan diri karena sengsara dan meninggal karena kelaparan. Oleh sebab itu raja harus bertindak dengan kekerasan untuk tetap menahan mereka, tetapi masih sering juga rakyat dari pantai yang melarikan diri.

Pada masa pemerintahannya, Raden Mas Rangsang, selain setelah menjadi raja mendapat gelar Panembahan Agung , ia juga bergelar Pangeran Ingalaga atau Pangeran Anyakrakusuma. Tetapi sejak tanggal 15 September 1624, ia bergelar Susuhunan yaitu kaisar atau raja yang berkuasa. Panembahan dan Susuhunan sesungguhnya memiliki pengertian yang sama. Panembahan berasal dari kata sembah, jadi Panembahan berarti yang disembah atau yang menerima sembah. Sedangkan Susuhunan berasal dari kata Suhun yang berarti punji. Jadi Susuhunan berarti yang dipunji (ditaruhkan di atas kepala), yang disembah dan yang dipunji mengandung kehormatan atau penghormatan yang sama. Pengangkatan raja sebagai Susuhunan mempunyai hubungan atas kemenangannya tarhadap Madura yaitu pada awal Agustus 1624. Pada tahun 1636 dilangsungkan sidang raya kerajaan yang membicarakan gelar baru selanjutnya bagi Raja Mataram. Panembahan Cirebon menawarkan sebuah gelar kepada Susuhunan tersebut yaitu Ratu Mataram, tetapi tidak dianggap oleh Susuhunan Agung. Pada tahun 1638 Pangeran Banten mendapat gelar baru dari ulama besar di Mekah, gelar itu adalah Sultan. Hal itu membuat timbul iri hati di hati Susuhunan Agung, ia juga ingin mendapatkan gelar tersebut. Akhirnya setelah mengirim beberapa utusan ke Mekah, pada tanggal 1 Juli 1641 ia resmi bergelar Sultan Agung.

Sultan Agung ketika mulai berkuasa di Mataram, ia sangat gencar melakukan ekspansi ke berbagai wilayah. Sultan Agung setelah menggantikan ayahnya menjadi raja di Mataram pada tahun 1613, langsung melanjutkan peperangan terhadap Surabaya. Penyerangan terhadap Surabaya dilakukan sebanyak lima kali yaitu dari tahun 1620 sampai tahun 1624 yang kemudian pada tahun 1625 Surabaya menyerah pada kekuasaan Mataram. Sebelum mengalahkan Surabaya, Sultan Agung terlebih dahulu mengadakan penaklukan ke berbagai wilayah. Serangan militer pertama dilakukan pada tahun 1614 yang merupakan sebuah aksi perampokan sampai jauh ke daerah timur. Wilayah yang ditaklukan antara lain Pasuruan, Lumajang, Renong, Malang dan Wirasaba yang setelah tiga kali serangan dapat ditaklukan dan pada tahun 1616 Sultan Agung berhasil menduduki wilayah Lasem. Pada masa pemerintahan Sultan Agung juga terjadi pemberontakan dari wilayah Pajang yaitu pada tahun 1617, tetapi pada tahun berikutnya Pajang dapat dikalahkan oleh tentara Mataram. Selain penaklukan pada daerah-daerah tersebut, Sultan Agung juga memerintahkan untuk menaklukan daerah-daerah lain. Hal ini benar-benar dilakukannya, terbukti hampir seluruh tanah Jawa di bawah kekuasaannya, dan bahkan sampai ke luar Jawa. Penaklukan yang kemudian dilakukan adalah di daerah Tuban pada tahun 1619.

Sultan Agung juga mengikuti jejak ayahnya untuk melakukan hubungan        kerjasama dengan bangsa barat, yaitu  salah  satunya adalah  Belanda. Pada  tahun

1614 dari pihak Belanda mulai mengirim perutusan ke Mataram. Tetapi setelah beberapa tahun menjalin hubungan kerjasama dengan pihak Belanda, raja mulai tidak senang terhadap bangsa asing itu. Hal itu disebabkan oleh tingkah bangsa Belanda sendiri. Mereka bertindak semaunya tanpa menghargai penduduk pribumi. Orang-orang Belanda juga berusaha sekuat tenaga mengeruk keuntungan dari sebuah kepercayaan raja yang diberikan kepada mereka. Raja menjanjikan pembebasan bea cukai, bahan-bahan bangunan beserta tanah untuk pihak Belanda yang digunakan untuk mendirikan kantor dagang Belanda. Tetapi pada kenyataannya pihak Belanda tidak dapat berterima kasih untuk semua itu. Oleh sebab itu pada tahun 1618 atas perintah Sultan Agung, seorang Gubernur Jepara yang bernama Koja Hulubalang menyerang kantor dagang Belanda di Jepara yang dinamakan Loji itu. Hal itu dilakukan Sultan Agung karena orang-orang Belanda berani merebut kapal-kapal milik Jepara. Begitulah Sultan Agung, seorang raja yang sangat terkenal menentang praktek perdagangan kongsi dagang VOC milik Belanda yang curang dan menindas rakyat pribumi.

Tindakan selanjutnya yang dilakukan Sultan Agung untuk mengembangkan kekuasaan adalah melakukan penaklukan kembali ke berbagai daerah. Pada tahun 1622, daerah yang merupakan wilayah taklukan Surabaya yaitu Sukadana ditaklukan oleh Kerajaan Mataram. Pada tahun 1624 giliran Madura yang ditaklukan yang merupakan daerah sumber bahan makanan bagi Surabaya. Kedua daerah itu ditaklukan agar kekuatan Surabaya dapat dilemahkan. Selain itu, Sultan Agung juga harus menghadapi pemberontakan dari Pati di bawah pimpinan Adipati Pragola, tetapi pemberontakan itu dapat dikalahkan. Setelah beberapa tahun berikutnya, Sultan Agung atas dasar tidak senang terhadap Belanda mulai menyerang tempat kedudukan Kompeni itu di Batavia. Penyerangan terhadap Batavia dilakukan karena pihak Belanda tidak mau membantu Mataram untuk menyerang Banten, Mataram menganggap Belanda sebagai musuh. Penolakan ini menyebabkan Sultan Agung bertekad untuk menaklukan Batavia terlebih dahulu sebelum menyerang Banten. Penyerangan terhadap Batavia dilakukan sebanyak dua kali yaitu pada tahun 1628 dan tahun 1629, tetapi keduanya mengalami kegagalan.

Selain ingin menaklukan Batavia, keinginan Sultan Agung adalah menaklukan daerah Giri. Karena Raja Giri sangat sulit untuk ditaklukan maka Sultan Agung meminta bantuan dari orang lain, ia adalah Pangeran Pekik dari Surabaya. Oleh karena itu Mataram berusaha untuk berdamai dengan Surabaya. Perdamaian itu terjadi pada tahun 1633 dan Pangeran Pekik bersedia membantu Raja Mataram. Pada tahun 1636 Giri dapat ditaklukan oleh Pangeran Pekik dan istrinya yaitu Ratu Pandan Sari yang merupakan adik Sultan Agung. Mengenai kegagalan Sultan Agung dalam menaklukan Batavia, Sultan Agung berusaha meminta bantuan dari bangsa barat yang lain yaitu Portugis. Hubungan kerjasama itu mulai terjalin pada tahun 1631, tetapi pada tahun-tahun berikutnya sama sekali tidak ada hasilnya meminta bantuan dari Portugis karena Mataram masih belum mampu menaklukan Batavia. Walaupun demikian Raja Mataram tetap menghargai hubungan antara mereka. Setelah itu Sultan Agung juga memperluaskan kekuasaannya ke wilayah Blambangan. Serangan besar yang pertama dilakukan pada tahun 1635 tetapi mengalami kegagalan, baru pada serangan yang kedua yaitu dari tahun 1636 sampai 1640 Mataram dapat menaklukan Blambangan. Selain di pulau Jawa, Kerajaan Mataram di bawah pemerintahan Sultan Agung juga memperluas kekuasaannya sampai ke luar pulau Jawa. Hal ini terbukti selain Sukadana di Kalimantan dapat ditaklukan, Palembang, Jambi dan Banjarmasin juga tunduk di bawah kekuasaan Mataram, bahkan Kerajaan Cerebon sendiri mengakui akan kebesaran nama Mataram.

Setelah banyak melakukan ekspansi ke berbagai wilayah, nama Mataram pun semakin besar di mata dunia. Usia Sultan Agung pun semakin tidak memungkinkan  baginya untuk lebih lama lagi berkuasa di tanah Jawa, oleh sebab itu ia pun mulai membangun  makam di atas bukit. Raja-raja pendahulu Sultan Agung dimakamkan di sebelah masjid di Kotagede, Tetapi Sultan Agung semasa hidupnya menyuruh membuat makam yang letaknya tinggi di atas bukit. Pembangunan makam ini erat hubungannya dengan pengangkatan sebagai Susuhunan pada tahun 1624. Menurut Babad Sangkala, makam tersebut sudah mulai dibangun  sejak tahun 1629 sampai 1630. Akan tetapi raja kecewa karena niatnya ingin menjadi orang pertama dimakamkan di tempat tersebut tidak menjadi kenyataan, karena pamannya Pangeran Juminah terlebih dahulu meninggal dunia pada saat pembangunan makam tersebut sehingga akhirnya dimakamkan di pemakaman tersebut, oleh sebab itu Sultan Agung membuat pemakaman baru yang terletak di Imogiri dan ia merupakan raja pertama yang dimakamkan di daerah itu.

Menurut beberapa sumber, Sultan Agung meninggal di pendapa kratonnya, selama masa hidupnya yang terakhir, raja membuat peraturan-peraturan untuk mencegah perebutan kekuasaan antara putera mahkota dan saudaranya yang lain. Sultan Agung diperkirakan meninggal pada bulan Februari 1646. Selama masa hidupnya Sultan Agung merupakan raja yang sangat berani dan gigih mementang bangsa asing yang salalu menindas penduduk pribumi.

C.     Masa Kejayaan Mataram

Kerajaan Mataram selama empat periode yaitu sejak pemerintahan Ki Ageng Pamanahan sampai pemerintahan Sultan Agung yang merupakan raja keempat Mataram, mengalami perkembangan yang sangat pesat. Sejak diperintah oleh raja merdeka pertama yaitu Panembahan Senapati, Kerajaan Mataram mulai menunjukkan nama besarnya di tanah Jawa. Beberapa kerajaan yang ada di tanah Jawa mengakui diri sebagai wilayah taklukan Mataram. Setelah Mataram di perintah oleh Sultan Agung, Kerajaan Mataram semakin terkenal namanya di tanah Jawa, hampir semua wilayah yang ada di tanah Jawa tunduk dan patuh di bawah kekuasaan Mataram. Sultan Agung merupakan raja yang sangat gigih untuk melakukan ekspansi ke berbagai wilayah, oleh sebab itu Mataram mencapai puncak kejayaannya adalah pada masa pemerintahan Sultan Agung.

Kekuasaan Raja-raja Mataram yang begitu besar sudahlah sangat jelas. Di mata rakyat kekuasaan itu terasa begitu besar sehingga mereka mengakui raja sebagai pemilik segala sesuatu, baik harta benda maupun manusia. Mataram memiliki rakyat yang jutaan jumlahnya. Hal ini disebabkan Raja-raja Mataram khususnya Sultan Agung banyak melakukan ekspansi, sehingga wilayah-wilayah yang kalah, rakyatnya sebagian besar dibawa ke Mataram untuk dijadikan sebagai petani yang handal oleh sebab itu Kerajaan Mataram merupakan kerajaan kaya sebagai penghasil beras.

Selain giat melakukan perluasan wilayah, Sultan Agung, juga sejak pada masa pemerintahan ayahnya Panembahan Krapyak sudah mulai melakukan hubungan kerjasama dengan bangsa asing terutama Belanda. Sultan Agung juga merupakan raja yang sangat haus akan pengetahuan luar negeri, oleh sebab itu ia mengharapkan bangsa asing itu ada yang tinggal dalam istana. Lambat laun hubungan dengan bangsa asing khususnya Belanda tidak berjalan baik. Rasa kepercayaan raja terhadap Belanda memudar bahkan ia mulai menanamkan rasa tidak senang terhadap bangsa tersebut. Hal itu disebabkan bangsa Belanda merupakan bangsa yang tidak bisa berterima kasih. Setelah diterima dengan baik oleh Raja Mataram, mereka mulai tidak mentaati peraturan dan mengingkari perjanjian terhadap Kerajaan Mataram. Bangsa Belanda sangat tidak menghargai tradisi rakyat Jawa, bahkan mereka sering menindas penduduk pribumi, serta melakukan perdagangan dengan cara licik dan menipu rakyat Jawa. Oleh sebab itu Sultan Agung mulai menganggap mereka sebagai musuh, oleh karena itu Sultan Agung merupakan Raja Mataram yang sangat terkenal menentang praktek perdagangan kongsi dagang VOC milik Belanda yang curang dan menindas rakyat pribumi. Hal itu dibuktikan dengan dua kali Sultan Agung melakukan penyerangan terhadap VOC di Batavia. Wawasan politik Sultan Agung juga sangat luas dan jauh ke depan, konsep politik Sultan Agung yaitu doktrin Keagungbinataraan yang berarti bahwa kekuasaan Mataram harus merupakan ketunggalan, utuh, bulat, tidak tersaingi dan tidak terbagi-bagi.

Bangsa asing yang melakukan hubungan dengan Kerajaan Mataram pada masa Sultan Agung selain bangsa Belanda juga bangsa Inggris dan Portugis karena adanya hubungan tersebut semakin menambah besarnya nama Mataram yang tidak hanya di tanah Jawa saja tetapi sampai ke luar pulau Jawa. Bangsa-bangsa barat juga mengakui akan kekuatan dan kebesaran yang dimiliki Mataram. Menjalin hubungan dengan bangsa Portugis sendiri ternyata masih belum mampu membantu Mataram untuk menaklukan Batavia, walaupun demikian Raja Mataram tetap menghargai hubungan yang terjalin diantara mereka dan walaupun tidak tercapainya kemenangan-kemenangan yang menonjol justru membantu menjadikan orang-orang Mataram menarik di mata orang-orang Nusantara yang lain sehingga wilayah-wilayah kekuasaannya tetap memihak kepada Mataram meskipun kemenangan itu belum dicapai sepenuhnya.

Kerajaan Mataram dapat mencapai puncak kejayaannya bukan hanya karena faktor politik dan militer saja, tetapi faktor budaya juga mendukung kejayaan tersebut. Pada pemerintahan raja-raja sebelum Sultan Agung, Kerajaan Mataram belum terfokus pada bidang kebudayaan karena raja-raja sebelumnya giat melakukan ekspansi dan melawan pemberontakan-pemberontakan dari daerah jajahan. Tetapi pada masa Sultan Agung, selain giat dibidang politik dan militer ia juga giat dalam bidang kebudayaan yang berkembang di Kerajaan Mataram, yang merupakan perpaduan antara tradisi Jawa dengan Islam. Nilai-nilai Islam diserap menjadi bagian dari budaya Jawa yang melalui sebuah pendekatan yang disebut Islamisasi Kultur Jawa. Melalui pendekatan ini budaya Jawa diupayakan agar tampak bercorak Islam. Upaya ini ditandai dengan penggunaan istilah-istilah Islam, nama-nama Islam, penerapan hukum dan norma-norma Islam.

Sebagai bukti adanya perpaduan Islam adalah kemampuan Sultan Agung dalam menyusun kalender Jawa yang berpedoman pada perjalanan bulan atau Lunar dan disesuaikan dengan kalender Hijriyah. Padahal kalender Jawa yang asli yang waktu itu berlaku adalah kalender Saka yang mengikuti perjalanan matahari atau Solar. Selain itu ada pula penggunaan tata bahasa di kalangan kraton. Bila dilihat dari upacara tradisi Jawa, upacara tradisi yang paling terkenal adalah upacara Labuhan. Upacara Labuhan merupakan upacara persembahan yang dilakukan di laut selatan. Hal ini berkaitan dengan hubungan Raja-raja Mataram dengan penguasa di laut selatan itu. Dipercaya bahwa penguasa laut selatan tersebut selalu membantu Raja-raja Mataram dalam berperang dan melakukan penaklukan di berbagai daerah. Selain upacara Labuhan tersebut, upacara yang tidak kalah terkenal adalah upacara Sadran yang biasa disebut Nyadran yang masih dilakukan oleh masyarakat Jawa dengan patuh, upacara dilakukan di dalam bulan Ruwah (Jawa) atau Sya’ban (Hijriyah) sesudah tanggal 11 hingga menjelang ibadah puasa di bulan Ramadhan.

Keunggulan lain dari Sultan Agung yaitu kemampuan dalam menjalin hubungan dengan kraton luar Jawa. Sesungguhnya dalam pengembangan kebudayaan terlihat dalam penulisan tarikh Jawa yaitu babad dan pembangunan makam di atas bukit. Sultan Agung selain sebagai raja, juga dijuluki sebagai pujangga. Karya mistiknya yang terkenal yaitu Sastra Gending, Kitab Nitisastra dan Serat Pangracutan. Dengan adanya faktor budaya sebagi pendukung kekuasaan Kerajaan Mataram, maka semakin lengkaplah kejayaan tersebut, Sultan Agung dapat bangga akan usaha dan kerja kerasnya dalam berjuang mengangkat nama besar Kerajaan Mataram, sehingga hampir seluruh tanah Jawa tunduk dan patuh di bawah kekuasaan Mataram.

D.     Wilayah Kekuasaan Mataram

Kerajaan Mataram sejak raja pertama sampai raja keempat, mempunyai wilayah kekuasaan yang luas sekali. Pada masa pemrintahan raja pertama Mataram yaitu Ki Pamanahan masih berbentuk kadipaten atau kerajaan kecil yang sangat tunduk dan patuh pada kekuasaan Karajaan Pajang sehingga tidak mugkin untuk melakukan perluasan wilayah. Tetapi sejak Kerajaan Mataram menjadi kerajaan merdeka dan berdiri sendiri di bawah pemerintahan raja merdeka pertama yaitu Panembahan Senapati, Mataram mulai meluaskan wilayahnya. Begitu pula pada masa pemerintahan raja selanjutnya yaitu Panembahan Krapyak, ia juga giat melakukan perluasan wilayah dan ketika pemerintahan Kerajaan Mataram dipegang oleh Sultan Agung, Mataram benar-benar mencapai puncak kejayaannya dan wilayah kekuasaannya meluas di mana-mana.

Wilayah kekuasan Mataram mencakup dari wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat. Bahkan Mataram juga meluaskan wilayah kekuasaan sampai ke luar pulau Jawa. Kerajaan Mataram pada masa pemerintahan Senapati, semasa hidupnya ia menaklukkan beberapa wilayah. Wilayah yang mula-mula di bawah kekuasaannya adalah Pajang. Sejak meninggalnya raja Pajang yang pertama dan berkat jasanya mengusir keturunan Demak yang menjadi pengganti Sultan Pajang, mulai dari itulah Pajang di bawah perlindungan kekuasaan Mataram. Adapun wilayah-wilayah kekuasaan Pajang seperti Demak, Jipang, Pati dan Jepara secara tidak langsung menjadi daerah kekuasaan Mataram juga. Penaklukan wilayah yang paling sukses yang dilakukan oleh Panembahan Senapati adalah penaklukan di wilayah Madiun. Alasan utama terjadinya perselisihan antara Mataram dan Madiun, karena Mataram telah memaksa penguasa di Blora untuk mengakui kekuasaan Mataram. Walaupun Madiun mendapat bantuan dari daerah lain, Mataram dengan taktiknya dapat mengalahkan Madiun pada tahun 1590 M. Wilayah taklukan yang lain Kerajaan Mataram adalah Pasuruan yang menyerah begitu saja pada Mataram, walau sebelum menyerah raja Pasuruan pernah menyuruh seorang penguasa di Kaniten untuk menentang Senapati, walaupun pada akhirnya mereka kalah dan akhirnya menyerah kepada Mataram. Selain daerah-daerah tersebut, daerah yang paling awal mengakui Senapati menjadi gusti mereka yaitu daerah Bagelen dan Pamajegan. Tujuan dilakukannya perluasan wilayah oleh Panembahan Senapati yaitu agar kekuasaannya diakui oleh para Adipati Jawa Timur. Akan tetapi pada kenyataannya ia tidak mendapatkan pengakuan yang diharapkan dari pihak pejabat di Jawa Timur, dan bahkan dalam melakukan perluasan wilayah tersebut ia banyak mengalami kegagalan.

Seperti yang telah diketahui, setelah meninggalnya Panembahan Senapati pada tahun 1601, ia digantikan oleh puteranya yang bernama Panembahan Krapyak. Masa pemerintahan Panembahan Krapyak tidak banyak melakukan perluasan wilayah karena sejak diangkatnya ia menjadi raja, ia harus menghadapi pemberontakan dari kedua saudaranya yang menjabat di Demak dan Ponorogo. Setelah selesai mematahkan pemberontakan-pemberontakan tersebut, barulah  ia melakukan perluasan wilayah.

Tujuan utama Panembahan Krapyak melakukan ekspansi adalah ke wilayah Surabaya dan sekitarnya. Penyerangan terhadap Surabaya sendiri baru dilakukan pada tahun 1611, tetapi Surabaya merupakan kerajaan yang sangat kuat, bahkan sejak masa pemerintahan Senapati Mataram belum mampu mengalahkan Surabaya. Wilayah kekuasaan Surabaya yang berhasil ditaklukan yaitu Gresik pada tahun 1613.

Bila dilihat dari wilayah kekuasaan Pangeran Jayaraga di Ponorogo, berarti secara otomatis wilayah itu merupakan wilayah taklukan Mataram. Pada saat Belanda datang ke Surabaya pada tahun 1613 dikatakan mereka ditemui oleh Raja Jepara dan Kudus yang merupakan wilayah jajahan Mataram. Cerita tentang perluasan wilayah yang dilakukan oleh Panembahan Krapyak hanya sedikit yang dapat diketahui. Sedikitnya keterangan yang didapat dari daftar tahun-tahun tersebut merangsang keinginan untuk mengetahui tentang hal itu lebih banyak. Tetapi bila digabungkan dari berita-berita Belanda dan cerita-cerita Jawa maka dapat diketahui bahwa Panembahan Krapyak merupakan seorang raja yang sangat pemberani.

Setelah wafat, Panembahan Krapyak digantikan oleh puteranya yaitu Sultan Agung. Pada masa pemerintahannya banyak wilayah di tanah Jawa yang ditaklukan, dan setelah menjadi raja ia segera melanjutkan peperangan terhadap Surabaya. Serangan militer yang pertama dilakukan sampai jauh ke daerah timur. Atas perintah Sultan Agung, Tumenggung Suratani menyuruh Tumenggung Alap-Alap untuk merebut daerah Lumajang dan Renong, setelah itu mereka bergerak ke Malang dan berhasil merebut semua daerah itu. Di daerah Wirasaba raja sendiri yang ikut melakukan penaklukan dan setelah dilakukan tiga kali serangan hebat Wirasaba dapat ditaklukan. Kemudian pada tahun 1616 Mataram juga berhasil menduduki daerah Lasem.

Selain penaklukan pada daerah-daerah tersebut, Sultan Agung juga menaklukkan daerah-daerah lain. Terbukti hampir seluruh wilayah di tanah Jawa di bawah kekuasaan Mataram, bahkan kekuasaan itu sampai juga ke luar pulau Jawa. Keberhasilan ekspansi yang kemudian dilakukan yaitu pada wilayah Tuban yang terjadi pada tahun 1619. Tindakan selanjutnya yang dilakukan oleh Sultan Agung untuk mengembangkan kekuasaan adalah melakukan penaklukan kembali ke berbagai daerah. Seperti yang telah diketahui, Surabaya merupakan wilayah yang kuat. Pada tahun 1620 Sultan Agung mulai melakukan penyerangan terhadap Surabaya tetapi penyerangan pertama itu mengalami kegagalan. Belajar dari pengalaman pertama yang gagal, Sultan Agung mencoba menyerang Surabaya dengan strategi baru yaitu melakukan penyerangan dari arah laut, tetapi penyerangan yang dilakukan pada tahun 1621 ini juga mengalami kegagalan. Agar sedikit melemahnya kekuatan Surabaya  maka pada tahun 1622 dilakukan penaklukan terhadap wilayah jajahan Surabaya  yang ada di Kalimantan yaitu Sukadana.

Oleh karena Surabaya merupakan kerajaan yang kuat, maka penyerangan yang ketiga dan keempat yaitu pada tahun 1622 dan 1623 yang dilakukan oleh Mataram tetap mengalami kegagalan, karena itu pada tahun 1624 ditaklukkan kembali daerah jajahan Surabaya yaitu Madura yang merupakan daerah sebagai sumber bahan makanan Surabaya. Setelah melakukan penyerangan yang kelima yaitu pada tahun 1624 dan 1625 barulah Surabaya benar-benar dapat dikalahkan oleh Mataram. Hal itu karena kecerdasan tentara Mataram yang membendung sungai dan hanya sedikit saja air yang melewati bendungan tersebut. Air yang sedikit itu oleh tentara Mataram diracuni dengan menggunakan bangkai hewan dan buah Aren. Hal itu mengakibatkan banyak rakyat Surabaya yang meninggal karena keracunan sehingga akhirnya Surabaya menyatakan kalah terhadap Kerajaan Mataram.

Pada tahun 1628 merupakan tahun kegagalan pertama dilakukannya penyerangan terhadap Batavia. Hal itu menyebabkan Sumedang dan Ukur yang ada di tanah Sunda mengkhianati Mataram. Bila dilihat dari kejadian itu dapat disimpulkan bahwa kedua daerah itu juga merupakan wilayah jajahan Mataram. Setelah lama tidak melakukan ekspansi, sasaran penaklukan pada tahun 1635 adalah wilayah Giri. Hambatan dari penaklukan itu adalah karena Giri merupakan tempat tinggal dari seorang yang beraliran spiritual yaitu Sunan Giri. Sultan Agung merasa ragu untuk melakukan penyerangan tersebut. Oleh karena itu untuk melakukan penaklukan itu haruslah dilakukan oleh seorang yang beraliran sama pula. Sultan Agung berfikir Pangeran Pekik dari Surabayalah yang pantas untuk melakukan tugas itu karena Pangeran Pekik merupakan keturunan dari Sunan Ampel. Oleh sebab itu pada tahun 1633 Mataram berusaha untuk berdamai dengan Surabaya agar Pangeran Pekik mau membantu Raja Mataram itu. Setelah berdamai dan Pangeran Pekik bersedia membantu Sultan Agung, pada tahun 1635 ia dan isterinya Ratu Pandan Sari yang merupakan adik Sultan Agung dikirim ke Giri untuk menaklukan daerah tersebut dan pada tahun 1636 wilayah itu berhasil ditaklukan. Wilayah selanjutnya yang menjadi sasaran penaklukan Sultan Agung adalah Blambangan. Penyerangan dilakukan sebanyak dua kali, penyerangan pertama dilakukan pada tahun 1635 tetapi mengalami kegagalan, baru setelah penyerangan yang kedua yaitu dari tahun 1636 sampai tahun 1640 Mataram berhasil menduduki Blambangan.

Wilayah kekuasaan Mataram di luar pulau Jawa selain Sukadana di Kalimantan yaitu antara lain Palembang, Jambi, Makasar, Banjarmasin, dan Cirebon. Semua wilayah itu bersedia menjadi daerah bawahan Kerajaan Mataram. Tetapi dari daerah-daerah tersebut yang melakukan pengkhianatan terhadap Mataram hanya Kerajaan Cirebon saja, karena penguasa Cirebon beranggapan Mataram telah membuat mereka mengalami kerugian yang sangat besar pada saat diperintahkan untuk menyerang Banten. pada akhirnya setelah mempunyai kesempatan, Cirebon dengan segera berpindah memihak pada kompeni untuk melawan Mataram.

Demikianlah sepak terjang Kerajaan Mataram di dunia perpolitikan, namanya semakin lama semakin terkenal di mana-mana dan diakui pula bahwa Mataram merupakan sebuah kerajaan yang sangat kuat dan berkuasa sehingga hampir seluruh wilayah di tanah Jawa mengakui kekuasaan dan kebesaran Mataram, walaupun kelak setelah pemerintahan Kerajaan Mataram dipegang oleh raja-raja setelah Sultan Agung, mulai mengalami kemunduran dan perpecahan karena semakin banyaknya campur tangan bangsa asing terhadap pemerintahan Kerajaan Mataram.

14 Januari 2008 Ditulis oleh Yoyok Putra Muria | SEJARAH | | & Komentar

KERAJAAN MATARAM

Kerajaan Mataram Islam

Nama kerajaan Mataram tentu sudah pernah Anda dengar sebelumnya dan ingatan Anda pasti tertuju pada kerajaan Mataram wangsa Sanjaya dan Syailendra pada zaman Hindu-Budha. Kerajaan Mataram yang akan dibahas dalam modul ini, tidak ada hubungannya dengan kerajaan Mataram zaman Hindu-Budha. Mungkin hanya kebetulan nama yang sama. Dan secara kebetulan keduanya berada pada lokasi yang tidak jauh berbeda yaitu Jawa Tengah Selatan.

Pada awal perkembangannya kerajaan Mataram adalah daerah kadipaten yang dikuasai oleh Ki Gede Pamanahan. Daerah tersebut diberikan oleh Pangeran Hadiwijaya (Jaka Tingkir) yaitu raja Pajang kepada Ki Gede Pamanahan atas jasanya membantu mengatasi perang saudara di Demak yang menjadi latar belakang munculnya kerajaan Pajang. Ki Gede Pamanahan memiliki putra bernama Sutawijaya yang juga mengabdi kepada raja Pajang sebagai komando pasukan pengawal raja. Setelah Ki Gede Pamanahan meninggal tahun 1575, maka Sutawijaya menggantikannya sebagai adipati di Kota Gede tersebut. Setelah pemerintahan Hadiwijaya di Pajang berakhir, maka kembali terjadi perang saudara antara Pangeran Benowo putra Hadiwijaya dengan Arya Pangiri, Bupati Demak yang merupakan keturunan dari Raden Trenggono.

Akibat dari perang saudara tersebut, maka banyak daerah yang dikuasai Pajang melepaskan diri, sehingga hal inilah yang mendorong Pangeran Benowo meminta bantuan kepada Sutawijaya. Atas bantuan Sutawijaya tersebut, maka perang saudara dapat diatasi dan karena ketidakmampuannya maka secara sukarela Pangeran Benowo menyerahkan takhtanya kepada Sutawijaya. Dengan demikian berakhirlah kerajaan Pajang dan sebagai kelanjutannya muncullah kerajaan Mataram. Lokasi kerajaan Mataram tersebut di Jawa Tengah bagian Selatan dengan pusatnya di kota Gede yaitu di sekitar kota Yogyakarta sekarang.

Kehidupan Politik

Pendiri kerajaan Mataram adalah Sutawijaya. Ia bergelar Panembahan Senopati, memerintah tahun (1586 – 1601). Pada awal pemerintahannya ia berusaha menundukkan daerah-daerah seperti Ponorogo, Madiun, Pasuruan, dan Cirebon serta Galuh. Sebelum usahanya untuk memperluas dan memperkuat kerajaan Mataram terwujud, Sutawijaya digantikan oleh putranya yaitu Mas Jolang yang bergelar Sultan Anyakrawati tahun 1601 – 1613. Sebagai raja Mataram ia juga berusaha meneruskan apa yang telah dilakukan oleh Panembahan Senopati untuk memperoleh kekuasaan Mataram dengan menundukkan daerah-daerah yang melepaskan diri dari Mataram. Akan tetapi sebelum usahanya selesai, Mas Jolang meninggal tahun 1613 dan dikenal dengan sebutan Panembahan Sedo Krapyak. Untuk selanjutnya yang menjadi raja Mataram adalah Mas Rangsang yang bergelar Sultan Agung Senopati ing alogo Ngabdurrahman, yang memerintah tahun 1613 – 1645. Sultan Agung merupakan raja terbesar dari kerajaan ini. Pada masa pemerintahannya Mataram mencapai puncaknya, karena ia seorang raja yang gagah berani, cakap dan bijaksana.

Pada tahun 1625 hampir seluruh pulau Jawa dikuasainya kecuali Batavia dan Banten. Di samping mempersatukan berbagai daerah di pulau Jawa, Sultan Agung juga berusaha mengusir VOC Belanda dari Batavia. Untuk itu Sultan Agung melakukan penyerangan terhadap VOC ke Batavia pada tahun 1628 dan 1629 akan tetapi serangan tersebut mengalami kegagalan. Penyebab kegagalan serangan terhadap VOC antara lain karena jarak tempuh dari pusat Mataram ke Batavia terlalu jauh kira-kira membutuhkan waktu 1 bulan untuk berjalan kaki, sehingga bantuan tentara sulit diharapkan dalam waktu singkat. Dan daerah-daerah yang dipersiapkan untuk mendukung pasukan sebagai lumbung padi yaitu Kerawang dan Bekasi dibakar oleh VOC, sebagai akibatnya pasukan Mataram kekurangan bahan makanan. Dampak pembakaran lumbung padi maka tersebar wabah penyakit yang menjangkiti pasukan Mataram, sedangkan pengobatan belum sempurna. Hal inilah yang banyak menimbulkan korban dari pasukan Mataram. Di samping itu juga sistem persenjataan Belanda lebih unggul dibanding pasukan Mataram.

Untuk selanjutnya silahkan Anda diskusikan dengan teman-teman Anda mencari penyebab kegagalan yang lain serangan Mataram ke batavia. Hasil diskusi Anda dapat dikumpulkan pada guru bina Anda dan kemudian lanjutkan menyimak uraian materi selanjutnya. Walaupun penyerangan terhadap Batavia mengalami kegagalan, namun Sultan Agung tetap berusaha memperkuat penjagaan terhadap daerah-daerah yang berbatasan dengan Batavia, sehingga pada masa pemerintahannya VOC sulit menembus masuk ke pusat pemerintahan Mataram. Setelah wafatnya Sultan Agung tahun 1645, Mataram tidak memiliki raja-raja yang cakap dan berani seperti Sultan Agung, bahkan putranya sendiri yaitu Amangkurat I dan cucunya Amangkurat II, Amangkurat III, Paku Buwono I, Amangkurat IV, Paku Buwono II, Paku Buwono III merupakan raja-raja yang lemah. Sehingga pemberontakan terjadi antara lain Trunojoyo 1674-1679, Untung Suropati 1683-1706, pemberontakan Cina 1740-1748.

Kelemahan raja-raja Mataram setelah Sultan Agung dimanfaatkan oleh penguasa daerah untuk melepaskan diri dari kekuasaan Mataram juga VOC. Akhirnya VOC berhasil juga menembus ke ibukota dengan cara mengadu-domba sehingga kerajaan Mataram berhasil dikendalikan VOC. VOC berhasil menaklukan Mataram melalui politik devide et impera, kerajaan Mataram dibagi dua melalui perjanjian Gianti tahun 1755. Sehingga Mataram yang luas hampir meliputi seluruh pulau Jawa akhirnya terpecah belah :

1. Kesultanan Yogyakarta, dengan Mangkubumi sebagai raja yang bergelar Sultan Hamengkubuwono I.

2. Kasunanan Surakarta yang diperintah oleh Sunan Paku Buwono III.

Belanda ternyata belum puas memecah belah kerajaan Mataram. Akhirnya melalui politik adu-domba kembali tahun 1757 diadakan perjanjian Salatiga. Mataram terbagi 4 wilayah yaitu sebagian Surakarta diberikan kepada Mangkunegaran selaku Adipati tahun 1757, kemudian sebagian Yogyakarta juga diberikan kepada Paku Alam selaku Adipati tahun 1813.

Demikianlah perkembangan politik kerajaan Mataram. Untuk menambah pemahaman Anda, buatlah silsilah raja-raja Mataram dari awal berdirinya Mataram sampai tahun 1757. Sebagai referensinya Anda dapat membaca buku Sejarah Nasional

Kehidupan Ekonomi

Letak kerajaan Mataram di pedalaman, maka Mataram berkembang sebagai kerajaan agraris yang menekankan dan mengandalkan bidang pertanian. Sekalipun demikian kegiatan perdagangan tetap diusahakan dan dipertahankan, karena Mataram juga menguasai daerah-daerah pesisir. Dalam bidang pertanian, Mataram mengembangkan daerah persawahan yang luas terutama di Jawa Tengah, yang daerahnya juga subur dengan hasil utamanya adalah beras, di samping kayu, gula, kapas, kelapa dan palawija. Sedangkan dalam bidang perdagangan, beras merupakan komoditi utama, bahkan menjadi barang ekspor karena pada abad ke-17 Mataram menjadi pengekspor beras paling besar pada saat itu. Dengan demikian kehidupan ekonomi Mataram berkembang pesat karena didukung oleh hasil bumi Mataram yang besar. Dari penjelasan tersebut, apakah Anda sudah memahami? Kalau sudah paham, bandingkan dengan uraian materi selanjutnya.

Kehidupan Sosial Budaya

Sebagai kerajaan yang bersifat agraris, masyarakat Mataram disusun berdasarkan sistem feodal. Dengan sistem tersebut maka raja adalah pemilik tanah kerajaan beserta isinya. Untuk melaksanakan pemerintahan, raja dibantu oleh seperangkat pegawai dan keluarga istana, yang mendapatkan upah atau gaji berupa tanah lungguh atau tanah garapan. Tanah lungguh tersebut dikelola oleh kepala desa (bekel) dan yang menggarapnya atau mengerjakannya adalah rakyat atau petani penggarap dengan membayar pajak/sewa tanah. Dengan adanya sistem feodalisme tersebut, menyebabkan lahirnya tuan-tuan tanah di Jawa yang sangat berkuasa terhadap tanah-tanah yang dikuasainya. Sultan memiliki kedudukan yang tinggi juga dikenal sebagai panatagama yaitu pengatur kehidupan keagamaan. Sedangkan dalam bidang kebudayaan, seni ukir, lukis, hias dan patung serta seni sastra berkembang pesat. Hal ini terlihat dari kreasi para seniman dalam pembuatan gapura, ukiran-ukiran di istana maupun tempat ibadah. Contohnya gapura Candi Bentar di makam Sunan Tembayat (Klaten) diperkirakan dibuat pada masa Sultan Agung.

Contoh lain hasil perpaduan budaya Hindu-Budha-Islam adalah penggunaan kalender Jawa, adanya kitab filsafat sastra gending dan kitab undang-undang yang disebut Surya Alam. Contoh-contoh tersebut merupakan hasil karya dari Sultan Agung sendiri.

Di samping itu juga adanya upacara Grebeg pada hari-hari besar Islam yang ditandai berupa kenduri Gunungan yang dibuat dari berbagai makanan maupun hasil bumi. Upacara Grebeg tersebut merupakan tradisi sejak zaman Majapahit sebagai tanda terhadap pemujaan nenek moyang.

14 Januari 2008 Ditulis oleh Yoyok Putra Muria | SEJARAH | | & Komentar