Indonesianto 07

Yoyok Putra Muria

MATARAM ISLAM (2)

MATARAM ISLAM

A.     Awal Pertumbuhan Mataram

Awal mula berdirinya sebuah kerajaan kecil atau sebuah kadipaten di tanah Mataram tidak lepas dari peranan seseorang yang bernama Ki Pamanahan yang juga merupakan pendiri Dinasti Mataram. Ki Pamanahan merupakan keturunan dari Ki Ageng Sela. Nama Ki Ageng Sela sendiri berasal dari nama suatu tempat yaitu desa Sela di daerah Grobogan, tidak jauh dari Purwadadi. Di sana pulalah letak kompleks pemakamam “Krajang Sela”  yang merupakan makam Ki Ageng Sela dan kedua istrinya. Apabila dilihat dari asal keturunan, Dinasti Mataram tidak berasal dari kelas penguasa. Nenek moyang Raja-raja Mataram yaitu Ki Ageng Sela sendiri adalah seorang pemuka pedukuhan atau desa Sela, ia dikenal sebagai seorang petani yang rajin. Terbukti ia bekerja keras di sawah, barangnya yang dianggap sebagai suatu peninggalan yaitu berupa cangkul dan caping tersimpan di Museum Radyapustaka Surakarta.

            Ki Ageng Sela merupakan anak dari Ki Getas Pendawa yang merupakan cucu dari Raja Majapahit.  Setelah Ki Ageng Sela menikah ia memiliki tujuh orang anak dan anak yang paling bungsu merupakan anak lak-laki yang bernama Ki Ageng Ngenis. Ki Ageng Ngenis inilah yang merupakan ayah dari Ki Pamanahan. Orang-orang dari Sela tersebut mempunyai hubungan yang sangat erat dengan Raja Pajang. Di istana Pajang, menurut penulis Mataram, terdapat orang-orang yang berasal dari Sela. Yang pertama yaitu Ki Pamanahan yang menikah dengan sepupunya sendiri yang merupakan anak dari kakak kandung ayahnya, tokoh yang kedua yaitu Ki Juru Martani yang merupakan saudara kandung Ki Pamanahan, tokoh yang ketiga disebut sebagai putera angkat Ki Ageng Ngenis yang bernama Ki Panjawi. Menurut cerita, Ki Pamanahan dan Ki Panjawi sangat disenangi oleh Sultan Pajang, mereka dijadikan pemimpin para tamtama dan mereka disebut sebagai saudara tua oleh Sultan Pajang. Sementara itu Ki Juru Martani sendiri dijadikan penasehat kedua orang tersebut.

            Ki Pamanahan dan Ki Panjawi merupakan tokoh yang penting dan berjasa dalam perang merebut kekuasaan Jipang oleh Kerajaan Pajang. Sultan Pajang yaitu Hadiwijaya merupakan menantu Raja Demak  yang bernama Trenggana, setelah Trenggana wafat ia digantikan oleh puteranya yang bernama Pangeran Prawata yang bergelar Sunan Prawata. Tetapi Sunan Prawata sendiri dibunuh oleh Aria Panangsang yang merupakan sepupu sunan Prawata. Aria Panangsang sendiru kemudian dibunuh oleh orang-orang suruhan Sultan Pajang.

            Menurut Babad Tanah Jawi, yang mengatakan bahwa Raja Pajang telah menghadiahkan tanah Pati dan tanah Mataram kepada orang-orang yang mampu mengalahkan  Aria Panangsang. Pada tahun 1558 Sultan Pajang berhasil mengalahkan Aria Panangsang dari Jipang. Kemenangan itu tidak lepas dari jasa orang-orang suruhannya yaitu Ki Pamanahan dan Ki Panjawi. Tetapi sesungguhnya orang yang telah membunuh Aria Panangsang adalah seperti yang diceritakan dalam Babad Meinsma adalah Sutawijaya yang merupakan anak kandung Ki Pamanahan. Sutawijaya juga merupakan anak angkat Sultan Pajang. Atas jasa tersebut Sultan Hadiwijaya memberikan tanda ucapan terima kasih berupa tanah Pati dan tanah Mataram. Dalam Babad Tanah Jawi yang mengatakan bahwa Sultan Hadiwijaya meminta kepada Ki Pamanahan agar memilih tanah Pati atau tanah Mataram. Ki Pamanahan berpendapat bahwa haknya sebagai anak sulung membawanya pada kedudukan yang lebih rendah. Oleh sebab itu ia memilih tanah Mataram yang masih berupa hutan belukar dan tanah Pati yang telah berbentuk kota dan mempunyai penduduk 10.000 orang diserahkan kepada Ki Panjawi.

Akan tetapi menurut cerita tutur Jawa Barat menyebutkan, oleh karena asal keturunan orang Mataram yang sangat rendah tersebut menyebabkan tanah Mataram tidak diperoleh dengan cara damai tetapi dengan penaklukan secara kekerasan. Jac Couper juga memberitakan bahwa Ki Pamanahan menjadi kepala perampok di “Negeri Mataram” dan menamakan dirinya menurut nama tempat itu. Dikatakan pula Ki Pamanahan dikirim ke Mataram sebagai panglima oleh Sultan Hadiwijaya untuk mengislamkan wilayah tersebut yang berarti dengan kekerasan. Apabila dilihat dari sumber Jawa maupun berita-berita tua dibandingkan antara berita penyerahan kedua daerah tersebut sebagai tanda jasa kemenangan mereka terhadap Jipang dengan berita-berita tua yang mengatakan bahwa tanah Mataram ditaklukkan dengan kekerasan, maka kiranya berita-berita tua itulah yang lebih meyakinkan dan dapat diterima serta dipandang sebagai berita yang asli.

            Setelah Mataram menjadi miliknya, Ki Pamanahan mulai berangkat ke Mataram yang disertai anak-anak dan isterinya, terutama anaknya yang bernama Sutawijaya dibawa pula, serta para sanak keluarga yang lain dari Pamanahan dibawa juga. Tanah Mataram juga terkenal dengan nama Alas Mentaok karena daerah itu masih berupa hutan belukar. Pada hari yang telah ditentukan oleh Ki Pamanahan penduduk mulai membersihkan hutan dan membangun sebuah Dalem  atau perkampungan. Penanggalan berdirinya Kerajaan Mataram mengalami suatu problem yang sulit. Berbagai daftar tahun diperlihatkan jurang yang menimbulkan pertanyaan. Menurut Raffles jurang itu terdapat antara tahun 1556 dan 1577 Masehi. Hageman mencoba menyisipkan beberapa tahun dari sumber lain. Tahun 1577 merupakan angka tahun yang penting artinya bagi Mataram karena menurut cerita tutur Jawa pada tahun ini Kraton Mataram didirikan dan ketika Kraton Plered jatuh yaitu pada tahun 1677, usia Kerajaan Mataram tepat satu abad. Pendirian kraton juga didahului dengan masa yang penuh pertempuran dan kekacauan yaitu selama kurang lebih 19 tahun.

            Pada kenyataannya tanah Mataram merupakan tanah yang subur, cerita mengenai Kraton Mataram  tidak lepas dari sebuah nama wilayah yaitu Kotagede yang merupakan Ibukota Kerajaan Mataram. Kotagede juga disebut dengan Pasar Gede karena keramaian pasarnya. Di dalam perkembangannya seiring dengan berkembangnya Kerajaan Mataram, Ki Pamanahan juga mendirikan sebuah masjid atau langgar, tetapi bentuk masjid itu masih sangat sederhana sekali. Setelah menjadi penguasa di Mataram ia merubah namanya yang semula bernama Ki Gede Pamanahan atau Ki Ageng Pamanahan menjadi Ki Gede Mataram atau Ki Ageng Mataram. Bersangkutan dengan ramalan Sunan Giri mengenai Kerajaan Mataram kelak dipimpin oleh seorang raja yang akan berkuasa di tanah Jawa, maka Ki Pamanahan mempunyai keinginan agar keturunannya yang akan menjadi raja tersebut. Ramalan itu menjadi kenyataan setelah Ki Pamanahan meminum air kelapa ajaib di rumah sahabatnya Ki Ageng Giring di Gunung Kidul. Kelak puteranya yang bernama Sutawijaya akan menjadi raja besar di Mataram.

            Kota Karajaan Mataram makin lama semakin makmur. Hal itu menyebabkan kegelisahan di hati Sultan Pajang. Ia khawatir ramalan Sunan Giri menjadi kenyataan bahwa kelak di Mataram muncul seorang raja yang akan menyamainya, tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa karena kehendak Tuhan tidak mungkin dapat dicegah oleh manusia. Kerajaan Mataram pada masa pemerintahan Ki Ageng Mataram merupakan kerajaan kecil atau berupa sebuah kadipaten yang sangat patuh dan tunduk di bawah kekuasaan Kerajaan Pajang. Menurut Babad Tanah Jawi sejalan dengan semakin makmurnya Mataram, menyusul berita tentang penyakit Ki Gede Mataram yang telah tua itu, ia menyerahkan pemeliharaan atas keturunannya kepada Ki Juru Martani yang harus dipatuhi oleh anak-anaknya. Ki Ageng Mataram wafat pada tahun 1584 M dan dimakamkan di sebelah masjid Kotagede. Mengenai pesan Ki Ageng Mataram kepada Ki Juru Martani, menandakan bahwa keselamatan Mataram berada di tangannya. Oleh karena itu setelah wafatnya Ki Ageng Mataram, Ki Juru Martani diminta memperoleh persetujuan Sultan Pajang mengenai siapa pengganti Ki Ageng Mataram. Menurut cerita tutur jawa sesuai pesan ayahnya, Ki Ageng Mataram dan restu Sultan Hadiwijaya, Sutawijaya atau Senapati yang masih muda itu pada tahun 1584 menjadi pengganti ayahnya sebagai raja di Mataram yang kelak segera setelah ia mendapat kekuasaan atas Mataram, mulai mengadakan persiapan untuk memerdekakan tanah warisnya

.

B.     Perkembangan Kerajaan Mataram   

Setelah wafatnya Ki Ageng Mataram pada tahun 1584, puteranya yang bernama Sutawijaya menggantikan posisi ayahnya. Setelah Ki Ageng Mataram meninggal. Semua puteranya diajak datang  ke Pajang oleh Ki Juru Martani. Setelah memberi tahu Sultan Pajang tentang kematian Ki Ageng Mataram Ki Juru Martani juga meminta saran kepada Sultan tentang pengganti Ki Ageng Mataram. Sesuai pesan ayahnya dan restu dari Sultan Pajang, Sutawijaya menggantikan ayahnya sebagai pembesar di Mataram.

Sutawijaya merupakan anak angkat Sultan Hadiwijaya. Nama asli Sutawijaya adalah Raden Bagus. Setelah dewasa Raden Bagus diangkat sebagai Ngabehi dengan gelar Raden Ngabehi Sutawijaya, yang mempunyai hubungan dengan nama raja sendiri yaitu Hadiwijaya. Suta berarti putra, dan karena ia mendiami dalem di sebelah utara pasar, ia juga dinamakan Raden Ngabehi Saloring Pasar. Setelah menjadi raja, Sutawijaya bergelar Penembahan Senopati Ingalaga Sayidin Panatagama dan pamannya yang sekaligus panasehatnya, Ki Juru Martani juga mendapat gelar Adipati Mandaraka atau lebih dikenal dengan Ki Mandaraka. Sultan juga mengatakan kepada Penembahan Senapati bahwa pada tahun pertama ia tidak perlu datang menghadap Sultan di Pajang, agar menggunakan waktunya untuk menertibkan daerah kekuasaanya dan menikmati kesenangan di Kraton Mataram.

Selama satu tahun pertama sebagai raja di Mataram, ia tidak diwajibkan datang menghadap Sultan di Pajang. Tetapi ternyata kepercayaan itu disalahgunakannya. Penembahan Senopati menyuruh rakyatnya membuat batu bata sebanyak-banyaknya yang digunakan untuk pembuatan tembok benteng. Pada tahun berikutnya ia pun tidak segera menghadap ke Pajang. Sultan Pajang mendengar hal itu segera mengirim dua orang utusannya ke Mataram untuk menemui Senapati. Perintah Sultan Pajang yang disampaikan kepada Senopati yaitu tentang kebiasaannya yang sering mengadakan jamuan, diharuskan mencukur rambutnya dan segera menghadap ke Pajang. Jawaban Senapati yang diucapkan kepada kedua utusan itu merupakan jawaban yang kasar dan tidak pantas untuk disampaikan kepada raja, sehingga jawaban itu diperhalus ketika dilaporkan kepada Sultan Pajang.

Salah satu perintah Sultan Pajang kepada Senapati adalah jangan terlalu sering mengadakan perjamuan dan berfoya-foya. Adapun penjamuan yang sering dilakukan oleh penambahan Senapati adalah mempunyai unsur politik sebagai contoh, ia dapat mempengaruhi petinggi-petinggi dari negeri Kedu dan Bagelen dengan cara menyuguhi mereka dengan pesta yang meriah dan diberi hadiah berupa pakaian-pakaian bagus, Sehingga petinggi-petinggi itu menjanjikan bantuan dan kesetiaan kepada Senapati dan hal yang terburuk adalah mereka tidak lagi memberikan upeti pada Kerajaan Pajang melainkan ke Mataram, dan itu adalah awal mula Panembahan Senopati mendapatkan pengikut.

Kisah mengenai Senopati yang termasuk terkenal yaitu kisah Lipura, yaitu perjalanan Senapati ke Lipura. Sumber-sumber Jawa banyak yang membahas tentang kisah ini,yaitu kisah Senapati tidur di atas batu hitam dan berbicara dengan sebuah bintang. Bintang itu meramalkan akan terkabulkan do’a Senapati dan anak cicitnya kelak juga masih menjadi raja di Mataram tetapi ketika itu kerajaannya akan menjadi musnah dan disertai banyak gejala alam. Untuk memastikan kebenaran ramalan bintang tersebut dan untuk mengetahui apa yang menjadi kehendak Allah, maka Ki Juru Martani menyuruh Senapati pergi ke Laut Selatan untuk memohon kepada Allah. Diceritakan pula setelah kepulangannya dari Laut Selatan ia bertemu Sunan Kalijaga yang sedang bertapa. Sunan itu memerintahkan agar Senapati segera membangun tembok sebagai benteng di sekeliling istananya, oleh sebab itu setiap musim kemarau Senapati memerintah seluruh rakyatnya untuk membakar batu bata sebanyak-banyaknya. Berita tentang prilaku-prilaku Senapati  sampai juga ke telinga Sultan Pajang, oleh sebab itu ia mengutus puteranya pangeran Benawa, menantunya Adipati Tuban dan Patih Temenggung Mancanagara berangkat ke Mataram untuk meminta penjelasan tentang semua itu. Walaupun telah mengetahui dengan pasti tentang semua permasalahan yang ada, tetapi Sultan Pajang menyatakan tidak berdaya sama sekali terhadap takdir Allah yang mungkin memang menginginkan Raja Mataram akan menjadi penguasa besar di tanah Jawa.

Setelah gagalnya perutusan Pajang yang kedua diceritakan pula alasan timbulnya perang antara Mataram dan Pajang. Panembahan Senapati mempunyai ipar yang tinggal di Pajang yang bernama Temenggung Mayang yang mempunyai seorang putera yang berani menggoda puteri raja Pajang yang bernama Ratu Sekar Kedaton.  Hal itu diketahui oleh Sultan Pajang dan memerintahkan para panglima tamtamanya untuk menangkap dan membunuh puteranya itu. Karena merasa takut Temenggung Mayang beserta keluarga melarikan diri ke Mataram, tetapi menurut sumber lain Temenggung Mayang di buang ke Semarang dan Senapati mengetahui hal itu. Apapun kebenaran dari kedua cerita tersebut, yang jelas sama-sama mempunyai arti bahwa Senapati dengan sikap membantu Temenggung Mayang  itu berarti ia telah melawan dan memberontak terhadap Kerajaan Pajang. Dari permasalahan itulah awal mula pertikaian antara Pajang dan Mataram. Sultan segera memerintahkan untuk mempersiapkan senjata untuk menyerang Mataram. Pajang menyiapkan bala tentara yang jumlahnya sangat besar, dan sebelum sampai ke Mataram, pasukan Pajang berkemah di Prambanan.

Untuk melawan tentara Pajang tersebut, Panembahan Senapati hanya dapat mengumpulkan 800 orang Mataram di Randulawang, tidak lama kemudian pertempuran pun terjadi, karena disebabkan gelapnya malam pertempuran dihentikan. Kedua pihak kembali ke kubu pertahanan masng-masing, tetapi tidak lama kemudian Gunung Merapi meletus di tengah-tengah kegelapan, hujan turun dengan lebat disertai dengan banjir dan gejala alam lainnya. Dalam pertempuran itu orang-orang Mataram memukul Canang Ki Bicak, banjir menggenangi kubu Pajang, yang menyebabkan mereka melarikan diri dalam kebingungan, Sultan pun terseret dalam kekacauan itu. Setelah kekalahan di Prambanan, Raja Pajang yang malang itu pergi ke Tembayat yang keramat, ia ingin berdo’a di makam Tembayat tersebut, tetapi pintu makam tidak mau terbuka. Juru kunci memberikan penjelasan yang buruk tentang kejadian itu, rupanya Allah tidak lagi memberikannya izin menjadi raja. Esok paginya perjalanan dilanjutkan, tetapi di tengah perjalanan raja terjatuh dari gajahnya yang disebabkan galaknya hewan itu, jatuhnya raja membuat ia menjadi sakit sehingga terpaksa raja melanjutkan perjalanan dengan menggunakan tandu. Ternyata dari kejauhan Senapati bersama 40 orang penunggang kuda mengikuti iring-iringan raja dengan perasaan hormat, dan itu merupakan sikap hormatnya terhadap Sultan Pajang.

Setibanya iring-iringan di Pajang, penyakit sultan semakin bertambah parah dan tidak lama kemudian Sultan Hadiwijaya meninggal dunia, ia dimakamkan di daerah Butuh, suatu daerah yang terletak di sebelah barat taman Kerajaan Pajang. Kejadian itu terjadi pada tahun 1587 M. Mengenai wafatnya Sultan Pajang terdapat dua versi cerita yang berbeda, tapi menurut Babad Tanah Jawi. Sultan di bunuh oleh seorang juru taman yang berbentuk mahkluk berupa jin, dikatakan bahwa ia lah yang telah membunuh raja. Tetapi menurut sumber yang lebih pasti mengatakan bahwa juru taman itu adalah seorang manusia berkebangsaan Italia, ia merupakan kaki tangan Senapati yang merupakan seorang ahli taman di Kerajaan Pajang, oleh sebab itu dinamakan Juru Taman.

Mengenai hasil karya pada masa pemerintahannya, selain membangun tembok sebagai benteng untuk mengelilingi kratonnya, Panembahan Senapati juga menyelesaikan bangunan masjid peninggalan ayahnya. Salah satu bukti yaitu pada kelir pintu gerbang masjid di Kotagede terdapat tahun 1587 M, mungkin Senapati ingin merayakan kemenangannya atas Pajang dengan menyelesaikan suatu bangunan yang  dipersembahkan kepada agama.

Setelah Sultan Hadiwijaya meninggal yang menjadi ahli warisnya adalah tiga putera menantunya yaitu raja di Tuban, raja di Demak dan raja di Aros Baya, di samping puteranya sendiri yaitu Pangeran Benawa yang konon masih sangat muda ketika ayahnya meninggal. Pada saat pemilihan itu, semua sanak saudara, keluarga para bupati berkumpul, salah satunya yang hadir yaitu Sunan Kudus. Sunan Kudus merupakan salah satu orang yang berpengaruh di Kerajaan Pajang. Ia memilih Adipati Demak yang menjadi pengganti raja. Sunan Kudus bertindak menurut kemauannya sendiri karena ia merasa berkuasa, dan memberikan pidato di depan rakyat bahwa yang akan menjadi raja adalah Adipati Demak, sedangkan Pangeran Benawa sendiri merupakan putera kandung Sultan Hadiwijaya hanya dijadikan sebagai adipati di Jipang. Adipati Demak yang merupakan menantu Sultan, ia juga merupakan anak kandung Sunan Prawata yang dulunya dibunuh oleh Aria Panangsang. Adipati itu bernama Aria Pangiri. Mungkin yang menjadi maksud ulama dari kudus itu memilih Aria Pangiri menjadi raja ialah untuk mengembalikan kekuasaan di Kesultanan Jawa Tengah kepada seorang keturunan langsung Sultan Trenggana dari Demak, yang sudah meninggal kira-kira 40 tahun sebelumnya.

Setelah menetap di Kraton Pajang, Aria Pangiri dikelilingi oleh pejabat-pejabat yang dibawanya dari Demak. Sementara itu Pangeran Benawa hanya dijadikan penguasa di Jipang. Pangeran muda ini, karena merasa tidak puas dengan nasibnya di tengah-tengah lingkungan yang masih asing baginya, meminta bantuan kepada Senapati penguasa dari Mataram untuk mengusir Raja Pajang yang baru itu. Aria Pangiri setelah memindahkan  banyak orang dari Demak, ia juga mengambil sepertiga dari tanah penduduk untuk daerah pemukiman orang-orang itu. Penduduk-penduduk itu merasa sakit hati sehingga melakukan kejahatan, banyak pula diantara mereka yang pindah ke Mataram. Pangeran Benawa ingin meminta bantuan kepada Senapati, lalu segera mengirim utusan ke Mataram. Tetapi utusan pertama itu ditolak, tetapi setelah utusan kedua diutus lagi ke Mataram dengan membawa pesan Kerajaan pajang akan diserahkan pada Senapati, barulah senapati bersedia membantu.

  Setelah menang, Adipati Demak dengan diikat menggunakan kain  sutera ia dikembalikan ke Demak. Pangeran Benawa menepati janjinya, ia menyerahkan kekuasaan Pajang kepada Senapati. Tapi ternyata Penembahan Senapati menolak, ia hanya ingin diakui sebagai raja di Mataram dan ia hanya meminta benda-benda pusaka Kerajaan Pajang berupa Gong Kiai Sekar Delima, Kendali Kiai Macan Guguh dan Pelana Kiai Jatayu, benda-benda tersebut diperoleh semua dari Pangeran Benawa. Setelah itu, Penembahan Senapati mengangkat  Pangeran Benawa sebagai sultan di Pajang pengganti ayahnya dan Kerajaan Pajang berada di bawah lindungan Mataram, Senapati sendiri kemudian bertindak sebagai raja di Mataram. Dengan dinobatkannya Panembahan Senapati menjadi raja, maka ia merupakan raja merdeka pertama di Mataram.

Setelah pengangkatannya menjadi raja Senapati mulai mengadakan perluasan wilayah ke berbagai daerah, perebutan wilayah yang dikatakan  suatu kesuksesan besar adalah perebutan atas wilayah Madiun. Tapi pada masa pemerintahannya banyak terjadi kegagalan dalam melakukan ekspansi tersebut,  ditambah lagi adanya pemberontakan dari daerah bawahan yaitu Pati. Setelah kurang lebih 17 tahun berkuasa di Mataram, pada tahun 1601 M bertepatan dengan terjadinya gerhana matahari Penambahan Senapati wafat. Ia dimakamkan di sebelah selatan masjid, di ujung kaki makam ayahnya. Sebelum meninggal beliau memberi amanat kepada Jolang puteranya untuk menggantikannya sebagai raja, meskipun pada saat itu ia masih sangat muda. Pelanggaran terhadap amanat ini akan dilanda amarah Allah. Mandaraka dan Mangkubumi harus menobatkannya. Alasan dipilihnya Raden Mas Jolang sebagai pengganti ayahnya menjadi raja yaitu karena ia merupakan putera kesepuluh Panembahan Senapati yang lahir dari seorang permaisuri yang berasal dari Pati. Saudara laki-laki dan perempuan lainnya mempunyai ibu yang berkedudukan rendah, karena ia satu-satunya putera Senapati dari Permaisuri, maka sangat jelaslah mengapa ia dipilih menjadi raja.

Pada tahun 1601 sebagai tahun permulaan Pemerintahan Raden Mas Jolang. Pengukuhan kekuasaannya digambarkan secara tradisional. Setelah menjadi raja ia bergelar sebagai Panembahan Anyakrawati atau Panembahan Seda Ing Krapyak. Serat Kandha juga menyebutkan gelar raja yang baru sebagai Senapati Ingalaga Kerajaan Mataram. Tak seorangpun menentang pengangkatan raja yang muda ini, semua anggota keluarga terdekat, para bupati dan menteri memberikan hormat kepadanya. Dikatakan pula dalam cerita tutur Jawa, bahwa setiap hari senin dan kamis merupakan hari yang disebut sebagai “Hari-hari Kaisar” karena dihari itu raja menampilkan diri di depan para abdi dalemnya untuk menjalankan tugasnya sebagai raja, salah satunya yaitu mengadakan peradilan.

Akibat diangkatnya Panembahan Krapyak sebagai raja, menimbulkan pemberontakan dari dua orang saudaranya yang lebih tua, yaitu Pangeran Puger dan Pangeran Jayaraga. Pangeran Puger merupakan putera kedua dari Senapati, walaupun ia merupakan anak dari seorang selir yang kedudukannya lebih rendah, tetapi ia beranggapan bahwa dirinya lebih berhak atas tahta kerajaan daripada Panembahan Krapyak yang merupakan putera yang kesepuluh. Awal dari tindakan tidak senangnya kepada raja yaitu ketika raja diberi penghormatan oleh semua yang dianggap patut melakukannya, Pangeran Puger tidak turut serta, ia merasa malu duduk di bawah adiknya. Ia ingin memiliki daerah kekuasaan sendiri tetapi hal itu tidak disampaikannya kepada raja. Panembahan Krapyak segera paham akan hal itu, maka ia mengusulkan kepada Ki Mandaraka untuk mengangkat Pangeran Puger menjadi bupati di Demak.

Pengangkatan itu baru terjadi setelah satu tahun ia tidak pernah hadir di istana. Raja kemudian mengangkatnya sebagai bupati agar ia menjadi “Perisai untuk melindungi Kerajaan Mataram”. Esok harinya ia mulai berangkat ke Demak beserta para keluarganya. Keberangkatannya ke Demak disertai pula oleh dua orang pepatih yang bernama Tandanegara dan Ki Adipati Gending, seorang yang berasal dari Demak asli. Setelah menjadi Bupati Demak, lama kelamaan Pangeran Puger hilang rasa hormatnya kepada raja karena disebabkan adanya hasutan dari Adipati Gending, oleh karena itu ia menyiapkan diri untuk menguasai pegunungan Kendang. Ketika semuanya telah siap, maka berangkatlah ia bersama tentaranya menuju Mataram. Ketika mendengar kakaknya Pangeran Puger merampok daerah sekitar pegunungan Ungaran, Panembahan Krapyak bersedia memberikan bagian utara kerajaan kepada kakaknya itu. Tetapi niat baik raja tidak disambut dengan baik oleh Pangeran Puger. Ia tidak pernah menghiraukan undangan raja agar datang ke istana untuk membicarakan masalah itu, bahkan kebaikan itu selalu ditolaknya dengan kasar. Sementara itu Pangeran Puger sudah menaklukan Tambak Uwos, raja terkejut akan hal itu, sehingga ia melakukan persiapan. Ketika semua sudah siap, pasukan diberangkatkan ke Tambak Uwos dan besoknya serangan dimulai. Dalam pertempuran itu tentara Demak segera dikalahkan, tidak terlalu sulit bagi pasukan Mataram untuk menumpas pemberontakan itu. Kedua Adipati Demak gugur di medan perang, dan Pangeran Puger sendiri ditangkap. Setelah penangkapan itu, segera raja memerintahkan agar kakaknya dibawa ke Kudus bersama isteri dan anak-anaknya untuk menetap di sebelah utara candi sebagai seorang santri dan di bawah pengawasan penguasa setempat.

Mengenai angka tahun terjadi pemberontakan terdapat beberapa pendapat yang berbeda. Babad Sangkala memberikan keterangan bahwa pemberontakan terjadi pada tahun 1602 M, ketika orang-orang Mataram dan para pembesar dikepung. Untuk tahun 1605 M diberi pula keterangan bahwa Adipati Puger meninggalkan Demak dengan seluruh keluarganya, tetapi seorang ahli yang bernama Hageman menyebutkan tahun 1604 M merupakan tahun pembuangan Pangeran Demak. Bila dilihat dari angka-angka tahun tersebut dapat disimpulkan bahwa pemberontakan berlangsung selama tiga tahun yaitu dari tahun 1602 sampai 1605 M.

Selang beberapa tahun setelah penumpasan pemberontakan Pangeran Puger dari Demak, Kerajaan Mataram harus menghadapi pemberontakan Pangeran Jayaraga pemangku pemerintahan Ponorogo yang merupakan kakak Panembahan Krapyak sendiri. Pemberontakan kedua ini tidak begitu membahayakan, tetapi hampir mengancam kesatuan kerajaan. Menurut Padmasoesastra, Pangeran Jayaraga merupakan putera kesembilan Panembahan Senapati. Ia lahir dari seorang selir yang berasal dari Kajoran, nama mudanya adalah Raden Mas Betotot.

Pangeran Jayaraga merupakan penguasa dari Ponorogo yang membawahi empat bupati yaitu Pangeran Rangga, Panji Wirabumi, Ngabei Malang Sumirang dan Demang Nayahita. Pangeran Jayaraga sangat menghormati empat orang tersebut dengan bukti menyapa mereka dengan sapaan paman atau si bapak. Lambat laun setelah kehidupannya semakin makmur, membuat Pangeran Jayaraga lupa daratan, ia memutuskan untuk menobatkan dirinya sendiri sebagai raja dan merebut Mataram. Keempat bupati tersebut berusaha untuk mengingatkannya tetapi tidak pernah dipedulikan. Hal itulah yang menyebabkan mereka pergi ke Kerajaan Mataram untuk melaporkan masalah itu kepada raja. Setelah mendengar sendiri dari keempat bupati itu tentang rencana jahat kakaknya, maka Panembahan Krapyak memerintahkan adiknya Pangeran Pringgalaya dan panglima perang Martalaya untuk pergi ke Ponorogo dan membawa Pangeran Jayaraga bersama keluarga ke Mataram. Selanjutnya ia harus dibuang ke Masjid Watu dan segala miliknya disita. Menurut peta Topografi, Masjid Watu merupakan gua di sebelah timur pulau Nusa Kambangan. Adapun angka tahun terjadinya pemberontakan, setelah disimpulkan dari beberapa sumber dapat dipastikan bahwa pada tahun 1608 seorang saudara tua di Ponorogo melakukan pemberontakan terhadap adiknya di Mataram.

Pada masa pemerintahannya, Panembahan Krapyak melakukan ekspansi ke daerah-daerah sekitar Surabaya. Seperti yang telah diketahui, Surabaya merupakan kerajaan yang kuat dan sejak tahun 1589 pada waktu pemerintahan Panembahan Senapati Surabaya merupakan musuh utama Kerajaan Mataram. Raja Surabaya mempunyai beberapa daerah jajahan seperti Gresik, Jortan, Sedayu, Pasuruan dan Blambangan. Kekuasaan Surabaya di pedalaman tidak diketahui dengan pasti. Raja-raja di Surabaya mengangkat bupati-bupati di pedalaman, misalnya di Japan, Wirasaba, dan Kediri, meskipun tidak selalu dengan persetujuan pejabat-pejabat setempat. Selain di pulau Jawa, Surabaya dikatakan juga mempunyai daerah taklukan di Kalimantan yaitu Sukadana, kemudian masa pemerintahan Sultan Agung kelak Sukadana merupakan wilayah taklukan Mataram.

Berita-berita mengenai perang antara Surabaya dan Mataram sebagian besar dari kantor dagang Belanda yang disebut Loji yang didirikan di Gresik. Sejak berabad-abad yang lalu Gresik merupakan pusat lalu lintas perdagangan di pulau Jawa. Menurut berita Belanda pada tanggal 17 April 1602, Laksamana Jakob van Heemskerck berlabuh di Gresik. Di sinilah ia mendirikan kantor dagang pertama di Jawa Timur. Pada tahun 1608 didirikan lagi sebuah kantor dagang Belanda oleh Laksamana Wijbrand van Warwijck. Dikatakan setelah meminta ijin Raja Surabaya dengan memberi banyak hadiah, ia diperbolehkan mendirikan kantor dagang di Gresik. Akan tetapi ketika adanya perluasan wilayah yang dilakukan oleh Kerajaan Mataram, kantor tersebut hanya dapat bertahan sampai tahun 1615 dan hanya sebagian saja surat-surat yang dapat diselamatkan.

Pada tahun 1610 Laksamana Pieter W. Verhoeven mengungkapkan dari Sukadana tentang isi sepucuk surat yang mungkin ditulis pada tanggal 22 Mei 1610 di Loji Gresik. Dalam surat tersebut antara lain tertera “ di sini tersiar kabar bahwa Mataram yang dipanggil sebagai Kaisar Jawa merencanakan menyerang semua tempat ini. Sampai dimana rencana itu dijalankan tidak diketahui dengan jelas. Kepala perdagangan Andries Saory pada akhir tahun 1615 menulis dari Banten bahwa peperangan berlangsung kurang lebih selama empat tahun, maka diduga perang tersebut baru dimulai pada tahun 1611. Tidak dapat diketahui dengan pasti mengenai hasil ekspedisi militer tersebut.

Dari berita-berita Belanda pula dapat diketahui dengan pasti bahwa setiap tahun yaitu dari tahun 1610 sampai 1613 Panembahan Krapyak telah merencanakan dan mengadakan ekspansi ke wilayah-wilayah sekitar Surabaya, sasaran utamanya adalah wilayah Surabaya itu sendiri. Babad Sangkala mengatakan dalam tahun 1609 adalah awal mula perjalan Mataram ke Surabaya, tahun 1613 terjadinya ekspedisi di Gresik. Sedikitnya keterangan yang didapat mengenai perluasan wilayah yang dilakukan oleh Panembahan Krapyak membuat sejarah itu menjadi sedikit kabur. Tapi bila dilihat dari daftar-daftar tahun yang ada dan dibandingkan dengan cerita tutur Jawa dapat dikatakan bahwa Panembahan Krapyak adalah seorang raja yang sangat berani.

Cerita mengenai masa pemerintahan Panembahan Krapyak, ia meletakkan pusat pemerintahan atau kekuasaannya di Kotagede yang merupakan ibukota Kerajaan Mataram. Kraton Mataram sejak masa pemerintahan Ki Ageng Pamanahan dan Panembahan Senapati memang terletak di Kotagede dan Panembahan Krapyak pun mengikuti kedua raja sebelumnya untuk tetap menetap di Kotegede. Pembangunan pada masa pemerintahan Panembahan Krapyak banyak dilakukan bila dibandingkan dengan bangunan pada masa pemerintahan ayahnya. Sejak tahun 1603 pembangunan mulai dilaksanakan yaitu diawali dengan dibangunnya Prabayeksa atau tempat tinggal raja. Dua tahun kemudian yaitu pada tahun 1605 ia membangun sebuah taman indah yang bernama Danalaya, berita pada tahun 1610 dibangun pula sebuah lumbung yang lebih dari satu dan pada tahun 1611 menurut Babad Momana dikatakan bahwa telah dibangunnya Krapyak Beringan yang mana kelak Krapyak Beringan tersebut dikatakan sebagai tempat meninggalnya raja.

Bila dilihat dari segi politik, Panembahan Krapyak juga melakukan hubungan dengan orang-orang Belanda. Ini dibuktikan dari berita Belanda yang mengatakan tentang keinginan besar raja  untuk mengadakan kerjasama dengan Belanda. Dibuktikan juga setelah kedatangan orang-orang Belanda ke Jepara, dikatakan bahwa mereka ditemui oleh raja dari Jepara dan Kudus yang merupakan wilayah jajahan Mataram yang mendapat tugas untuk merayu agar bangsa Belanda mau mendirikan Loji di daerahnya. Setelah melihat adanya keuntungan dari tawaran itu maka Gubernur Jenderal Both memutuskan mendirikan sebuah Loji di Jepara. Dari keterangan tersebut dapat diketahui bahwa Panembahan Krapyak pada tahun pemerintahannya yang terakhir mulai mengembangkan politik luar negeri yaitu dengan jalan mengadakan hubungan kerjasama dengan orang-orang Belanda. Bila ditinjau dari segi budaya, Panembahan Krapyak juga memberi dorongan bagi pengembangan kebudayaan. Hal ini terbukti dengan diperintahkannya penyusunan sejarah negeri Demak. Beberapa Serat Suluk yang diperkirakan disusun pada masa pemerintahan Panembahan Seda Ing Krapyak.

Mengenai wafatnya Panembahan Krapyak, diperkirakan wafat pada tanggal 1 oktober 1613. Mengenai keadaan yang menyertai tentang wafatnya Panembahan Krapyak tidak banyak diketahui. Bila dilihat dari gelar yang diberikan kepadanya setelah meninggal dapat diambil kesimpulan bahwa ia meninggal di lapangan perburuan yaitu Krapyak Beringan dan mungkin pada saat ia sedang berburu. Penembahan Krapyak merupakan raja terakhir yang dimakamkan di dekat masjid Kotagede, ia dimakamkan tepat di sebelah bawah makam ayahnya yaitu Penambahan Senapati. Adapun yang menjadi pengganti Penambahan Krapyak sebagai Raja Mataram yang keempat adalah puteranya yang bernama Sultan Agung.    

Sultan Agung merupakan putera kandung tertua Penambahan krapyak yang lahir dari seorang istri utama atau Garwi Padmi yang bernama Ratu Adi, seorang asal Pajang. Nama semasa kecil Sultan Agung adalah Raden Mas Jetmiko yang berarti sopan dan rendah hati. Tetapi ketika ia telah dewasa, namanya diganti menjadi Pangeran Mas Rangsang. Menjelang wafatnya Penambahan Krapyak, ia menunjuk puteranya Raden Mas Rangsang menjadi pengantinya. Ini berlawanan dengan apa yang dijanjikan dulu, yaitu yang akan menjadi penggantinya adalah Pangeran Martapura yang merupakan putera yang lebih muda. Martapura adalah putera kandung Panembahan Krapyak yang merupakan putera keempat dari ibunya yang seorang Garwa Padmi yaitu Ratu Lung Ngayu yang berasal dari Ponorogo. Sebelum mendapat nama Pangeran Martapura mula-mula ia adalah bernama Raden Mas Wuryah.

Pada awal pengangkatan pengganti raja, Pangeran Martapura memang diangkat sebagai raja oleh Ki Adipati Mandaraka dan Pangeran Purbaya, tetapi tidak lama kemudian ia segera meletakkan jabatannya dan menyerahkannya kepada Raden Mas Rangsang agar bersedia menjadi raja, kemudian berlangsung pengangkatan raja baru tersebut, dan setelah menjadi raja ia bergelar Panembahan  Agung Abdulrakhman. Menurut seseorang berkebangsaan Eropa  yang pernah menghadap raja itu di Mataram, ia bercerita mengenai Sultan Agung. Ia mengatakan bahwa Sultan Agung mempunyai wajah yang kejam, ia juga memerintah dengan keras sebagaimana sebuah negara besar. De Haen yang lebih lama dan mungkin juga lebih teliti mengamat-amati menyatakan Pangeran Ingalaga ini adalah seorang yang mencapai puncak kejayaannya berusia sekitar 20 sampai 30 tahun dan berbadan bagus. Sejauh penglihatannya sedikit lebih hitam daripada orang Jawa umumnya, berhidung kecil tapi tidak pesek, mulut datar dan agak lebar, kasar dalam berbahasa, lamban dalam berbicara, berwajah tenang dan bulat, dan tampaknya cerdas. Sultan Agung merupakan seorang raja yang sangat haus akan pengetahuan. Ia selalu mengutarakan pertanyaan-pertanyaan seputar pengetahuan yang belum diketahuinya kepada orang-orang asing yang datang ke Kerajaan Mataram, ia juga meminta agar hendaknya seseorang berkebangsaan asing itu tinggal di kerajaannya. Ia juga merupakan seorang raja yang keras dalam bertindak.

Masa pemerintahan Sultan Agung bila dibandingkan dengan pemerintahan raja-raja sesudahnya terdapat perbedaan. Pada masa pemerintahan raja-raja sesudahnya Kraton Mataram terletak di Kotagede, tetapi pada masa pemerintahannya ia memindahkan kratonnya ke daerah Karta. Pengunjung Belanda pertama pada kraton ini menyebutkan bahwa Karta merupakan tempat yang sangat luas dan terbuka. Pernyataan itu diulang  kembali pada tahun 1633. Jan Vos bercerita tentang Karta, dengan sendirinya pada tahun-tahun pertama ketika kratonnya yang baru masih harus dibangun, raja harus sementara tinggal dalam kraton di Kotagede. Bila dilihat dari angka tahun raja menempati Kraton Karta yaitu kurang lebih pada tahun 1622, maka dapat diperkirakan Kraton Karta tersebut dibangun sekitar tahun 1613 sampai 1622, atau mungkin pada tahun 1618, ketika pada masa itu orang-orang Pajang atas perintah Sultan Agung diharuskan secara terus menerus untuk membuat batu. Dugaan tahun tersebut diperkuat oleh Babad Momana yang menyatakan bahwa pada tahun 1617 sebagai awal pengukuran tanah untuk pembangunan kraton di Karta, sedangkan pada tahun yang sama pula dilakukan pengukuran tanah di wilayah Pamutihan untuk kadipaten yang merupakan tempat kediaman putera mahkota.

Selain memindahkan kraton di Karta, Sultan Agung juga mendirikan beberapa bangunan lagi, yaitu yang utama Prabayeksa sebagai tempal tinggal raja, pembuatan wayang kulit dan gamelan, melengkapi kratonnya dengan Sitinggil, pembuatan kolam di halaman istananya, bangunan Kepatihan, masjid kraton dan bendungan besar di sungai Opak yang berada di wilayah Plered yang kelak merupakan wilayah sebagai tempat berdirinya Kraton Mataram pada masa pamerintahan Amangkurat I. Kraton di Karta memiliki perbedaan dengan kraton yang dulunya di Kotagede, yaitu Kraton Karta bahan bangunannya sebagian besar adalah terbuat dari kayu. Hal itulah yang menyebabkan bangunan-bangunan di Karta sering mengalami kebakaran, termasuk lumbung di Gading yang dibangun pada masa pemerintahan Panembahan Krapyak. Tetapi kemudian dibangun kembali pada tahun berikutnya. Karena sering mengalami kebakaran tersebut, menyebabkan tidak ada peninggalan-peninggalan pada masa Sultan Agung. Yang tersisa sampai saat ini hanya terdapat tiga buah patokan pondasi yang terbuat dari batu yang terletak di desa Karta sekarang ini.

Semua pembangunan yang terjadi pada masa pemerintahan Sultan Agung,  menurut sumber Belanda banyak menguras tenaga rakyat. Rakyatnya tidak pernah lagi dapat beristirahat karena satu belum selesai sudah ada lagi yang harus dikerjakan. Akibat buruk yang terjadi adalah tiap hari banyak orang yang melarikan diri karena sengsara dan meninggal karena kelaparan. Oleh sebab itu raja harus bertindak dengan kekerasan untuk tetap menahan mereka, tetapi masih sering juga rakyat dari pantai yang melarikan diri.

Pada masa pemerintahannya, Raden Mas Rangsang, selain setelah menjadi raja mendapat gelar Panembahan Agung , ia juga bergelar Pangeran Ingalaga atau Pangeran Anyakrakusuma. Tetapi sejak tanggal 15 September 1624, ia bergelar Susuhunan yaitu kaisar atau raja yang berkuasa. Panembahan dan Susuhunan sesungguhnya memiliki pengertian yang sama. Panembahan berasal dari kata sembah, jadi Panembahan berarti yang disembah atau yang menerima sembah. Sedangkan Susuhunan berasal dari kata Suhun yang berarti punji. Jadi Susuhunan berarti yang dipunji (ditaruhkan di atas kepala), yang disembah dan yang dipunji mengandung kehormatan atau penghormatan yang sama. Pengangkatan raja sebagai Susuhunan mempunyai hubungan atas kemenangannya tarhadap Madura yaitu pada awal Agustus 1624. Pada tahun 1636 dilangsungkan sidang raya kerajaan yang membicarakan gelar baru selanjutnya bagi Raja Mataram. Panembahan Cirebon menawarkan sebuah gelar kepada Susuhunan tersebut yaitu Ratu Mataram, tetapi tidak dianggap oleh Susuhunan Agung. Pada tahun 1638 Pangeran Banten mendapat gelar baru dari ulama besar di Mekah, gelar itu adalah Sultan. Hal itu membuat timbul iri hati di hati Susuhunan Agung, ia juga ingin mendapatkan gelar tersebut. Akhirnya setelah mengirim beberapa utusan ke Mekah, pada tanggal 1 Juli 1641 ia resmi bergelar Sultan Agung.

Sultan Agung ketika mulai berkuasa di Mataram, ia sangat gencar melakukan ekspansi ke berbagai wilayah. Sultan Agung setelah menggantikan ayahnya menjadi raja di Mataram pada tahun 1613, langsung melanjutkan peperangan terhadap Surabaya. Penyerangan terhadap Surabaya dilakukan sebanyak lima kali yaitu dari tahun 1620 sampai tahun 1624 yang kemudian pada tahun 1625 Surabaya menyerah pada kekuasaan Mataram. Sebelum mengalahkan Surabaya, Sultan Agung terlebih dahulu mengadakan penaklukan ke berbagai wilayah. Serangan militer pertama dilakukan pada tahun 1614 yang merupakan sebuah aksi perampokan sampai jauh ke daerah timur. Wilayah yang ditaklukan antara lain Pasuruan, Lumajang, Renong, Malang dan Wirasaba yang setelah tiga kali serangan dapat ditaklukan dan pada tahun 1616 Sultan Agung berhasil menduduki wilayah Lasem. Pada masa pemerintahan Sultan Agung juga terjadi pemberontakan dari wilayah Pajang yaitu pada tahun 1617, tetapi pada tahun berikutnya Pajang dapat dikalahkan oleh tentara Mataram. Selain penaklukan pada daerah-daerah tersebut, Sultan Agung juga memerintahkan untuk menaklukan daerah-daerah lain. Hal ini benar-benar dilakukannya, terbukti hampir seluruh tanah Jawa di bawah kekuasaannya, dan bahkan sampai ke luar Jawa. Penaklukan yang kemudian dilakukan adalah di daerah Tuban pada tahun 1619.

Sultan Agung juga mengikuti jejak ayahnya untuk melakukan hubungan        kerjasama dengan bangsa barat, yaitu  salah  satunya adalah  Belanda. Pada  tahun

1614 dari pihak Belanda mulai mengirim perutusan ke Mataram. Tetapi setelah beberapa tahun menjalin hubungan kerjasama dengan pihak Belanda, raja mulai tidak senang terhadap bangsa asing itu. Hal itu disebabkan oleh tingkah bangsa Belanda sendiri. Mereka bertindak semaunya tanpa menghargai penduduk pribumi. Orang-orang Belanda juga berusaha sekuat tenaga mengeruk keuntungan dari sebuah kepercayaan raja yang diberikan kepada mereka. Raja menjanjikan pembebasan bea cukai, bahan-bahan bangunan beserta tanah untuk pihak Belanda yang digunakan untuk mendirikan kantor dagang Belanda. Tetapi pada kenyataannya pihak Belanda tidak dapat berterima kasih untuk semua itu. Oleh sebab itu pada tahun 1618 atas perintah Sultan Agung, seorang Gubernur Jepara yang bernama Koja Hulubalang menyerang kantor dagang Belanda di Jepara yang dinamakan Loji itu. Hal itu dilakukan Sultan Agung karena orang-orang Belanda berani merebut kapal-kapal milik Jepara. Begitulah Sultan Agung, seorang raja yang sangat terkenal menentang praktek perdagangan kongsi dagang VOC milik Belanda yang curang dan menindas rakyat pribumi.

Tindakan selanjutnya yang dilakukan Sultan Agung untuk mengembangkan kekuasaan adalah melakukan penaklukan kembali ke berbagai daerah. Pada tahun 1622, daerah yang merupakan wilayah taklukan Surabaya yaitu Sukadana ditaklukan oleh Kerajaan Mataram. Pada tahun 1624 giliran Madura yang ditaklukan yang merupakan daerah sumber bahan makanan bagi Surabaya. Kedua daerah itu ditaklukan agar kekuatan Surabaya dapat dilemahkan. Selain itu, Sultan Agung juga harus menghadapi pemberontakan dari Pati di bawah pimpinan Adipati Pragola, tetapi pemberontakan itu dapat dikalahkan. Setelah beberapa tahun berikutnya, Sultan Agung atas dasar tidak senang terhadap Belanda mulai menyerang tempat kedudukan Kompeni itu di Batavia. Penyerangan terhadap Batavia dilakukan karena pihak Belanda tidak mau membantu Mataram untuk menyerang Banten, Mataram menganggap Belanda sebagai musuh. Penolakan ini menyebabkan Sultan Agung bertekad untuk menaklukan Batavia terlebih dahulu sebelum menyerang Banten. Penyerangan terhadap Batavia dilakukan sebanyak dua kali yaitu pada tahun 1628 dan tahun 1629, tetapi keduanya mengalami kegagalan.

Selain ingin menaklukan Batavia, keinginan Sultan Agung adalah menaklukan daerah Giri. Karena Raja Giri sangat sulit untuk ditaklukan maka Sultan Agung meminta bantuan dari orang lain, ia adalah Pangeran Pekik dari Surabaya. Oleh karena itu Mataram berusaha untuk berdamai dengan Surabaya. Perdamaian itu terjadi pada tahun 1633 dan Pangeran Pekik bersedia membantu Raja Mataram. Pada tahun 1636 Giri dapat ditaklukan oleh Pangeran Pekik dan istrinya yaitu Ratu Pandan Sari yang merupakan adik Sultan Agung. Mengenai kegagalan Sultan Agung dalam menaklukan Batavia, Sultan Agung berusaha meminta bantuan dari bangsa barat yang lain yaitu Portugis. Hubungan kerjasama itu mulai terjalin pada tahun 1631, tetapi pada tahun-tahun berikutnya sama sekali tidak ada hasilnya meminta bantuan dari Portugis karena Mataram masih belum mampu menaklukan Batavia. Walaupun demikian Raja Mataram tetap menghargai hubungan antara mereka. Setelah itu Sultan Agung juga memperluaskan kekuasaannya ke wilayah Blambangan. Serangan besar yang pertama dilakukan pada tahun 1635 tetapi mengalami kegagalan, baru pada serangan yang kedua yaitu dari tahun 1636 sampai 1640 Mataram dapat menaklukan Blambangan. Selain di pulau Jawa, Kerajaan Mataram di bawah pemerintahan Sultan Agung juga memperluas kekuasaannya sampai ke luar pulau Jawa. Hal ini terbukti selain Sukadana di Kalimantan dapat ditaklukan, Palembang, Jambi dan Banjarmasin juga tunduk di bawah kekuasaan Mataram, bahkan Kerajaan Cerebon sendiri mengakui akan kebesaran nama Mataram.

Setelah banyak melakukan ekspansi ke berbagai wilayah, nama Mataram pun semakin besar di mata dunia. Usia Sultan Agung pun semakin tidak memungkinkan  baginya untuk lebih lama lagi berkuasa di tanah Jawa, oleh sebab itu ia pun mulai membangun  makam di atas bukit. Raja-raja pendahulu Sultan Agung dimakamkan di sebelah masjid di Kotagede, Tetapi Sultan Agung semasa hidupnya menyuruh membuat makam yang letaknya tinggi di atas bukit. Pembangunan makam ini erat hubungannya dengan pengangkatan sebagai Susuhunan pada tahun 1624. Menurut Babad Sangkala, makam tersebut sudah mulai dibangun  sejak tahun 1629 sampai 1630. Akan tetapi raja kecewa karena niatnya ingin menjadi orang pertama dimakamkan di tempat tersebut tidak menjadi kenyataan, karena pamannya Pangeran Juminah terlebih dahulu meninggal dunia pada saat pembangunan makam tersebut sehingga akhirnya dimakamkan di pemakaman tersebut, oleh sebab itu Sultan Agung membuat pemakaman baru yang terletak di Imogiri dan ia merupakan raja pertama yang dimakamkan di daerah itu.

Menurut beberapa sumber, Sultan Agung meninggal di pendapa kratonnya, selama masa hidupnya yang terakhir, raja membuat peraturan-peraturan untuk mencegah perebutan kekuasaan antara putera mahkota dan saudaranya yang lain. Sultan Agung diperkirakan meninggal pada bulan Februari 1646. Selama masa hidupnya Sultan Agung merupakan raja yang sangat berani dan gigih mementang bangsa asing yang salalu menindas penduduk pribumi.

C.     Masa Kejayaan Mataram

Kerajaan Mataram selama empat periode yaitu sejak pemerintahan Ki Ageng Pamanahan sampai pemerintahan Sultan Agung yang merupakan raja keempat Mataram, mengalami perkembangan yang sangat pesat. Sejak diperintah oleh raja merdeka pertama yaitu Panembahan Senapati, Kerajaan Mataram mulai menunjukkan nama besarnya di tanah Jawa. Beberapa kerajaan yang ada di tanah Jawa mengakui diri sebagai wilayah taklukan Mataram. Setelah Mataram di perintah oleh Sultan Agung, Kerajaan Mataram semakin terkenal namanya di tanah Jawa, hampir semua wilayah yang ada di tanah Jawa tunduk dan patuh di bawah kekuasaan Mataram. Sultan Agung merupakan raja yang sangat gigih untuk melakukan ekspansi ke berbagai wilayah, oleh sebab itu Mataram mencapai puncak kejayaannya adalah pada masa pemerintahan Sultan Agung.

Kekuasaan Raja-raja Mataram yang begitu besar sudahlah sangat jelas. Di mata rakyat kekuasaan itu terasa begitu besar sehingga mereka mengakui raja sebagai pemilik segala sesuatu, baik harta benda maupun manusia. Mataram memiliki rakyat yang jutaan jumlahnya. Hal ini disebabkan Raja-raja Mataram khususnya Sultan Agung banyak melakukan ekspansi, sehingga wilayah-wilayah yang kalah, rakyatnya sebagian besar dibawa ke Mataram untuk dijadikan sebagai petani yang handal oleh sebab itu Kerajaan Mataram merupakan kerajaan kaya sebagai penghasil beras.

Selain giat melakukan perluasan wilayah, Sultan Agung, juga sejak pada masa pemerintahan ayahnya Panembahan Krapyak sudah mulai melakukan hubungan kerjasama dengan bangsa asing terutama Belanda. Sultan Agung juga merupakan raja yang sangat haus akan pengetahuan luar negeri, oleh sebab itu ia mengharapkan bangsa asing itu ada yang tinggal dalam istana. Lambat laun hubungan dengan bangsa asing khususnya Belanda tidak berjalan baik. Rasa kepercayaan raja terhadap Belanda memudar bahkan ia mulai menanamkan rasa tidak senang terhadap bangsa tersebut. Hal itu disebabkan bangsa Belanda merupakan bangsa yang tidak bisa berterima kasih. Setelah diterima dengan baik oleh Raja Mataram, mereka mulai tidak mentaati peraturan dan mengingkari perjanjian terhadap Kerajaan Mataram. Bangsa Belanda sangat tidak menghargai tradisi rakyat Jawa, bahkan mereka sering menindas penduduk pribumi, serta melakukan perdagangan dengan cara licik dan menipu rakyat Jawa. Oleh sebab itu Sultan Agung mulai menganggap mereka sebagai musuh, oleh karena itu Sultan Agung merupakan Raja Mataram yang sangat terkenal menentang praktek perdagangan kongsi dagang VOC milik Belanda yang curang dan menindas rakyat pribumi. Hal itu dibuktikan dengan dua kali Sultan Agung melakukan penyerangan terhadap VOC di Batavia. Wawasan politik Sultan Agung juga sangat luas dan jauh ke depan, konsep politik Sultan Agung yaitu doktrin Keagungbinataraan yang berarti bahwa kekuasaan Mataram harus merupakan ketunggalan, utuh, bulat, tidak tersaingi dan tidak terbagi-bagi.

Bangsa asing yang melakukan hubungan dengan Kerajaan Mataram pada masa Sultan Agung selain bangsa Belanda juga bangsa Inggris dan Portugis karena adanya hubungan tersebut semakin menambah besarnya nama Mataram yang tidak hanya di tanah Jawa saja tetapi sampai ke luar pulau Jawa. Bangsa-bangsa barat juga mengakui akan kekuatan dan kebesaran yang dimiliki Mataram. Menjalin hubungan dengan bangsa Portugis sendiri ternyata masih belum mampu membantu Mataram untuk menaklukan Batavia, walaupun demikian Raja Mataram tetap menghargai hubungan yang terjalin diantara mereka dan walaupun tidak tercapainya kemenangan-kemenangan yang menonjol justru membantu menjadikan orang-orang Mataram menarik di mata orang-orang Nusantara yang lain sehingga wilayah-wilayah kekuasaannya tetap memihak kepada Mataram meskipun kemenangan itu belum dicapai sepenuhnya.

Kerajaan Mataram dapat mencapai puncak kejayaannya bukan hanya karena faktor politik dan militer saja, tetapi faktor budaya juga mendukung kejayaan tersebut. Pada pemerintahan raja-raja sebelum Sultan Agung, Kerajaan Mataram belum terfokus pada bidang kebudayaan karena raja-raja sebelumnya giat melakukan ekspansi dan melawan pemberontakan-pemberontakan dari daerah jajahan. Tetapi pada masa Sultan Agung, selain giat dibidang politik dan militer ia juga giat dalam bidang kebudayaan yang berkembang di Kerajaan Mataram, yang merupakan perpaduan antara tradisi Jawa dengan Islam. Nilai-nilai Islam diserap menjadi bagian dari budaya Jawa yang melalui sebuah pendekatan yang disebut Islamisasi Kultur Jawa. Melalui pendekatan ini budaya Jawa diupayakan agar tampak bercorak Islam. Upaya ini ditandai dengan penggunaan istilah-istilah Islam, nama-nama Islam, penerapan hukum dan norma-norma Islam.

Sebagai bukti adanya perpaduan Islam adalah kemampuan Sultan Agung dalam menyusun kalender Jawa yang berpedoman pada perjalanan bulan atau Lunar dan disesuaikan dengan kalender Hijriyah. Padahal kalender Jawa yang asli yang waktu itu berlaku adalah kalender Saka yang mengikuti perjalanan matahari atau Solar. Selain itu ada pula penggunaan tata bahasa di kalangan kraton. Bila dilihat dari upacara tradisi Jawa, upacara tradisi yang paling terkenal adalah upacara Labuhan. Upacara Labuhan merupakan upacara persembahan yang dilakukan di laut selatan. Hal ini berkaitan dengan hubungan Raja-raja Mataram dengan penguasa di laut selatan itu. Dipercaya bahwa penguasa laut selatan tersebut selalu membantu Raja-raja Mataram dalam berperang dan melakukan penaklukan di berbagai daerah. Selain upacara Labuhan tersebut, upacara yang tidak kalah terkenal adalah upacara Sadran yang biasa disebut Nyadran yang masih dilakukan oleh masyarakat Jawa dengan patuh, upacara dilakukan di dalam bulan Ruwah (Jawa) atau Sya’ban (Hijriyah) sesudah tanggal 11 hingga menjelang ibadah puasa di bulan Ramadhan.

Keunggulan lain dari Sultan Agung yaitu kemampuan dalam menjalin hubungan dengan kraton luar Jawa. Sesungguhnya dalam pengembangan kebudayaan terlihat dalam penulisan tarikh Jawa yaitu babad dan pembangunan makam di atas bukit. Sultan Agung selain sebagai raja, juga dijuluki sebagai pujangga. Karya mistiknya yang terkenal yaitu Sastra Gending, Kitab Nitisastra dan Serat Pangracutan. Dengan adanya faktor budaya sebagi pendukung kekuasaan Kerajaan Mataram, maka semakin lengkaplah kejayaan tersebut, Sultan Agung dapat bangga akan usaha dan kerja kerasnya dalam berjuang mengangkat nama besar Kerajaan Mataram, sehingga hampir seluruh tanah Jawa tunduk dan patuh di bawah kekuasaan Mataram.

D.     Wilayah Kekuasaan Mataram

Kerajaan Mataram sejak raja pertama sampai raja keempat, mempunyai wilayah kekuasaan yang luas sekali. Pada masa pemrintahan raja pertama Mataram yaitu Ki Pamanahan masih berbentuk kadipaten atau kerajaan kecil yang sangat tunduk dan patuh pada kekuasaan Karajaan Pajang sehingga tidak mugkin untuk melakukan perluasan wilayah. Tetapi sejak Kerajaan Mataram menjadi kerajaan merdeka dan berdiri sendiri di bawah pemerintahan raja merdeka pertama yaitu Panembahan Senapati, Mataram mulai meluaskan wilayahnya. Begitu pula pada masa pemerintahan raja selanjutnya yaitu Panembahan Krapyak, ia juga giat melakukan perluasan wilayah dan ketika pemerintahan Kerajaan Mataram dipegang oleh Sultan Agung, Mataram benar-benar mencapai puncak kejayaannya dan wilayah kekuasaannya meluas di mana-mana.

Wilayah kekuasan Mataram mencakup dari wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat. Bahkan Mataram juga meluaskan wilayah kekuasaan sampai ke luar pulau Jawa. Kerajaan Mataram pada masa pemerintahan Senapati, semasa hidupnya ia menaklukkan beberapa wilayah. Wilayah yang mula-mula di bawah kekuasaannya adalah Pajang. Sejak meninggalnya raja Pajang yang pertama dan berkat jasanya mengusir keturunan Demak yang menjadi pengganti Sultan Pajang, mulai dari itulah Pajang di bawah perlindungan kekuasaan Mataram. Adapun wilayah-wilayah kekuasaan Pajang seperti Demak, Jipang, Pati dan Jepara secara tidak langsung menjadi daerah kekuasaan Mataram juga. Penaklukan wilayah yang paling sukses yang dilakukan oleh Panembahan Senapati adalah penaklukan di wilayah Madiun. Alasan utama terjadinya perselisihan antara Mataram dan Madiun, karena Mataram telah memaksa penguasa di Blora untuk mengakui kekuasaan Mataram. Walaupun Madiun mendapat bantuan dari daerah lain, Mataram dengan taktiknya dapat mengalahkan Madiun pada tahun 1590 M. Wilayah taklukan yang lain Kerajaan Mataram adalah Pasuruan yang menyerah begitu saja pada Mataram, walau sebelum menyerah raja Pasuruan pernah menyuruh seorang penguasa di Kaniten untuk menentang Senapati, walaupun pada akhirnya mereka kalah dan akhirnya menyerah kepada Mataram. Selain daerah-daerah tersebut, daerah yang paling awal mengakui Senapati menjadi gusti mereka yaitu daerah Bagelen dan Pamajegan. Tujuan dilakukannya perluasan wilayah oleh Panembahan Senapati yaitu agar kekuasaannya diakui oleh para Adipati Jawa Timur. Akan tetapi pada kenyataannya ia tidak mendapatkan pengakuan yang diharapkan dari pihak pejabat di Jawa Timur, dan bahkan dalam melakukan perluasan wilayah tersebut ia banyak mengalami kegagalan.

Seperti yang telah diketahui, setelah meninggalnya Panembahan Senapati pada tahun 1601, ia digantikan oleh puteranya yang bernama Panembahan Krapyak. Masa pemerintahan Panembahan Krapyak tidak banyak melakukan perluasan wilayah karena sejak diangkatnya ia menjadi raja, ia harus menghadapi pemberontakan dari kedua saudaranya yang menjabat di Demak dan Ponorogo. Setelah selesai mematahkan pemberontakan-pemberontakan tersebut, barulah  ia melakukan perluasan wilayah.

Tujuan utama Panembahan Krapyak melakukan ekspansi adalah ke wilayah Surabaya dan sekitarnya. Penyerangan terhadap Surabaya sendiri baru dilakukan pada tahun 1611, tetapi Surabaya merupakan kerajaan yang sangat kuat, bahkan sejak masa pemerintahan Senapati Mataram belum mampu mengalahkan Surabaya. Wilayah kekuasaan Surabaya yang berhasil ditaklukan yaitu Gresik pada tahun 1613.

Bila dilihat dari wilayah kekuasaan Pangeran Jayaraga di Ponorogo, berarti secara otomatis wilayah itu merupakan wilayah taklukan Mataram. Pada saat Belanda datang ke Surabaya pada tahun 1613 dikatakan mereka ditemui oleh Raja Jepara dan Kudus yang merupakan wilayah jajahan Mataram. Cerita tentang perluasan wilayah yang dilakukan oleh Panembahan Krapyak hanya sedikit yang dapat diketahui. Sedikitnya keterangan yang didapat dari daftar tahun-tahun tersebut merangsang keinginan untuk mengetahui tentang hal itu lebih banyak. Tetapi bila digabungkan dari berita-berita Belanda dan cerita-cerita Jawa maka dapat diketahui bahwa Panembahan Krapyak merupakan seorang raja yang sangat pemberani.

Setelah wafat, Panembahan Krapyak digantikan oleh puteranya yaitu Sultan Agung. Pada masa pemerintahannya banyak wilayah di tanah Jawa yang ditaklukan, dan setelah menjadi raja ia segera melanjutkan peperangan terhadap Surabaya. Serangan militer yang pertama dilakukan sampai jauh ke daerah timur. Atas perintah Sultan Agung, Tumenggung Suratani menyuruh Tumenggung Alap-Alap untuk merebut daerah Lumajang dan Renong, setelah itu mereka bergerak ke Malang dan berhasil merebut semua daerah itu. Di daerah Wirasaba raja sendiri yang ikut melakukan penaklukan dan setelah dilakukan tiga kali serangan hebat Wirasaba dapat ditaklukan. Kemudian pada tahun 1616 Mataram juga berhasil menduduki daerah Lasem.

Selain penaklukan pada daerah-daerah tersebut, Sultan Agung juga menaklukkan daerah-daerah lain. Terbukti hampir seluruh wilayah di tanah Jawa di bawah kekuasaan Mataram, bahkan kekuasaan itu sampai juga ke luar pulau Jawa. Keberhasilan ekspansi yang kemudian dilakukan yaitu pada wilayah Tuban yang terjadi pada tahun 1619. Tindakan selanjutnya yang dilakukan oleh Sultan Agung untuk mengembangkan kekuasaan adalah melakukan penaklukan kembali ke berbagai daerah. Seperti yang telah diketahui, Surabaya merupakan wilayah yang kuat. Pada tahun 1620 Sultan Agung mulai melakukan penyerangan terhadap Surabaya tetapi penyerangan pertama itu mengalami kegagalan. Belajar dari pengalaman pertama yang gagal, Sultan Agung mencoba menyerang Surabaya dengan strategi baru yaitu melakukan penyerangan dari arah laut, tetapi penyerangan yang dilakukan pada tahun 1621 ini juga mengalami kegagalan. Agar sedikit melemahnya kekuatan Surabaya  maka pada tahun 1622 dilakukan penaklukan terhadap wilayah jajahan Surabaya  yang ada di Kalimantan yaitu Sukadana.

Oleh karena Surabaya merupakan kerajaan yang kuat, maka penyerangan yang ketiga dan keempat yaitu pada tahun 1622 dan 1623 yang dilakukan oleh Mataram tetap mengalami kegagalan, karena itu pada tahun 1624 ditaklukkan kembali daerah jajahan Surabaya yaitu Madura yang merupakan daerah sebagai sumber bahan makanan Surabaya. Setelah melakukan penyerangan yang kelima yaitu pada tahun 1624 dan 1625 barulah Surabaya benar-benar dapat dikalahkan oleh Mataram. Hal itu karena kecerdasan tentara Mataram yang membendung sungai dan hanya sedikit saja air yang melewati bendungan tersebut. Air yang sedikit itu oleh tentara Mataram diracuni dengan menggunakan bangkai hewan dan buah Aren. Hal itu mengakibatkan banyak rakyat Surabaya yang meninggal karena keracunan sehingga akhirnya Surabaya menyatakan kalah terhadap Kerajaan Mataram.

Pada tahun 1628 merupakan tahun kegagalan pertama dilakukannya penyerangan terhadap Batavia. Hal itu menyebabkan Sumedang dan Ukur yang ada di tanah Sunda mengkhianati Mataram. Bila dilihat dari kejadian itu dapat disimpulkan bahwa kedua daerah itu juga merupakan wilayah jajahan Mataram. Setelah lama tidak melakukan ekspansi, sasaran penaklukan pada tahun 1635 adalah wilayah Giri. Hambatan dari penaklukan itu adalah karena Giri merupakan tempat tinggal dari seorang yang beraliran spiritual yaitu Sunan Giri. Sultan Agung merasa ragu untuk melakukan penyerangan tersebut. Oleh karena itu untuk melakukan penaklukan itu haruslah dilakukan oleh seorang yang beraliran sama pula. Sultan Agung berfikir Pangeran Pekik dari Surabayalah yang pantas untuk melakukan tugas itu karena Pangeran Pekik merupakan keturunan dari Sunan Ampel. Oleh sebab itu pada tahun 1633 Mataram berusaha untuk berdamai dengan Surabaya agar Pangeran Pekik mau membantu Raja Mataram itu. Setelah berdamai dan Pangeran Pekik bersedia membantu Sultan Agung, pada tahun 1635 ia dan isterinya Ratu Pandan Sari yang merupakan adik Sultan Agung dikirim ke Giri untuk menaklukan daerah tersebut dan pada tahun 1636 wilayah itu berhasil ditaklukan. Wilayah selanjutnya yang menjadi sasaran penaklukan Sultan Agung adalah Blambangan. Penyerangan dilakukan sebanyak dua kali, penyerangan pertama dilakukan pada tahun 1635 tetapi mengalami kegagalan, baru setelah penyerangan yang kedua yaitu dari tahun 1636 sampai tahun 1640 Mataram berhasil menduduki Blambangan.

Wilayah kekuasaan Mataram di luar pulau Jawa selain Sukadana di Kalimantan yaitu antara lain Palembang, Jambi, Makasar, Banjarmasin, dan Cirebon. Semua wilayah itu bersedia menjadi daerah bawahan Kerajaan Mataram. Tetapi dari daerah-daerah tersebut yang melakukan pengkhianatan terhadap Mataram hanya Kerajaan Cirebon saja, karena penguasa Cirebon beranggapan Mataram telah membuat mereka mengalami kerugian yang sangat besar pada saat diperintahkan untuk menyerang Banten. pada akhirnya setelah mempunyai kesempatan, Cirebon dengan segera berpindah memihak pada kompeni untuk melawan Mataram.

Demikianlah sepak terjang Kerajaan Mataram di dunia perpolitikan, namanya semakin lama semakin terkenal di mana-mana dan diakui pula bahwa Mataram merupakan sebuah kerajaan yang sangat kuat dan berkuasa sehingga hampir seluruh wilayah di tanah Jawa mengakui kekuasaan dan kebesaran Mataram, walaupun kelak setelah pemerintahan Kerajaan Mataram dipegang oleh raja-raja setelah Sultan Agung, mulai mengalami kemunduran dan perpecahan karena semakin banyaknya campur tangan bangsa asing terhadap pemerintahan Kerajaan Mataram.

About these ads

14 Januari 2008 - Posted by | SEJARAH |

4 Komentar »

  1. sebagai generasi muda kita harus mencintai budaya dan sejarah bangsa ini, jika kita sebagai penerus bangsa initidak tahu tentang sejarah bangsanya maka akan sangat memalukan dan meyedihkan sekali. ayo para pemuda cintai sejarah bangsa INDONESIA. terima kasih

    Komentar oleh MICHAIL HUDA | 25 November 2008

  2. saya terima kasih atas artikel kerajaan mataramnya, sebab saya gunakan untuk mengajar di yayasan yapista kota kediri…terima kasih. bagi yang berniat membantu yayasan kami yang masih kecil ini silakan tujukan ke alamat ini: jalan tamansari III/65 tamanan mojoroto kota kediri 64116.0354.773694

    Komentar oleh MICHAIL HUDA | 25 November 2008

  3. [...] Kerajaan Mataram Islam [...]

    Ping balik oleh RIWAYAT MATARAM ISLAM-‘KEJAWEN’ SEJAK DARI DEMAK « The Nurdayat Foundation | 25 Oktober 2008

  4. sama-sama. ni aq ambil dua mata pelajaran bapak. sampai jumpa di perkuliahan. Thanks.

    Komentar oleh andy and mujab | 12 Maret 2008


Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: