ISALAM DI KERAJAAN MATARAM

16 Januari 2008 § 7 Komentar

PENGARUH ISLAM TERHADAP KEHIDUPAN SOSIO KULTURAL DI KERAJAAN MATARAM

 Bangunan-bangunan di Kerajaan Mataram

Kerajaan Mataram selama diperintah oleh empat raja berturut-turut, banyak mendirikan bangunan-bangunan yang berarti bagi kerajaan tersebut. Pembangunan tersebut didirikan dengan seiring gencarnya para raja di kerajaan Mataram melakukan perluasan wilayah yang mencakup hampir seluruh tanah Jawa di bawah kekuatan dan kekuasaan Mataram. Sebagai permulaan adanya pembangunan di tanah Mataram yaitu didirikannya sebuah keraton di suatu wilayah yang bernama Kotagede. Pembangunan tersebut didirikan seiring dengan dijadikannya tanah Mataram sebagai kerajaan kecil atau sebuah kadipaten yang dipimpin oleh seorang petinggi yang bernama Ki Pamanahan. Pada masa pemerintahan raja yang pertama ini selain didirikan sebuah keraton, ia juga mendirikan sebuah masjid yang sederhana yang digunakan untuk beribadah bersama-sama rakyatnya. Karena Ki Pamanahan beserta rakyatnya merupakan pemeluk agama Islam yang taat. Oleh karena Mataram pada masa pemerintahan Ki Pamanahan merupakan kerajaan bawahan Kerajaan Pajang sehingga tidak diketahui dengan pasti bangunan apa saja yang telah didirikan pada masa pemerintahannya. Selain itu sejak masa Ki Pamanahan sudah ada sebuah pemakaman yang terletak di sebelah masjid dan peninggalannya yang masih tampak sampai sekarang ini yaitu hanya masjid dan pemakaman tersebut.

Pengganti Ki Pamanahan yaitu Panembahan Senapati merupakan seorang raja yang gigih dalam menjalankan roda pemerintahan. Pada masa Panembahan Senapati, Mataram resmi disebut sebagai kerajaan merdeka dan berdiri sendiri. Panembahan Senapati merupakan raja merdeka pertama di Kerajaan Mataram. Selain giat melakukan perluasan wilayah, Senopati juga giat mengadakan pembangunan di wilayah kekuasaannya. Pada masa Senapati berkuasa, bangunan yang paling terkenal didirikan yaitu merupakan sebuah benteng pertahanan kerajaam Mataram yang terdiri dari benteng njobo atau benteng kota yang digunakan untuk membentengi kota di Kotagede dan benteng njero atau benteng kraton yaitu benteng pertahanan yang mengelilingi wilayah Kraton Kotagede, dimana bangunan Kraton Mataram dan benteng njero didirikan di dalam kota yang dilelilingi oleh benteng njobo tersebut. Benteng-benteng tersebut terbuat dari batu bata merah dan putih. Pembangunan benteng tersebut merupakan sebuah anjuran dari Sunan Kalijaga dan pembangunan benteng tersebut ditangani oleh seorang Senapati dari Kediri yang merupakan seorang ahli pembangunan. Panembahan Senapati juga merenovasi masjid peninggalan ayahnya yang semula berbentuk sangat sederhana menjadi lebih besar dan sampai sekarang masjid tersebut masih berdiri dengan utuh dan terkenal dengan nama Masjid Mataram Kotagede. Seperti ayahnya, Panembahan Senapati juga kurang banyak mendirikan bangunan di tanah Mataran karena pada masa pemerintahannya ia sangat sibuk melakukan ekspansi dan melepaskan diri dari kekuasaan Pajang.

Raja ketiga yang berkuasa di Mataram yaitu Panembahan Seda Ing Krapyak, ia merupakan putera dari Panembahan Senapati. Berbeda dengan raja-raja sebelumnya dan walaupun masa pemerintahannya termasuk tidak lama tetapi Panembahan Krapyak banyak mendirikan bangunan-bangunan di kerajaan Mataram. Dua tahun setelah menjadi raja yaitu tahun 1603 ia mendirikan sebuah prabayeksa yang dijadikan sebagai tempat tinggalnya. Dua tahun kemudian yaitu pada tahun 1605 ia membangun sebuah taman yang sangat indah di dalam istananya yang dinamakan Danalaya. Taman indah ini menurut cerita dijadikan sebagai tempat tinggal seorang Juru Taman yang berkebangsaan asing yang diceritakan pula penempatan orang asing itu di taman karena ia pernah membuat keonaran di dalam istana dengan cara menyamar sebagai raja. Menurut Serat Kandha, juga adanya pembuatan sebuah kolam di dalam taman yang indah tersebut. Menurut Babad Momana bangunan yang kemudian dibuat lagi yaitu pada tahun 1610 adalah lumbung yang terletak di daerah Gading, tapi diperkirakan lumbung tersebut dibuat tidak hanya satu melainkan beberapa buah lumbung tetapi saat itu Gading merupakan sebuah taman indah yang biasa digunakan raja untuk bercengkerama. Hal tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa dibuatnya lumbung di dalam taman untuk merahasiakan adanya pendirian lumbung tersebut karena lumbung tersebut merupakan tempat penyimpanan bahan makanan untuk berperang.

Di luar benteng kraton dibuat pula sebuah Jagang yaitu semacam parit yang dalam dan lebar yang berguna untuk menjaga keamanan kraton dari serangan musuh. Jagang tersebut dibagi menjadi dua bagian yaitu Jagang Njobo yang terletak di luar benteng njobo atau benteng kota dan Jagang Njero yang terletak di luar benteng njero atau benteng kraton yang mengelilingi Kraton Mataram Kotagede. Selain itu jagang-jagang tersebut juga  berfungsi sebagai penyalur air dari dalam menuju ke luar kraton. Pembangunan yang terakhir didirikan oleh Panembahan Krapyak serta merupakan bangunan yang terkenal di masanya yaitu Krapyak Beringan, bangunan ini didirikan pada tahun 1611. Krapyak Beringan merupakan suatu kawasan untuk berburu raja dan kerabatnya, bahkan diperkirakan kelak raja ini meninggal di tempat itu pula oleh karena itu diberi nama Panembahan Krapyak. Mengenai Krapyak Beringan tidak banyak diketahui kejelasannya.

Setelah masa pemerintahan Panembahan Krapyak berakhir pada tahun 1613, ia digantikan oleh puteranya yaitu Sultan Agung. Seperti yang telah diketahui Sultan Agung merupakan seorang raja yang sangat terkenal bila dibandingkan dengan raja-raja sebelum dan sesudahnya. Pada masa ia berkuasa juga banyak mendirikan bangunan-bangunan baru di Mataram. Adapun sejarah baru bagi Kerajaan Mataram yaitu pada masa Sultan Agung, kraton yang semula terletak di Kotagede dipindahkan di daerah Karta. Babad Momana memuat banyak data tentang tahun 1617 sebagai awal pengukuran tanah untuk pembangunan kraton di Karta, sedangkan pada waktu yang sama juga dilakukan pengukuran tanah di desa Pamutihan untuk kadipaten, tempat kediaman putera mahkota. Diperkirakan pada tahun berikutnya kraton dipindahkan ke Karta. Hal ini dibuktikan pula pada sekitar tahun 1618, ketika orang Pajang atas perintah raja terus-menerus membuat batu. Pada tahun 1620 kraton sama sekali belumlah selesai dibangun tetapi raja telah mendirikan bangunan baru yaitu Prabayeksa. Prabayeksa merupakan rumah pesanggrahan dan merupakan tempat pribadi bagi seorang raja. Prabayeksa ini selalu didirikan berdekatan dengan kraton yang berarti satu wilayah dengan tempat pendiian kraton. Kraton karta menurut cerita mulai ditempati pada tahun 1622 dan Kadipaten putra mahkota baru ditempati pada tahun 1626 M.

Kraton yang terletak di Karta memiliki perbedaan dengan kraton di Kotagede yaitu terletak pada bahan bangunannya. Di Karta kraton tersebut sebagian besar terbuat dari kayu, selain itu Sultan Agung juga memerintahkan pembuatan pagar besar yang terbuat dari kayu jati untuk mengelilingi istananya, hal itu dilakukan pada tahun 1626. Oleh karena itu di Karta sendiri sering kali terjadi kebakaran sehingga bangunan bangunan tersebut sering direnovasi bahkan hingga sekarang ini peningggalan yang masih ada tinggal tiga buah pondasi tiang utama bangunan yang terbuat dari batu yang dinamakan Umpak. Mengenai bahan bangunan di kraton Karta ini dibuktikan dengan kunjungan Jan Vois pada tahun 1624 ke kraton Karta. Ia bercerita sangat teliti tentang kraton Karta. Menurutnya yang menarik perhatian adalah seluruh kompleks bangunan tersebut terbuat dari kayu, dinding-dinding dari batu tidak disebutkan, meski bagian-bagian tertentu ada yang terbuat dari batu seperti lantai dan fondamen di bawah tiang. Bahkan pagar-pagar pemisah dengan alun-alun dibuat dari balok-balok kayu yang berdiri tegak lurus. Hal baru dalam lingkungan kraton Mataram pada tahun 1625, Sultan Agung melengkapi kratonnya dengan pembangunan sebuah tahta raja yang disebut dengan Sitihinggil, yaitu bangunan yang berfungsi sebagai tempat tahta seorang raja. Pembangunan Sitihinggil tersebut banyak mengerahkan tanaga rakyat.

Biasanya kraton mempunyai sebuah kolam yang berada di kawasan istana, oleh karena itu tahun sebelumnya yaitu pada tahun 1620, Sultan Agung memerintahkan membuat kolam di salah satu halaman kraton. Kolam tersebut berfungsi sebagai tempat mandi para wanita raja dan tempat bersenang-senang/bermain-main dengan perahu-perahu kecil. Pada tahun yang sama menurut para tahanan Belanda, raja banyak membangun taman ria di pantai selatan serta taman di sebuah gunung yang digunakan sebagai tempat berburu. Antara tahun 1634-1635 M diberitakan oleh babad Sangkala Sultan Agung membuat sebuah tambak ikan di halaman belakang istananya. Kemudian pada tahun 1643 Babad Sangkala juga memberitakan dibangunnya sebuah bendungan Plered yang kelak nama tersebut dipakai sebagai nama kraton bernama kraton Plered yang merupakan pindahan dari Kraton Karta oleh raja berikutnya.

Selain membuat kraton, Sultan Agung juga membuat bangunan untuk para pejabat terkemuka kerajaan. Bangunan yang pertama didirikan adalah Kepatihan yaitu bangunan untuk patihnya bernama Tumenggung Singaranu. Bangunan Kepatihan ini didirikan di dalam kota kecil yang bernama Jagaraga. Kota kecil bagi Tumenggung Singaranu ini dikelilingi oleh bangunan-bangunan tebal dan berpenduduk sedikit dan didirikan bersebelahan dengan kota tempat didirikannya Krton Karta. Yang menjadi alasan mengapa Kepatihan tersebut dikelilingi oleh tembok-tembok tebal yang terbuat dari batu yaitu menurut De Graaf diperkirakan sebagai benteng yang diperkuat untuk menangkis serangan-serangan musuh terhadap Kraton Karta. Bangunan-bangunan lain yang dibangun adalah rumah-rumah indah baik di kawasan dalam maupun di luar kawasan Mataram yang merupakan tempat tinggal para pejabat istana yang terkemuka diantaranya adalah bangunan Kartasekar dan Kartawinata. Kota kecil yang dibangun dengan menggunakan batu putih berbentuk persegi panjang yang kemudian disebut dengan sebuah dalem yang terletak di tengah sawah milik seorang wanita hulubalang yang merupakan salah satu perumahan yang megah itu. Bangunan lain yang dibangun pada masa Sultan Agung yaitu bangunan masjid kraton, tetapi peninggalan pada abad ke-17 mengenai masjid ini sama sekali tidak ada. Sumber-sumberpun tidak ada yang mengungkapkan atau bercerita tentang masjid ini, bahkan Jan Vos yang sangat teliti juga tidak menyebutkan bangunan masjid ini. Alasan yang tidak diceritakan tentang bangunan masjid karena masjid tidak memiliki sesuatu yang sangat istimewa, bangunan masjid tidak hanya dimiliki oleh kraton saja, melainkan di setiap desa juga ada.

Peninggalan-peninggalan utama baik berupa bangunan atau benda  lainnya yang masih bisa dilihat hingga saat ini kebanyakan peninggalan pada masa Panembahan Senopati seperti misalnya :

1.      Masjid Mataram Kotagede

Yang sampai saat ini masih berdiri dan berfungsi dengan baik yang merupakan peninggalan dari masa Ki Pamanahan sampai Panembahan Krapyak.

2.      Bekas-bekas benteng pertahanan

Benteng pertahanan itu dibagi menjadi dua bagian yaitu benteng njobo yang mengelilingi kota Mataram dan benteng njero yang mengelilingi Kraton Mataram yang didirikan di dalam kota Mataram yang dikelilingi oleh benteng njobo terebut. Benteng tersebut juga dilengkapi dengan sebuah parit.yang disebut Jagang yang dibagi menjadi Jagang Njobo yang mengelilingi benteng njobo dan Jagang Njero yang mengelilingi benteng njero.

3.      Bangsal Duda

Yang dibuat pada masa Sultan Agung yaitu pada tahun 1644 M, yang sekarang ini dapat dilihat di halaman masjid.

4.      Kompleks Pemakaman Kotagede

Yang merupakan lokasi makam dari keluarga dan tiga raja Mataram yaitu Ki Pamanahan, Panembahan Senapati dan Panembahan Krapyak.

5.      Sumber Kemuning

Merupakan sebuah kolam yang dibangun pada masa Panembahan Senapati yang dapat dilihat di sebelah barat tembok makam Kotagede.

6.      Watu Gateng dan Watu Gilang

Merupakan salah satu peninggalan yang dianggap sakral. Watu Gateng adalah tiga buah batu bulat berwarna kuning keemasan yang merupakan alat permainan Raden Rangga, putera dari Panembahan Senapati. Sedangkan Watu Gilang adalah batu persegi empat yang dibidang tepinya terdapat cekungan sebesar dahi orang. Bila dilihat dari sejarah dan cerita rakyat Jawa, cekungan sebesar dahi orang tersebut dibidang tepi batu merupakan bekas kepala Ki Ageng Mangir yang dibenturkan pada saat akan melakukan sembah sujud kepada Panembahan Senapati yang merupakan musuh sekaligus menantunya.

7.      Gapura Paduraksa

Merupakan pintu gerbang masuk halaman Masjid Kotagede yang bercirikan Hindu – Islam, bangunan tersebut masih tetap berdiri walau telah mengalami beberapa kali renovasi.

8.      Tiga buah pondasi atau fondamen yang terbuat dari batu

Tiga buah pondasi ini dinamakan Umpak yang sekarang terletak di desa Karta sekarang ini. Tiga fondasi itu merupakan peninggalan bekas kraton Sultan Agung yang ada di Karta.

9. Kompleks Pemakaman Imogiri

Sebagai tempat peristirahatan terakhir Sultan Agung dan raja-raja sesudahnya serta keluarga-keluarganya.

Demikianlah peninggalan-peninggalan yang masih dapat dilihat hingga sekarang ini, walaupun hanya sedikit saja yang masih tersisa tetapi semua itu tidak dapat menghilangkan sejarah kebesaran Kerajaan Mataram dari mulai berdiri hingga jayanya kerajaan Mataram sehingga masih dapat merasakan dengan nyata akan adanya kerajaan tersebut.

Tagged:

§ 7 Responses to ISALAM DI KERAJAAN MATARAM

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading ISALAM DI KERAJAAN MATARAM at Drs. SUDARTOYO.

meta

%d blogger menyukai ini: