Halo dunia!

29 Januari 2008 § 1 Komentar

UNEK-2 KU

Aku membaca berbagai berita entah yang sudah berlalu ato yang baru aja terbit, aku jadi bingung dan semakin mumet. Kenapa orang pinter sekolahnya aja dari Perguruan Tinggi Luar Negeri, kadang ngomong bener kadang menjadi mumet aku (entah karena aku bodo pa ya). Kasus orang yang sudah berpulang kerahmatullah banyak di bicarakan bahkan kadang orang yang menguasai ajaran agama (bisa ku anggap tahu benar masalah akhlaq, akidah, sunnah dll) ngomongnya kok sering tidak terkontrol (menurutku ngalor ngidul g karuan, kadang juga arogan,sering tidak arif).

Apa orang yang pinter (jenius, intelektual, katanya dijuluki negarawan dll) juga pinter jadi provokator ato menghasut orang ato menghujat dan memaksa ato minteri orang ya. (KOK BANGGA SIHHHHH ………………… ). Apa klo ngomong tuh g pake dipikir apa dampaknya ato malah ingin sensasi agar terkenal terus, apa klo mengalami masalah yg mungkin spt orang yang meninggal itu trus diperlakukan seperti itu mau ???? Apa dirinya merasa benar tidak ada salahnya. Apa mau jadi pahlawan yang perang dimedan damai, ato ingin dikenang banyak orang sebelum meninggal. Kadang aku juga ngeri dah, udah deket dengan liang lahat aja masih komentar yg bikin gerah bagi orang2 yang pendek nalarnya (bisa jadi sakit ati, iri dan dengki), akhirnya bikin keributan dan onar. Kalo udah begitu apa mau dikenang orang sebagai pahlawan bikin onar. Klo mungkin bisa bikin onar trus bisa memberi solusi bahkan tindakan riil yang bisa membangun seluruh komponen sih g pa2 (cuman pinter omong nggak tahu realita di masyarakat, adakan sensus atau penelitian dulu dong).

Coba kita ulang hal2 yang sudah terjadi di negara kita tercinta ini :

Sejak merdeka 17 Agustus 1945, tokoh2/pemimpin kita udah berjuang untuk menegakkan kemerdekaan dan membentuk, menjalankan pemerintahan. Saat itu banyak gejolak entah berasal dari luar negeri atau dalam negeri. Luar negeri kita harus menyelesaikan masalah dengan Belanda dalam negeri mendirikan pemerintahan dan menghadapi pemberontakan (maaf karena bertentangan dengan pemerintah maka dikatakan pemberontak). Banyak hal2 yg bikin masalah dalam negara kita, jadi pemimpin kita susah untuk menata negara ini, apalagi dengan banyaknya kepentingan kelompok atau golongan yang jumlahnya banyak dan sama2 ingin berkuasa di negara kita tercinta ini, yang notabene pemimpin/kepala negara itu hanya ada satu kursi. Coba bisa kita renungkan satu kursi diperebutkan banyak kelompok, banyak kepentingan. Ya kalo para pemimpin golongan/kelompok ato disebut apa sajalah, itu bisa mengakui kehebatan lawannya (bangsa kita belum bisa loh mengakui orang lain itu hebat) kemudian bareng2 membangun negara itu bagus, tapi kenyataannya nggak. Mungkin pada saat itu harus memilih orang yang bisa menyatukan pendapat dan kepentingan rakyat untuk membangun dan menyelesaikan semua problem. Kalo kita sadar diri sebenarnya manusia akan lebih bisa berfikir dan tenang bila kebutuhan sehari-hari (dalam standar normal ajalah) bisa terpenuhi. Nah sejak 1967 mulailah ekonomi dibangun memang dengan sedikit mengalahkan bidang lain misalnya politik. Kehidupan mulai menampakkan kemajuan pesat bahkan sampe tahun 2000-an.

Coba kita renungkan :

Kehidupan ekonomi di barengi dengan pendidikan untuk mempercepat kemajuan dan stabilitas nasional mulai di garap. Sekolah dibangun dimana2 bahkan untuk menunjang sekolah gratis, dibangunlah sekolah2 baru di tingkat dasar (aku juga masuk dalam program itu) dan sekolah lanjutan sampe di tingkat kecamatan. Kesempatan sekolah ke luar negeri banyak, palagi yang berprestasi dan ber IQ tinggi banyak beasiswa diberikan. Setelah orang2 berkesempatan bisa mengenyam pendidikan seperti itu bahkan ada yang terkontaminasi budaya barat pulang ke Indonesia dan ingin menyusupkan budaya tersebut ke bangsa Indonesia. Tapi mereka tidak ingat bila bangsa ini bukanlah bangsa barat yang siap dengan budaya barat yang dibawanya. Hayooo siapa yang kemudian merongrong pemerintah setelah pinter, bukannya membantu malah merusak. Mau demokrasi ????? pelajari dulu dong karakter bangsa Indonesia baru bikin program untuk dijalankan, jangan sok maksakan kehendaklah. Klo untuk kaum intelektual sih sudah mapan dan tahu, tapi untuk rakyat yang jauh dengan perguruan tinggi, siapkah mereka. Nich aku punya usul berikan dulu pendidikan politik dan paham demokrasi dulu kepada seluruh rakyat dengan memperbaiki pendidikan di semua jenjang, baru bisa jalankan program baru yang diperoleh dari luar negeri yang notabene rakyatnya sudah jauh lebih maju daripada rakyat Indonesia umumnya. 

Kita kaitkan dengan kehidupan bangsa kita saat ini, banyak tokoh/negarawan/politisi (katanya) dengan kepentingannya mengajarkan dan mengajak rakyat untuk berperilaku “menentang” (karena ingin ada revolusi di negara ini). Kejadiannya misalnya Reformasi yang telah meletus, hasil yang kita peroleh apa coba : antara lainnya adalah perubahan dalam pemerintahan, berganti2 pemimpin yang ingin menonjolkan program2nya yang wah. Membebaskan belenggu (katanya) dari pemerintahan yang telah ada, memberikan kebebasan kepada seluruh bangsa dll. Akibat dari itu semua sekarang kita mengalami keterpurukan yang tidak habis2nya karena pencetus dan pemimpin/tokoh2 kita masih belum bisa bersatu dan masih unjuk diri tanpa mau mengakui kelebihan orang lain apalagi dengan lawan politiknya. Salah satu tokoh kita yang getol menjadi pencetus dan mempelopori gerakan reformis dan pernah juga jadi pemeimpin yang tinggi apa yang dihasilkan ???? Memecah belah kesatuan, memberikan contoh untuk anarkhis, bahkan ada yang menjual aset negara yang strategis bahkan sangat menguntungkan negara di masa yang akan datang dan perusahaan negara itu sangat sehat, yang diuntungkan negara lain yang membayar hutang kita karena ingin tetap berkuasa. Ironisnya kelompok yang berkuasa meraup keuntungan dengan mengkaim proyek2 besar berskala nasional, rekanan yang tidak mampu aja dapet proyek ?????? bahkan ironisnya dengan mencatut penguasa para pendukungnya bersikap arogan. Banyak wakil rakyat yang adu otot, mungkin itu yang dimiliki bukan ilmu dan skill untuk membuat program kesejahteraan rakyat, ujung2nya juga urusan perutnya sendiri, pandai2 dalam mengolah anggaran supaya dapet nutup utang sewaktu berpesta saat mencalonkan diri,  (apakah seperti ini wakil rakyat ???? ironisnya sebagian rakyat menirunya dan anarkhislah yang terjadi, coba lihat peristiwa2 yang terjadi banyak yang liar tanpa kendali). Sekarang rakyat yang belum siap dengan propaganda tokoh2 kita banyak yang melakukan hujatan, anarkhis, mencatut nama/kelompok contohnya atas nama rakyat miskin, atas nama mahasiswa, atas nama apa lagi…….. (inikah hasil semua itu), rakyat miskin mana yang diwakili, mahasiswa mana juga yang diwakili. Apa tidak sadar kok bila menggulirkan hal sperti itu akan berdampak pada kehidupan rakyat. Apakah pernah melakukan jajak pendapat ato survey ato penelitian terhadap seluruh rakyat kita ini, apa sebenarnya yang diinginkan.

Kemarin aku liat dan dengar sendiri kata tokoh di salah satu TV Swasta, terkait dg pak Harto, gembira krn pak Harto turun dari jabatan Presiden, kemudian lupa untuk program selanjutnya ….. , MPR/DPR juga harus bubar …… dst. Apa seperti itu menggulingkan seseorang kemudian tidak siap dengan tindak lanjutnya. Apakah negara ini sebagai barang permainan/dolanan (Masya Allah). Kalo pimpinan kita seperti ini apa jadinya negara ini, palagi sudah meracuni generasi dg berbagai perilaku ajaran yang sudah mereka praktekan dan diwarisi (terutama untuk orang2 yg punya kemempuan/prestasi pas-pasan sebagai ajang pelampiasan tanpa tujuan yang benar dan dengan harapan minta belas kasihan). Inikah warisan yang akan diwariskan ke generasi berikut. Maaf rata2 yang demo untuk saat ini menurut aku adalah orang2 yang sakit hati, kecewa, memanfaatkan kesempatan untuk mencari untung  sendiri, minta belas kasihan, iri dengan orang yang mau kerja keras (karena banyak orang kaya karena hasil kerja keras, walaupun aku juga tidak nutup mata ada emang yg kaya karena korupsi, itupun tidak hanya dilakukan semasa pak Harto tapi sampe sekarang di era jaman reformasi, mau liat silakan tokoh2 kita yang anti korupsi turun tangan sendiri ke seluruh wilayah Indonesia). Tidak hanya bisa komentar tanpa tindakan riil, palagi bisanya menghujat, tapi nggak pernah memberikan jalan, solusi, dan tindakan riil kepada lembaga yang berwenang ato anda hanya ingin cari sensasi biar terkenal. Sekali lagi maaf bila kaum intelektual dan berprestasi Akademik ber IQ tinggi demo kok menghujat,menantang dan yang paling trend sekarang adalah demo jadi pekerjaan dan mendapatkan upah (tolong diamati, mungkin klo aku salah), dsb.,(apakah benar yg suka berbuat begitu itu nggak punya prestasi akademik bagus, alias IQ jongkok) apa nggak malu ama rakyat yang hanya tahu cari rejeki gampang, murah sandang pangan, aman dan nyaman tidak ada teror, tidak ada bentrokan antar warga/rakyat, sekolah bisa terjangkau rakyat, pendidikan maju, pemimpin kita bisa memberikan contoh yang baik, wakil kita bisa benar2 jadi wakil tidak hanya kedok belaka dsb. (salah satunya seperti aku, aku akan bersyukur diberi kenyamanan dalam bekerja, maaf aku tidak ada pamrih jadi pemimpin atau mencari sensasi dan aku jalankan berdasarkan ajaran agamaku). Adakalanya demo kok bisanya hanya ngrusak (palagi fasilitas umum yang dibangun dari uang rakyat, dibangun kembali juga pake uang rakyat bukan uangnya pendemo), menurunkan orang dsb. tapi kalo demo yang bisa memberikan data, fakta yang valid (tidak hanya terprovokasi) dll., solusi dan follow up dan membantu pemerintah menuntaskan masalah itu baru aku acungi jempol.

Para pemimpin atau yang mengaku pemimpin cobalah berfikir kembali dan kembalikan pada diri sendiri terlebih dulu sebelum bertindak, korban anda sudah semakin banyak dan semakin memperparah keadaan, pakelah cara2 yang arif bijak dan bertanggungjawab. Ciptakan suasana yang nyaman untuk membangun bangsa ini dan sadarlah bila bangsa Indonesia belum siap dengan missi anda yang terlalu tinggi dan hanya bisa diikuti oleh orang2 yang sejajar dengan anda. Gunakan dan pilih pendekatan yang kondosif untuk mendidik dan pembelajaran untuk rakyat, bila ingin megusut masalah korupsi, kolusi, nepotisme dll, gunakanlah pepatah mengail tanpa membuat airnya keruh, bila banyak ikan yang dikail maka bendunglah supaya semua kolam/laut/sungai tidak bergejolak. KKN di Indonesia sudah menjadi budaya dan mengakar sampe rakyat kecil. (liat contoh : urusan surat2 di desa sdh menjadi tradisi suap menyuap, ingin jadi pegawai, palagi urusan perinjinan, kondisi seperti ini sudah berlangsung lama dan berjalan sampe sekarang, sebagian masyarakat kita sudah mentradisikan seperti ini, maka jangan minta sekejab bisa jadi selesai urusan ini). Sebaiknya yang mengaku pemimpin/tokoh/negarawan peduli bangsa memberikan contoh terlebih dulu.

Kaum intelektual, anda adalah pioner penerus bangsa ini cobalah bertindak yang bisa menarik simpati rakyat kalo ingin jadi pemimpin tunjukan kearifan, keteladanan (kepiawian) dan prestasi akademik serta mampu manjing ajur ajer dalam kehidupan rakyat (baca : Ajaran Ki Hajar Dewantara) dari sekarang, jangan anarkhis, suka menghujat dan mencatut nama/rakyat, karena tidak semuanya bisa mengikuti anda. Bila anda berperilaku demikian maka andapun jadi pimpinan yang suka mencatut, menghujat dsb. rakyat tidak akan mau anda pimpin termasuk aku.

Bagi temen2 dan bangsa Indonesia umumnya coba kita mulai memilih hal2 yang baik untuk keluar dari belenggu kehidupan yang sekarang susah, dengan tidak mudah terprovokasi, lihat karakter dan latar belakang tokoh2/pemimpin kita, missinya, kepentingannya dengan hal2 yang diucapkan, jangan mudah percaya dech kalo tidak dengan data/fakta dan solusi yang harus dilaksanakan. Kita harus dekatkan diri pada sang pencipta dan menjalankan semua ajaran agama yang kita anut, Insya Allah kita akan menjadi orang yang bijak. Sekarang ini kita udah lihat banyak bukti dari politiknya dan  propaganda2 yang telah disampekan, dari wakil kita di lembaga negara yg awalnya muluk2 tapi setelah jadi apa yg kita dapatkan, pelopor kita yang intelektual bagus idenya tapi nyatanya malah mengacak-acak tatanan negara yang sudah mapan (kita lihat masalah otonomi banyak kasus kan malah membuat perselisihan, terror, anarkis), janjinya muluk2 ujung2nya ingin jadi pimpinan untuk dirinya dan kelompoknya, kita rakyat biasa jadi korban permainan politiknya karena kita termakan politiknya. Yuukkk……….. kita rubah kebiasaan kita jangan terkena/termakan politiknya, tapi gunakan politiknya untuk mempolitiki kepada dia. Masalah HAM, Demokrasi coba kita lihat sepertinya hanya dijadikan kedok untuk menghujat dan mengambil alih pimpinan. Hakekatnya entahhhhhhhhhhhlahhhhhhhhhh. BUKTINYA RIIL dan dampaknya kita rasakan bersama. Kita pilih pemeimpin yang benar2 bisa mensejahterakan dan memikirkan nasib kita dan bisa menjaga keutuhan negara dan rakyat Indonesia tercinta.

Semoga akan muncul tokoh yang arif, bijak, taat menjalankan agama, bertanggungjawab berwawasan, brani mengakui kelebihan orang lain dan menempatkan ditempat yang ia mampu sekalipun itu lawan politiknya,  mampu membawa kita sampe pada tujuan kita bersama, dan salurkan aspirasi dan suaramu kepada orang2 yang benar2 mampu dan mau menjadi wakil kita serta memikirkan nasib kita. Jangan mudah terprovokasi dan iming2 dalam bentuk apapun karena itu adalah tanda ketidakmampuan dalam bersaing secara sehat, bersih dan dapat dipertanggungjawabkan bahkan kalo mungkin dengan kontrak politik yang terlindungi hukum, sehingga kita bisa menuntut bila tidak terpenuhi semua janjinya ato sumpahnya.

COBALAH KITA BERSAMA MENCERAHKAN KEMBALI HAKEKAT KITA SEBAGAI MANUSIA yang ber Tuhan, berbudi luhur dan akhlak mulia, ingat Tuhan sebagai penguasa segalanya. Aminnnnnnn

 

Maaf ini hanyalah luapan isi hatiku yang ingin sekali aku ungkapkan.

——————————————————————————————

Selamat datang di duniaku, Berbagai masalah dan pendapat akan selalu berharga untuk kita cermati dan mengambil kebijaksaan hidup.

§ One Response to Halo dunia!

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Halo dunia! at Drs. SUDARTOYO.

meta

%d blogger menyukai ini: