Indonesia Baru

18 Maret 2008 § 4 Komentar

Thumbnail

Bahan Classroom dapat diakses melalui Putra Muria dan pakai diskusi, laporan ditunggu lewat blog, e-mail. terima kasih.

 

Silakan klik : Putra Muria

§ 4 Responses to Indonesia Baru

  • iskandar lubis sh mengatakan:

    3 program yang dapat mensejahterkan rakyat pertama pendidikan yang secara kualitas dan kuantitas murah dan terjamin, peningkatan kesehatan karena kesehatan merupakan kunci utama kesuksesan serta keamanan

  • Fitra Gunawan mengatakan:

    pak yok saya ada kirim tugas di alamat mail anda….
    tugas nya saya tinggalkan juga di blog anda, takutnya di alamt mail anda tidak masuk…..
    saya hari rabu depan tidak bisa mengikuti perkulihan seperti biasa karena ada halangan…
    thanx atas pengertiannya….
    wassalammmmmmmm

  • Fitra Gunawan mengatakan:

    MUNCULNYA NASIONALISME DI INDONESIA
    Oleh : Fitra Gunawan

    Pendahuluan
    Bangsa Indonesia masuk ke dalam masa penjajahan sejak awal abad ke-17. kedatangan orang Eropa yang di awali oleh bangsa Portugis dan bangsa Spanyol dalam rangka mangadakan penjelajahan keliling dunia, maka sampailah bangsa-bangsa tersebut di Asia. Dengan di temukan kompas, mesin uap dan berdasrkan teori Copernicus bahwa bumi ini bulat, maka mulailah penjelajahan dunia. Dari kedua bangsa itu pertama kali muncul adanya Imperelaisme kuno yang bersemboyan gold (emas lambang kekayaan), gospel (agama sebagai usaha penyebaran agama dan meneruskan perang salib) dan glory (kejayaan yang berarti ingin menguasai daerah-daerah yang didatanginya). Hal tersebut terjadi sejak abad ke 15 dan ke 16. Sedangkan Belanda datang ke Indonesia pada tahun 1596 dibawah pimpinan Cornelius De Houtman yang mendarat di Banten.
    Dari ketiga bangsa tersebut Belanda yang paling berhasil menanamkan kekuasaannya di Indonesia. Portugis sulit menaklukan perlawanan rakyat, meskipun rakyat melakukan pelawanan secara local, contohnya di Sunda Kelapa yang pada tahun 1527 masih menjadi kota pelabuhan kerajaan Pajajaran. Portugis mendapat izin dari raja Pajajaran, sedangkan Fatahillah diberi tugas dari Sultan Demak, maka terjadilah pertempuran antara pasukan Portugis dengan pasukan Fatahillah di daerah Sunda Kelapa itu. Dalam pertempuran tersebut Portugis mengalami kekalahan total. Hal ini ditandai dengan perubahan nama Sunda Kelapa menjadi “Jayakarata” (kemenangan sempurna) pada tanggal 22 juni 1527 oleh Fatahillah.
    Sedangkan Belanda dengan kompeninya, sejak mendapatkan kesempatan dan izin dari Sultan Banten, terus mendirikan loji yang akhirnya digunakan untuk kantor dan perdagangan dan pertahanan, sehingga mampu bersaing dengan pedagang-pedagang pribumi kelicikan Belanda ini memang tidak di duga oleh Raja Banten. Selanjutnya Belanda terus memperluas kekuasaan dan usaha dagang nya, sistem monopoli perdagangan tampak berjalan dengan baik. Dengan sistem monopoli inilah, akibatnya kekuasaan Raja Banten mulai terganggu. Tahun 1619 Belanda berhasil merebut Jayakarta dari tangan Pangeran Wijayakrama. Gubernur Jenderal Belanda Jan Pieterszoon Coen lalu mengubah nama Jayakarta menjadi Batavia. Kota ini kemudian berkembang menjadi kota pelabuhan terbesar di Asia Tenggara serta didukung oleh angkatan laut yang besar-besaran. Dari Batavia inilah VOC dapat mengawasi bandar-bandar dagang nya dan benteng-benteng nya yang berada diantara Afrika dan Jepang. Dengan demikian kedudukan Batavia sangat penting sebagai pengawas maupun pertahanan. Hal ini terbukti sampai dengan VOC bubar dan diganti dengan pemerintahan Hindia Belanda.
    Dalam catatan sejarah perjuangan bangsa Indonesia telah mengalami pasang surut. Bangsa Indonesia masuk dalam alam penjajahan yaitu pada abad 17, dengan dimulainya monopoli perdagangan oleh bangsa Belanda melalui kongsi dagang nya yang disebut Verenigde Oost Indsche Compagnie (VOC) yang berdiri tahun 1602, maka mulai saat itulah bangsa Indonesia masuk dalam alam penjajahan.
    Untuk membebaskan diri dari cengkeraman penjajah ternyata sangat sulit. Perjuangan yang hanya mengandalkan kekuatan bersenjata tradisional, ternyata tidak mampu mengusir penjajah. Perjuangan semacam ini dilakukan sejak melawan VOC sampai dengan awal abad 20. bangsa Indonesia selalu mengalami kekalahan, sebab kekalahan tersebut antara lain :
    – Belum adanya persatuan dan kesatuan bangsa
    – Sifat perjuangan masih bersifat kedaerahan (parsial)
    – Tujuannya masih berkisar wilayah kekuasaan raja atau penguasa setempat (nasional sempit)
    – Belum ada organisasi perjuangan besifat nasioanal
    – Masih mengandalkan kekuatan fisik (senjata)

    Munculnya Nasionalisme di Indonesia
    Nasionalisme berasal dari kata Nation yang berarti Bangsa. Jadi nasionalisme ialah paham tentang kebangsaan, yaitu paham yang menyadarkan tentang harga diri suatu bangsa, berupa perasaan cinta kepada bangsa dan tanah airnya. Paham nasionalisme lahir pertama kali di Eropa sebagai suatu reaksi terhadap penguasaan negara-negara Eropa dari kekuasaan Napoleon Bonaparte dari Prancis (1804-1815)
    Setelah sekian lama Belanda mengeruk kekayaan dari Indonesia, pada tahun1890, orang-orang Belanda yang berhaluan progresif menyampaikan usul kepada parlemen Belanda. Mereka mengatakan sudah saatnya Belanda meikirkan nasib bangsa Indonesia atau membalas budi baik bangsa Indonesia. Latar belakang pernyataan itu ialah karena Belanda sudah cukup banyak mengambil kekayaan dari Indonesia, selain itu Belanda juga mendapat banyak tekanan dari Negara eropa tentang penerapan politik di daerah kolonialnya. Maka untuk menjawab itu semua Belanda menerapkan Politik Etis di Indonesia. Penganjur Politik Etis adalah Conraad Theodore Van Deventer. Ia menulis dalam karangannya yang berjudul Een Eeresculd (Utang Budi). Dalam karangannya Van Deventer menyebutkan bahwa Belanda telah mendapatkan cukup banyak kekayaan dari Indonesia sebagai hasil dari jerih payah dari bangsa Indonesia. Oleh karena itu, sudah sewajarnya bangsa Belanda membalas budi baik bangsa Indonesia, salah satunya dengan cara melaksanakan Trilogi Van Deventer yang berisi
    – Edukasi (pendidikan)
    – Irigasi (pengairan)
    – Imigrasi (perpindahan penduduk)
    Usul tentang Trilogi Van Deventer diterima oleh pemerintah Belanda. Akan tetapi pelaksanaan nya diselewengkan menjadi politik Assosiasi. Artinya politik Assosiasi ini pelaksanaanya hanya menguntungkan pemerintah Belanda. Hal ini terlihat dalam pelaksanaan Trilogi Van Deventer sebagai berikut
    – Edukasi (Pendidikan) dilaksanakan hanya untuk tenaga-tenaga kerja terdidik bagi Belanda
    – Irigasi (Pengairan) dilaksanakan hanya untuk mengairi sawah-sawah milik pengusaha-pengusaha Belanda
    – Imigrasi (Perpindahan Penduduk) dilaksanakan hanya untuk tenaga kerja yang dipekerjakan diperkebunan Belanda di luar pulau Jawa
    Walaupun Belanda telah melaksanakan Trilogi Van Deventer, tetapi belum dapat mengubah nasib bangsa Indonesia. Politik Etis lebih menguntungkan Belanda daripada Indonesia. Namun di bidang pendidikan Indonesia memproleh sedikit kemajuan, misalnya diperbolehkannya bangsa Indonesia untuk belajar diperguruam tinggi walaupun ketentuan itu hanya berlaku bagi golongan tertentu. Namun kesempatan yang sedikit ini telah melahirkan golongan Intelektual (Terpelajar).
    Golongan terpelajar telah mengetahui tujuan politik Belanda semata-mata hanya menguntungkan Belanda sendiri. Bahkan, mereka juga mengetahui penjajahan yang dilakukan oleh Belanda bertentangan dengan hak asasi manusia. Oleh karena itu golongan terpelajar semakin menyadari bahwa bangsa Indonesia dapat mencapai kesejahteraan apabila merdeka, bebas dari penjajahan, dan mengatur pemerintahan sendiri. Dengan kesadaran yang tinggi, golongan terpelajar merasa terpanggil untuk membebaskan bangsanya dari penjajahan. Mereka tampil sebagai pelopor, penggerak dan pemimpin pergerakan nasional dengan tujuan untuk mencapai kemerdekaan Indonesia.
    Sartono Kartodirjo Mengatakan Nasionalisme Sebagai Suatu Gejala Historis Berkembang Sebagai Sutau Jawaban Terhadap Kondisi Politik, Ekonomi, Dan Social, Khususnya Yang Di Timbulkan Oleh Situasi Kolonial. Secara Historis proses kelahiaran nasionalisme di Indonesia dapat dilihat dalam pergerkan nasional. Pada saat itu pergerakan nasional di Indonesia tumbuh dan berkembang sebagai reaksi terhadap kolonialisme Barat di Indonesia. Jadi sebab utama lahirnya nasionalisme Indonesia adalah penderitaan lahir dan batin yang di alami bangsa Indonesia karena kolonialisme Barat dan keinginan mencapai kemerdekaan. Munculnya Nasionalisme di Indonesia dipengaruhi oleh faktor-faktor dari dalam dan luar negeri.

    Faktor Dari Dalam Negeri
    a. Penderitaan Akibat Penjajahan
    Perasaan setia kepada kawan kadang-kadang tumbuh oleh perasaan persamaan nasib dan persamaan musuh. Dalam hal ini musuh Indonesia adalah kolonial Belanda. Bangsa Indonesia telah lama menderita oleh penjajahan Belanda. Persamaan nasib inilah yang mendorong bangsa Indonesia untuk bersatu padu melawan penjajahan. Kebangkitan atau kelahiran nasionalisme merupakan reaksi terhadap penjajahan.
    b. Kesatuan Indonesia Dibawah Pax Neerlandica
    Pax Neerlandica (perdamaian neerlandika) dimaksudkan sebagai kesatuan Indonesia dibawah penjajahan Belanda, yang mengandung arti penyatuan dan penenteraman (unification dan pacification)
    c. Perkembangan Komunikasi
    Komunikasi memudahkan perhubungan yang terjalin. Rakyat semakin cepat mengetahui perkembangan poltik yang sebenarnya di Belanda, sehingga segala sesuatu nya lebih mudah diketahui masyarakat umum. Perkembangan komunikasi menyebabkan rakyat Indonesia yang berasal dari berbagai pulau lebih mudah dan sering berhubungan. Keadaan ini mempercepat tumbuhnya semanagat kebangsaan (Nasionalisme) Indonesia
    d. Penggunaan Bahasa Melayu
    Dikalangan pribumi, penggunaan bahasa Belanda di batasi. Sebagai gantinya diperkenalkan bahasa Melayu sebagai bahasa sehari-hari. Seiring dengan perkembangan waktu bahasa melayu berkembang menjadi bahasa pergaulan (lingua franca). Puncaknya pada tanggal 28 oktober 1928, bahasa melayu tetapkan menjadi bahasa persatuan nasional Indonesia dalam Sumpah Pemuda
    e. Ditetapkannya Undang-Undang Desentralisasi 1903
    Isi undang-undang Desentralisasi 1903 adalah mengatur tentang pembentukan Kotapraja dan Dewan-Dewan Kotaprja pada saat itu. Berarti telah diperkenalkan tata cara Demokrasi Modern
    f. Inspirasi Kejayaan Masa Lalu
    Zaman keemasan Majapahit dan Sriwijaya memberikan inspirasi bangsa Indonesia untuk melawan penjajah.
    g. Terbatasnya Kesempatan Bagi Bangsa Indonesia Di Bidang Pengajaran Dan Pendidikan
    Adanya diskriminasi dalam hal pengajaran dan pendidikan antara orang Belanda dan pribumi menyadarkan para pemimpin bangsa untuk bangkit guna mendirikan organisasi dengan program perbaikan pendidikan rakyat.

    Faktor-Faktor Dari Luar Negeri
    a. Dampak Pendidikan Luar Negeri
    Mahasiswa-mahasiswa yang belajar di luar negeri membawa ide-ide baru untuk melakukan perubahan nasib bangsa Indonesia
    b. Kemenangan Jepang Atas Rusia Pada Tahun 1905
    Kemenangan Jepang tersebut mengembalikan kepercayaan bangsa Indonesia akan kemampuan sendiri. Bangsa Asia timbul rasa percaya dirinya bahwa mereka dapat mengalahkan bangsa Eropa.
    c. Nasionalisme Di Asia
    Pergerakan dan perjuangan bangsa-bangsa di Asia untuk menentang penjajahan turut menjadi salah satu faktor pendorong bangkitnya nasionalisme di Indonesia. Misalnya oleh India, Turki, Filipina (1896), dan Cina (1911)

    Faktor-faktor tersebut menyebabkan perkembangan nasionalisme Indonesia semakin meningkat. Pada awal abad 20, di Indonesia telah timbul rasa kesadaran terhadap situasi terbelakang yang di akibatkan kolonialisme dan tradisionalisme. Bangsa Indonesia sadar adanya ketidaksamaan hak (diskriminasi) antara bangsa penjajah dan bangsa terjajah. Posisi mereka yang terbelakang menimbulkan keinginan untuk maju, berpendidikan dan merdeka.

    Bahan Bacaan

    Sartono Kartodirjo.1990. Pengantar Sejarah Indonesia Baru: Sejarah Pergerakan Nasionalisme Dari Kolonialisme Sampai Nasionalisme Jilid II .Jakarta:Gramedia

    Marwati Djoned Pusponegoro.1984. Sejarah Nasional Indonesia Jilid IV.Jakarta:Balai Pustaka

    Slemet Mulyana.1986. Kesadaran Nasional: Dari Kolonialisme Sampai Kemerdekaan. Jakarta: Gramedia

    Sudibyo.2002. Pergerakan Nasional: Mencapai Dan Mempertahankan Kemerdekaan. Jakarta: Rineka Cipta

  • fitra gunawan sejarah 05' mengatakan:

    pak yok, ide anda dengan mengganti jumlah sks sejarah indonesia baru yang sedikit ini dengan memanfaat kan tekhnlogi sangat membantu kami dalam proses belajar…..thanks…..
    tapi saya kurang sependapat dengan anda dalam penyampaian kuliah di kelas yang terlalu banyak NGALOR-NGIDUL,kalau bisa lebih banyak fokus pada materi. NGALOR-NGIDUL sih boleh aja asal itu masih seputar materi perkulihn dan tidak banyak memakan jam perkulihan, bukannya kita hanya dibatasi cuma 2 sks saja sementara materi yang dibahas cukup banyak.walaupun kita sudah bisa melakukan belajar dengan cara seperti ini (via internet) tapi kami masih lebih butuh banyak penjelasan dari anda tentang materi perkulihan di kelas…..okey pak yok,sekali lagi terima kasih dengan adanya media seperti ini yang sangat membantu kami……sukses selalu buat anda dan terus berkarya “YOU NEVER WALK ALONE”…………wasalammmmmmmmm
    (oe_phiet@yahoo.co.id) fitra gunawan, mahasiswa sejarah angkatan 2005

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Indonesia Baru at Drs. SUDARTOYO.

meta

%d blogger menyukai ini: