BOM waktu SUN

17 Juni 2009 § Tinggalkan komentar

Rabu, 17 Juni 2009

kiriman dari : Teman Baik untuk direnungkan.

Pemerintahan Yudhoyono yang berada di bawah tekanan keras dari publik dan juga dari Mahkamah Konstitusi, akhirnya membuat komitmen untuk mengalokasikan 20% APBN 2009 untuk anggaran pendidikan sesuai ketentuan Pasal 31 ayat (4) Undang-Undang Dasar l945. Komitmen tersebut dinyatakan presiden dalam pidato kenegaraannya di Dewan Perwakilan Rakyat beberapa waktu lalu dalam menyambut HUT ke-63 Republik Indonesia. Para wakil rakyat yang hadir kontan memberikan aplaus. Di luar Gedung DPR/MPR, para pendidik dan mereka yang berkecimpung dalam dunia pendidikan pasti juga menyambut berita itu dengan penuh suka cita.

Namun, tidak banyak orang yang bertanya-tanya, bagaimana pemerintah mampu menganggarkan 20% belanjanya untuk sektor pendidikan? Dari mana uangnya? Sehari sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulani Indrawati menjawab pertanyaan wartawan dengan wajah masam, ia mengatakan bahwa konsekuensi dari 20% anggaran pendidikan adalah anggaran untuk sektor-sektor lain harus dipotong atau dananya dari penghematan dan tambah utang. Pokoknya harus dicari jalan keluarnya. Berbeda dengan jawaban menteri keuangan, Presiden dalam pidatonya mengemukakan, “Dengan perubahan asumsi (harga minyak) itu, anggaran subsidi bahan bakar minyak dan listrik juga mengalami penurunan sehingga akhirnya, alhamdulillah, anggaran pendidikan sebesar 20 % dapat dipenuhi, meskipun defisit anggaran harus dinaikkan sebesar Rp20 triliun atau menjadi 1,9% persen dari produk domestik bruto (PDB).”

Sekadar Anda ketahui, defisit APBN pada masa pemerintahan Yudhoyono dari tahun ke tahun mengalami kenaikan signifikan. Dalam APBN 2005 (anggaran tahun pertama Kabinet Indonesia Bersatu), defisit tercatat hanya 0,7% dari PDB atau sekitar Rp16,5 triliun. Setahun kemudian defisit jadi double 1,5%. Ketika RAPBN 2007 disusun, defisit diperkirakan turun menjadi 1,1% dengan nilai absolut Rp40,6 triliun. Namun, angka itu kemudian ‘disesuaikan’ menjadi 1,5% atau sama dengan defisit APBN 2006. Namun, nilai absolutnya meroket menjadi Rp58 triliun. Angka defisit anggaran belanja 2008 pun mengalami beberapa kali perubahan, akibat fluktuasi harga minyak di tingkat internasional yang benar-benar di luar perkiraan. Maka, dari APBN 2008, kita kenal APBN-P (Perubahan) 2008, dan APBN P-P (Perubahan atas Perubahan) 2008. Defisit akhirnya ditetapkan sekitar Rp110 triliun atau sekitar 2% dari PBD.

Defisit anggaran semakin membengkak karena 2 (dua) faktor utama. Pertama, pengeluaran terus meningkat tajam (sebagian akibat korupsi yang menggurita di semua strata). Kedua, penerimaan negara yang tersendat-sendat. Alhasil negara Indonesia, ibarat rumah tangga atau perusahaan dagang, sebenarnya dalam kondisi amat tidak sehat. Sebab, dari mana menutup defisit anggaran? Sebetulnya, banyak sumber bisa diupayakan. Sayangnya, para pemimpin (baca: menteri) Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) hanya memiliki satu solusi, yaitu dari utang! Beda rezim sekarang dengan rezim Soeharto. Kalau dulu defisit ditutup dengan utang luar negeri (khususnya IGGI dan Bank Dunia), kini Menteri Keuangan mencari solusinya dengan (1) mencetak surat utang negara (SUN) sebanyak-banyaknya, (2) privatisasi BUMN, dan (3) penjualan aset PPA (lembaga pengganti BPPN). Solusi kedua memang bukan gagasan orisinil pemerintah Yudhoyono. Penjualan BUMN kepada swasta asing sudah dilakukan sejak era pemerintahan Gus Dur dan mencapai puncaknya pada era Megawati. Penerbitan SUN pun sudah ada sejak era awal reformasi. Namun, pada pemerintahan SBY, instrumen SUN mencapai dinamika paling tinggi dengan ‘inovasi’ memukau dan jumlah yang amat memprihatinkan!

Induk daripada surat utang dinamakan surat berharga negara (SBN). SBN terdiri atas (a) SUN, (b) obligasi negara ritel (ORI), (c) surat perbendaharaan negara (SPN), (d) surat berharga syariah negara (SBSN) alias SUKUK. SUN sendiri dibagi dalam dua kategori, denominasi rupiah dan dolar. Kecuali dijual di dalam negeri dengan sasaran pembeli pihak perbankan, asuransi, dan lembaga keuangan lainnya, pemerintah juga mengejar investor asing dengan jualan langsung ke negara target. Pada awal 2007, misalnya, pemerintah berhasil menjual INDO-37 senilai US$1,5 miliar dengan tingkat bunga 8,75% dan tenggang waktu 30 tahun. Pertengahan Juni yang baru lalu, Menteri Keuangan Sri Mulani memimpin delegasi pemerintah RI ke New York untuk jualan. Hasilnya US$2,2 miliar melalui instrumen Indo-14 sebesar US$300 juta, Indo-18 US$900 juta, dan Indo-38 US$1 miliar. Direktur Jenderal Pengelolaan Utang Departemen Keuangan Rahmat Waluyanto menyatakan, keberhasilan kita melepas ‘Indo-Indo’ senilai US$2,2 miliar mencerminkan kepercayaan luar negeri terhadap perekonomian Indonesia.

Jelas ini berita yang sedikit menyesatkan. Asing berminat pada obligasi kita karena suku bunga yang tinggi dan mencekik. Indo-18 dan Indo-38 semula masing-masing dipatok dengan suku bunga 6,95% dan 7,74%. Kenapa akhirnya kita lepas dengan suku bunga 7,27% dan 8,154%? Karena, kita takluk pada tekanan si pembeli. Pada era Soeharto, tidak pernah utang pemerintah RI (G-to-G) dipatok dengan suku bunga demikian mencekik.

Bagaimana dengan SUN Rupiah?

Pada awal kepresidenan Yudhoyono, total utang Indonesia tercatat Rp1.282 triliun, terdiri atas utang rupiah Rp658 triliun, dan utang valuta asing Rp624 triliun. Pemerintah, secara teoritis, menyatakan tekadnya untuk mengurangi ketergantungan pada bantuan luar negeri. Bahkan sisa utang kepada IMF sebesar US$2 miliar pun akhirnya dilunaskan. Namun, di sisi lain, utang dalam negeri terus digenjot. Menurut catatan Chief Economist BNI Tony Prasetiantono, sampai akhir 2008 SUN akan tembus Rp939 triliun. Hal itu berarti dalam tempo empat tahun, pemerintahan Yudhoyono sudah berutang (dalam negeri) sebesar Rp281 triliun, atau sekitar US$31 miliar. Luar biasa!

Bayangkan, untuk menutup defisit angaran 2008 saja pemerintah harus mengeluarkan SUN senilai Rp117,7 triliun. Untuk menutup defisit RAPBN 2009, yang pasti akan jauh lebih membengkak karena untuk peningkatan anggaran pendidikan pemerintah mau tidak mau harus mencetak SUN lebih besar lagi, mungkin mendekati Rp125 triliun. Angka persisnya baru kelihatan pada semester ke-2 2009. Instrumen SUN yang tidak dikenal pada Orde Baru, sebenarnya sama bahayanya dengan utang luar negeri. Kenapa? Karena suku bunga yang tinggi–antara 10 dan 12,5%–dan jangka waktu pendek. Akibatnya, untuk beban bunga saja, APBN 2008 harus menyediakan bunga sekitar Rp100 triliun. Setiap tahun pemerintah harus buy-back SUN yang hampir jatuh tempo. Pemerintah tidak pernah melunasi secara tunai SUN yang jatuh tempo, tapi selalu dengan cara penukaran SUN yang jatuh tempo dengan seri baru yang dikeluarkan.

Masalahnya untuk menarik kembali SUN yang hampir jatuh tempo, pemerintah dipaksa menerbitkan SUN seri baru dengan nilai minimal 150% dari nilai SUN yang jatuh tempo. Selanjutnya, negara kita benar-benar dililit ‘gurita’ utang yang mengerikan! Pemerintah terus-menerus gali lubang tutup lubang. Bahkan untuk menutup satu lubang, pemerintah harus menggali lubang yang 1,5 kali lebih besar. Lalu, bagaimana generasi nanti membayar semua utang itu?

Enam tahun yang lalu, Sri Mulani Indrawati menjawab ‘tidak tahu’ atas pertanyaan itu kepada sebuah forum di Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) yang juga dihadiri penulis. Kini, pejabat yang sama amat aktif mencetak SUN dengan inovasi-inovasi yang canggih! Pemerintahan Yudhoyono rupanya amat terpengaruh pada teori bahwa kita tidak usah repot-repot memikirkan pelunasan utang dalam negeri, sebab utang itu bisa terus di- rollover selamanya. Jelas, teori itu sangat menyesatkan. Suatu ketika SUN yang dikeluarkan pemerintah akan kehilangan daya tariknya, bahkan menjadi bom waktu yang setiap saat bisa meledak, sebab publik akan ragu apakah pemerintah mempunyai kemampuan untuk melunasinya. Indikatornya sudah ada, hasil penjualan ORI Seri 005 hanya mencapai 40% dari target!***

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading BOM waktu SUN at Drs. SUDARTOYO.

meta

%d blogger menyukai ini: