Jangan Bohongi Rakyat

24 Juni 2009 § Tinggalkan komentar

DetikNews

Jakarta – Pemerintah diharap tidak membodohi dan meninabobokan rakyat dengan memberi informasi sepotong-potong menyangkut permasalahan utang. Demikian ditegaskan pengamat ekonomi Ichsanuddin Noorsy kepada sebuah media terbitan ibukota, belum lama ini.

“Pemerintah menyatakan bahwa rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) terus menurun; dari 52% menjadi 31%, dari 2004-2009. Hal ini memang benar, tetapi ini tidak mencerminkan kemampuan riil bangsa,” kata mantan anggota DPR dari Fraksi Golkar tersebut.

Kenapa demikian? Tak lain, karena dalam penghitungan PDB dimasukkan kegiatan-kegiatan barang dan jasa oleh perusahaan-perusahaan asing di Indonesia. “Liberalisasi ugal-ugalan di sektor barang, jasa dan keuangan yang dilaksanakan pemerintah dalam lima tahun terakhir sudah pasti memberikan kontribusi signifikan bagi pertumbuhan PDB,” tandas Ichsan.

Menurut dia, yang lebih mencerminkan kemampuan ekonomi nasional adalah membandingkan rasio utang dengan Produk Nasional Bruto (PNB). Pasalnya, penghitungan PNB tidak memasukkan komponen perusahaan-perusahaan asing.

Kenyataannya, tambah Ichsan, jika yang dibandingkan adalah PNB, maka yang terjadi justru negatif: modal dan jasa yang keluar lebih besar dibandingkan dengan yang masuk ke Indonesia. Ini menunjukkan, Indonesia merupakan negara paling kondusif bagi pengisapan negara-negara lain.

Karena itulah – tak mengherankan – meski PDB naik, tapi kehidupan masyarakat dalam kurun lima tahun terakhir tidak mengalami perbaikan yang berarti.

Utang Terus Naik

Sementara itu, dalam diskusi terbatas dengan wartawan di sekretariat Mega-Prabowo Media Centre di Jln. Prapanca Raya Jakarta belum lama ini, Direktur Mega Instritute, Dr. Arif Budimanta, menyatakan bahwa dalam kurun empat tahun terakhir, utang pemerintah bertambah sekitar 400 triliun, hingga keseluruhannya mencapai sekitar Rp 1.700 triliun.

Artinya, tambah Arif, setiap tahun utang pemerintah mengalami kenaikan sekitar Rp 100 triliun. “Kenaikan tersebut merupakan rekor tertinggi dalam sejarah Indonesia,” katanya. Dengan jumlah utang yang demikian besar maka setiap penduduk Indonesia harus menanggung utang sekitar Rp 7,6 juta, termasuk bayi yang baru lahir. Sementara di era Mega hanya sekitar Rp 5,5 juta.

Sebagai perbandingan, dalam kurun waktu 32 tahun pemerintahan Orde Baru, jumlah utang sebesar Rp 1.500 triliun atau hanya meningkat sekitar Rp 47 triliun per tahun. Di era pemerintahan Megawati selama 3.5 tahun, utang cuma meningkat Rp 12 triliun – atau Rp 4 triliun per tahun. “Sementara empat tahun terakhir per tahunnya bertambah sekitar 100 triliun,” katanya. (adv/adv)

Tagged: , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Jangan Bohongi Rakyat at Drs. SUDARTOYO.

meta

%d blogger menyukai ini: